Tampilkan postingan dengan label cerpan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 Februari 2015

MENDOAN



 
“Mendoan maning, mendoan maning. Mamake apa ra bosen. Apa iya aku arep urip selawase karo mendoan?”
Aku masih teringat kapan kalimat itu kuucap. Bahkan bila kau tanyakan tanggal dan jam berapa aku pasti akan menjawabnya.
Saat itu, tepat seminggu setelah hari kelulusan SMAku. Saat kemarau mulai merajai wilayah Purbalingga. Dibulan Juli, dimana bulan itu juga bulan kelahiranku. Sama seperti matahari yang sedang bersemangat diatas langit, hatiku pun bersemangat karena aku berhasil masuk dalam Universitas incaranku.
“Mumpung esih nang kene, ngko nek wis nang kana langka sing dodol mendoan kaya kiye” sanggah emakku yang mulai tua
Bukannya aku tak bersyukur pada apa yang ada. Sebagai anak dari keluarga kurang beruntung aku selalu diajari untuk selalu bersyukur. Kata emakku masih banyak anak diluar sana yang jauh lebih kasihan dariku. Lihatlah korban tsunami, korban perang yang sudah tak punya rumah bahkan ayah dan ibu.
“Lan, ngesuk ko mangkat, ngati-ngati nang dalan, nang kana kudu priatin, aja gawe susah Lik Tarno, sholat aja kelalen”
Buyar gambaran mendoan dan nasi dipiring. Tempe berselimut tepung itu tertutup oleh air mataku. Aku semakin menduduk saat emak mengucapkan nasihatnya. Aku tak berani mengangkat muka, bersuara pun tidak. Aku menahan tangis dalam diam dan tundukan kepala.
***
Aku benci melihat mendoan. Sebagai anak penjual mendoan dan nasi rames aku harus melihatnya setiap hari. Mau tak mau aku pun harus bergulat dengan tempe, tepung, daun bawang dan bumbu lainnya. Saat  lulus SD aku sudah hapal diluar kepala berapa takaran yang pas untuk membuat mendoan. Saat  lulus SMP aku memasukan mendoan dalam daftar makanan yang tak kusuka. Saat lulus SMA aku makin berharap tak pernah lagi melihat mendoan.
Ada sebuah kalimat matematika yang dulu kupelajari di SMP. Awalnya dari dua kalimat. Pertama : aku membenci mendoan. Kedua : aku belajar dengan giat agar bisa kuliah. Kenapa seperti itu? Aku selalu berharap nantinya seorang sarjana akan mendapat pekerjaan yang baik. Tidak seperti emakku yang hanya lulusan SD dan mendapat pekerjaan sebagai penjual mendoan dan nasi rames. ‘Aku membenci mendoan maka aku belajar dengan giat agar bisa kuliah’ itulah kalimat favoritku.
“Mak, nang ngapa dodol mendoan, kan mbiyen bisa mlebu PT rambut kaya bu Irah” pernah kutanyakan disuatu pagi
“Lha aku ra senang nang PT, diomehi terus nang mistere. Dela dela salah, kaya kiye salah, digawe kaya kae esih diumpa-umpa” jawabnya sambil memasukkan irisan daun bawang dalam adonan mendoan.
“Mulane ko kudu sinau sing bener, aja mung hapean, apa maning pacaran. Lagi mangsane sinau ya sinau, sekolah sing duwur ben bisa olih gawean sing kepenak.”
Suara tempe berbalut adonan masuk dalam minyak yang panas kini membaur dalam ruangan tempat berjualan. Sebuah nasihat yang biasa kudengar terlontar bersama kegiatan yang biasa kujalani. Dalam hati pun semakin menguat, aku tidak mau hidup bersama mendoan-mendoan ini.
***
Karena itu aku memilih Jogja, kota dimana tak kutemui mendoan lagi. Meski ada gorengan tempe dikota ini. Namun makanan ini sangat berbeda dengan mendoan yang dijual emakku. Disini panganan itu digoreng lebih lama dan menyebabkan rasanya lebih garing.
