Minggu, 08 Februari 2015

MENDOAN



 
“Mendoan maning, mendoan maning. Mamake apa ra bosen. Apa iya aku arep urip selawase karo mendoan?”
Aku masih teringat kapan kalimat itu kuucap. Bahkan bila kau tanyakan tanggal dan jam berapa aku pasti akan menjawabnya.
Saat itu, tepat seminggu setelah hari kelulusan SMAku. Saat kemarau mulai merajai wilayah Purbalingga. Dibulan Juli, dimana bulan itu juga bulan kelahiranku. Sama seperti matahari yang sedang bersemangat diatas langit, hatiku pun bersemangat karena aku berhasil masuk dalam Universitas incaranku.
“Mumpung esih nang kene, ngko nek wis nang kana langka sing dodol mendoan kaya kiye” sanggah emakku yang mulai tua
Bukannya aku tak bersyukur pada apa yang ada. Sebagai anak dari keluarga kurang beruntung aku selalu diajari untuk selalu bersyukur. Kata emakku masih banyak anak diluar sana yang jauh lebih kasihan dariku. Lihatlah korban tsunami, korban perang yang sudah tak punya rumah bahkan ayah dan ibu.
“Lan, ngesuk ko mangkat, ngati-ngati nang dalan, nang kana kudu priatin, aja gawe susah Lik Tarno, sholat aja kelalen”
Buyar gambaran mendoan dan nasi dipiring. Tempe berselimut tepung itu tertutup oleh air mataku. Aku semakin menduduk saat emak mengucapkan nasihatnya. Aku tak berani mengangkat muka, bersuara pun tidak. Aku menahan tangis dalam diam dan tundukan kepala.
***
Aku benci melihat mendoan. Sebagai anak penjual mendoan dan nasi rames aku harus melihatnya setiap hari. Mau tak mau aku pun harus bergulat dengan tempe, tepung, daun bawang dan bumbu lainnya. Saat  lulus SD aku sudah hapal diluar kepala berapa takaran yang pas untuk membuat mendoan. Saat  lulus SMP aku memasukan mendoan dalam daftar makanan yang tak kusuka. Saat lulus SMA aku makin berharap tak pernah lagi melihat mendoan.
Ada sebuah kalimat matematika yang dulu kupelajari di SMP. Awalnya dari dua kalimat. Pertama : aku membenci mendoan. Kedua : aku belajar dengan giat agar bisa kuliah. Kenapa seperti itu? Aku selalu berharap nantinya seorang sarjana akan mendapat pekerjaan yang baik. Tidak seperti emakku yang hanya lulusan SD dan mendapat pekerjaan sebagai penjual mendoan dan nasi rames. ‘Aku membenci mendoan maka aku belajar dengan giat agar bisa kuliah’ itulah kalimat favoritku.
“Mak, nang ngapa dodol mendoan, kan mbiyen bisa mlebu PT rambut kaya bu Irah” pernah kutanyakan disuatu pagi
“Lha aku ra senang nang PT, diomehi terus nang mistere. Dela dela salah, kaya kiye salah, digawe kaya kae esih diumpa-umpa” jawabnya sambil memasukkan irisan daun bawang dalam adonan mendoan.
“Mulane ko kudu sinau sing bener, aja mung hapean, apa maning pacaran. Lagi mangsane sinau ya sinau, sekolah sing duwur ben bisa olih gawean sing kepenak.”
Suara tempe berbalut adonan masuk dalam minyak yang panas kini membaur dalam ruangan tempat berjualan. Sebuah nasihat yang biasa kudengar terlontar bersama kegiatan yang biasa kujalani. Dalam hati pun semakin menguat, aku tidak mau hidup bersama mendoan-mendoan ini.
***
Karena itu aku memilih Jogja, kota dimana tak kutemui mendoan lagi. Meski ada gorengan tempe dikota ini. Namun makanan ini sangat berbeda dengan mendoan yang dijual emakku. Disini panganan itu digoreng lebih lama dan menyebabkan rasanya lebih garing.