Bila diselidiki dari arti katanya, mendoan itu berasal dari kata mendo yang berarti setengah matang. Memang sengaja digoreng setengah matang dimana tempe berbalut adonan itu belum memasuki tahap kering, crispy atau garing.
Tempe lentreng yang tipis dicelupkan dalam adonan tepung terigu, tepung beras, daun bawang dan bumbu halus (terdiri dari bawang putih, ketumbar, garam) serta air agar semua tercampur rata. Tempe akan digoreng saat minyak yang banyak dalam wajan benar-benar sudah panas. Biasanya tempe diletakkan dipinggir wajan persis diatas minyak, bukan langsung dimasukan kedalam minyak. Dengan perlahan tempe mulai dimasukkan dalam genangan minyak dan digoreng hingga setengah matang.
Hingga aku hampir lulus dari kuliah informatika ini aku belum pernah mendapatkan sebuah warung yang menjual mendoan di Jogja. Yang sering kutemui hanyalah gorengan tempe yang mirip dengan mendoan.
Aku menyadari karena lama tidak bertemu terkadang aku ingin memakan sepotong mendoan. Dan kian hari, rasa kebencianku mulai terkikis dan kini tergantikan rasa rindu. Mungkinkah rasa benci berubah menjadi rasa cinta? Tanyakan itu pada para pujangga saja.
***
Terlambat.
Kereta yang seharusnya sudah membawaku pulang ke Purbalingga terlambat dua jam. Penyebabnya adanya kecelakaan mobil yang nekad melintas direl kereta dan akhirnya tersambar kereta yang lewat.
Terlambat.
Waktu dua jam yang tersia-sia menyebabkan aku terlambat pulang. Sungguh keterlambatan yang tak pernah kuinginkan.
***
“Lan, posisi lagi nang ngendi. Jere arep bali siki?” pertanyaan dari Mas Rio langsung terdengar begitu hpku kunyalakan.
“Iya mas, ini masih dijalan, setengah jam lagi nyampe stasiun. Tumben telpon, mau dijemput ya?” jawabku sambil tersenyum senang.
“Oke tak jemput distasiun.” Klik. Telepon disebrang sana ditutup. Tanpa penjelasan lebih lanjut. Tanpa firasat apapun. Hanya ada kerinduan terhadap mendoan emak yang dulu kubenci.
Aku memang tak begitu merindukan emak. Karena seminggu yang lalu, beliau telah datang ke Jogja untuk menghadiri wisudaku. Aku tak bisa pulang bersama emak, karena harus mengurus ini itu dulu. Nah baru hari ini aku pulang setelah 4 tahun menempuh kuliah di kota Budaya tersebut.
Dalam acara wisuda Emak makin terlihat berumur. Garis-garis tipis semakin jelas terlihat diwajahnya, belum lagi rambutnya yang beruban. Badannya mulai menyusut, terlihat semakin kurus saja emakku itu. Meski ia masih bertenaga sama seperti dulu. Sungguh waktu 4 tahun telah menjauhkanku dari proses kehidupan emak.
***
Kartini. 54tahun. Kaligondang, RT08/II. Serangan Jantung.
Kata-kata itulah kini masih saja kubaca. Formulir resmi dari rumah sakit masih tergenggam erat ditanganku yang mulai gemetar. Seakan ada gempa hebat dalam duniaku, kurasakan goncangan yang luar biasa. Seakan langit runtuh, kurasakan duniaku mulai porak poranda. Tak kutemukan lagi alasan untuk tak mengeluarkan air mata. Semakin lama semakin deras tak terkendali.
Entah butuh berapa menit aku bisa merasakan sekelilingku. Perlahan kurasakan Mas Rio mengelus rambutku. Perlahan pula kutemukan diriku yang kini masih dalam mobil Mas Rio. Entah apa yang dikatakannya, aku tak mampu mendengarnya dengan jelas. Yang jelas ia menjemputku di stasiun dan memberikan kejutan yang tak pernah kubayangkan.