Bila diselidiki dari arti katanya, mendoan itu berasal dari kata mendo yang berarti setengah matang. Memang sengaja digoreng setengah matang dimana tempe berbalut adonan itu belum memasuki tahap kering, crispy atau garing.
Tempe lentreng yang tipis dicelupkan dalam adonan tepung terigu, tepung beras, daun bawang dan bumbu halus (terdiri dari bawang putih, ketumbar, garam) serta air agar semua tercampur rata. Tempe akan digoreng saat minyak yang banyak dalam wajan benar-benar sudah panas. Biasanya tempe diletakkan dipinggir wajan persis diatas minyak, bukan langsung dimasukan kedalam minyak. Dengan perlahan tempe mulai dimasukkan dalam genangan minyak dan digoreng hingga setengah matang.
Hingga aku hampir lulus dari kuliah informatika ini aku belum pernah mendapatkan sebuah warung yang menjual mendoan di Jogja. Yang sering kutemui hanyalah gorengan tempe yang mirip dengan mendoan.
Aku menyadari karena lama tidak bertemu terkadang aku ingin memakan sepotong mendoan. Dan kian hari, rasa kebencianku mulai terkikis dan kini tergantikan rasa rindu. Mungkinkah rasa benci berubah menjadi rasa cinta? Tanyakan itu pada para pujangga saja.
***
Terlambat.
Kereta yang seharusnya sudah membawaku pulang ke Purbalingga terlambat dua jam. Penyebabnya adanya kecelakaan mobil yang nekad melintas direl kereta dan akhirnya tersambar kereta yang lewat.
Terlambat.
Waktu dua jam yang tersia-sia menyebabkan aku terlambat pulang. Sungguh keterlambatan yang tak pernah kuinginkan.
***
“Lan, posisi lagi nang ngendi. Jere arep bali siki?” pertanyaan dari Mas Rio langsung terdengar begitu hpku kunyalakan.
“Iya mas, ini masih dijalan, setengah jam lagi nyampe stasiun. Tumben telpon, mau dijemput ya?” jawabku sambil tersenyum senang.
“Oke tak jemput distasiun.” Klik. Telepon disebrang sana ditutup. Tanpa penjelasan lebih lanjut. Tanpa firasat apapun. Hanya ada kerinduan terhadap mendoan emak yang dulu kubenci.
Aku memang tak begitu merindukan emak. Karena seminggu yang lalu, beliau telah datang ke Jogja untuk menghadiri wisudaku. Aku tak bisa pulang bersama emak, karena harus mengurus ini itu dulu. Nah baru hari ini aku pulang setelah 4 tahun menempuh kuliah di kota Budaya tersebut.
Dalam acara wisuda Emak makin terlihat berumur. Garis-garis tipis semakin jelas terlihat diwajahnya, belum lagi rambutnya yang beruban. Badannya mulai menyusut, terlihat semakin kurus saja emakku itu. Meski ia masih bertenaga sama seperti dulu. Sungguh waktu 4 tahun telah menjauhkanku dari proses kehidupan emak.
***
Kartini. 54tahun. Kaligondang, RT08/II. Serangan Jantung.
Kata-kata itulah kini masih saja kubaca. Formulir resmi dari rumah sakit masih tergenggam erat ditanganku yang mulai gemetar. Seakan ada gempa hebat dalam duniaku, kurasakan goncangan yang luar biasa. Seakan langit runtuh, kurasakan duniaku mulai porak poranda. Tak kutemukan lagi alasan untuk tak mengeluarkan air mata. Semakin lama semakin deras tak terkendali.
Entah butuh berapa menit aku bisa merasakan sekelilingku. Perlahan kurasakan Mas Rio mengelus rambutku. Perlahan pula kutemukan diriku yang kini masih dalam mobil Mas Rio. Entah apa yang dikatakannya, aku tak mampu mendengarnya dengan jelas. Yang jelas ia menjemputku di stasiun dan memberikan kejutan yang tak pernah kubayangkan.
Serangan jantung. Dari pernyataan Mas Rio yang kebetulan perawat, dapat disimpulkan bahwa emak sudah menderita sakit jantung. Namun dia tak menyadari dan menganggapnya sekedar masuk angin biasa. Hanya itu yang bisa kuterima. Sementara Mas Rio menjelaskan apa itu angin duduk dan tetek bengeknya aku sibuk menjelaskan pada hatiku kejadian macam apa ini.
“Emak sangat bangga padamu Lan. Kemarin saat aku bertemu dengan emakmu dia terlihat sangat senang. Sebentar lagi anak semata wayangnya yang sudah lulus kuliah akan pulang” cerita Mas Rio “Ia juga berkata kalau kau sudah merindukan mendoan buatannya” Kulihat Mas Rio mencoba untuk tersenyum, namun yang ada hanya sebuah lengkungan bibir yang dipaksakan.
‘Lupakan soal mendoan mas, emakku lebih kurindukan saat ini’ teriak hatiku. Namun sayang teriakan itu hanya menggema dalam pikiranku.
***
“Sengaja dilewihi ngo ko Lan” kata Ni Kani menyorongkan sepiring mendoan.
Pemakaman sudah selesai dua jam lalu. Para pelayat perlahan berkurang. Kalau pun ada hanya sanak saudara atau teman dekat emak. Mungkin juga karena gerimis, menjadikan para tetangga yang jauh menunda takziahnya. Gerimis hari ini, tepat diawal bulan Oktober sepertinya menyiratkan suasana hari ini.
Ni Kani, nenek berumur 80 tahun yang masih setia membantu Emak. Rumahnya persis didepan rumahku, selain itu dia juga tinggal sebatang kara. Ni Kani menceritakan kejadiannya secara lengkap. Dari mulai pagi tadi, saat emakku seperti biasanya menggoreng dan melayani para pembeli. Hingga celoteh emakku tentang aku, Wulan anak semata wayangnya akan pulang hari ini. Hingga kemudian ia merasakan sakit didadanya.
“Kabeh wis ana sing ngatur Lan. Pati urip rahasiane Gusti Allah. Manungsa mung bisa nglakoni apa sing wis digarisna” suara Ni Kani terdengar lirih namun teramat menggetarkan hatiku.
Tak kudengar lagi kelanjutan ucapan Ni Kani. Meski aku hanya sedang menatap sepiring mendoan itu. Namun telinga dan pikiranku tak berada disamping Ni Kani. Aku terlalu sibuk dengan kenangan yang semakin bermunculan. Kenangan tentang aku, emak dan mendoan. Dan air mata yang mulai mengaburkan sepiring mendoan itu.
Kulihat ada 5 mendoan yang tertumpuk dalam piring didepanku. Tempe lentreng berbalut tepung dan daun bawang. Lengkap dengan cabai rawit yang hijau sebagai pendampingnya. Mendoan khas emakku yang selama ini kurindukan.
“Mendoan maning, mendoan maning” terdengar olehku suaraku sendiri. Sementara masih kulihat diatas piring, mendoan-mendoan itu perlahan bangkit, melambai-lambai padaku seakan memanggil. Mendoan yang dulu kubenci namun kini kurindukan. Mendoan yang telah menghidupiku hingga bisa kuliah. Mendoan itu semakin mengejekku yang semakin tenggelam dalam isak tangis.

**TAMAT**

Cerpen ini juga dikirimkan untuk mendaftar Kelas Menulis Purbalingga Angkatan V.  Yang gak paham bahasa ngapak Purbalingga silahkan ditanyakan pada Mbah Google..


Tidak ada komentar:

Posting Komentar