Serangan jantung. Dari pernyataan Mas Rio yang kebetulan perawat, dapat disimpulkan bahwa emak sudah menderita sakit jantung. Namun dia tak menyadari dan menganggapnya sekedar masuk angin biasa. Hanya itu yang bisa kuterima. Sementara Mas Rio menjelaskan apa itu angin duduk dan tetek bengeknya aku sibuk menjelaskan pada hatiku kejadian macam apa ini.
“Emak sangat bangga padamu Lan. Kemarin saat aku bertemu dengan emakmu dia terlihat sangat senang. Sebentar lagi anak semata wayangnya yang sudah lulus kuliah akan pulang” cerita Mas Rio “Ia juga berkata kalau kau sudah merindukan mendoan buatannya” Kulihat Mas Rio mencoba untuk tersenyum, namun yang ada hanya sebuah lengkungan bibir yang dipaksakan.
‘Lupakan soal mendoan mas, emakku lebih kurindukan saat ini’ teriak hatiku. Namun sayang teriakan itu hanya menggema dalam pikiranku.
***
“Sengaja dilewihi ngo ko Lan” kata Ni Kani menyorongkan sepiring mendoan.
Pemakaman sudah selesai dua jam lalu. Para pelayat perlahan berkurang. Kalau pun ada hanya sanak saudara atau teman dekat emak. Mungkin juga karena gerimis, menjadikan para tetangga yang jauh menunda takziahnya. Gerimis hari ini, tepat diawal bulan Oktober sepertinya menyiratkan suasana hari ini.
Ni Kani, nenek berumur 80 tahun yang masih setia membantu Emak. Rumahnya persis didepan rumahku, selain itu dia juga tinggal sebatang kara. Ni Kani menceritakan kejadiannya secara lengkap. Dari mulai pagi tadi, saat emakku seperti biasanya menggoreng dan melayani para pembeli. Hingga celoteh emakku tentang aku, Wulan anak semata wayangnya akan pulang hari ini. Hingga kemudian ia merasakan sakit didadanya.
“Kabeh wis ana sing ngatur Lan. Pati urip rahasiane Gusti Allah. Manungsa mung bisa nglakoni apa sing wis digarisna” suara Ni Kani terdengar lirih namun teramat menggetarkan hatiku.
Tak kudengar lagi kelanjutan ucapan Ni Kani. Meski aku hanya sedang menatap sepiring mendoan itu. Namun telinga dan pikiranku tak berada disamping Ni Kani. Aku terlalu sibuk dengan kenangan yang semakin bermunculan. Kenangan tentang aku, emak dan mendoan. Dan air mata yang mulai mengaburkan sepiring mendoan itu.
Kulihat ada 5 mendoan yang tertumpuk dalam piring didepanku. Tempe lentreng berbalut tepung dan daun bawang. Lengkap dengan cabai rawit yang hijau sebagai pendampingnya. Mendoan khas emakku yang selama ini kurindukan.
“Mendoan maning, mendoan maning” terdengar olehku suaraku sendiri. Sementara masih kulihat diatas piring, mendoan-mendoan itu perlahan bangkit, melambai-lambai padaku seakan memanggil. Mendoan yang dulu kubenci namun kini kurindukan. Mendoan yang telah menghidupiku hingga bisa kuliah. Mendoan itu semakin mengejekku yang semakin tenggelam dalam isak tangis.

**TAMAT**

Cerpen ini juga dikirimkan untuk mendaftar Kelas Menulis Purbalingga Angkatan V.  Yang gak paham bahasa ngapak Purbalingga silahkan ditanyakan pada Mbah Google..


Minggu, 30 Maret 2014

Undangan Tanpa Nama#5

"yang penting jangan guru olahraga mba" kataku pada mba Intan
"padahal guru olahraga disekolahku lagi cari pendamping" sahut mas Rama "buat istri kedua, mau ngak tang???"
Belum sempat kujawab sudah terdengar suara tawa dari mba Intan dan mas Rama. 'ah, dasar mereka, sekarang aku malah jadi bahan candaan' kataku dalam hati.
"bini muda tang" kata mba Intan menyuapkan nasi terakhirnya
"kalo jadi istri mudanya mas Rama sih ngak papa" kataku dibuat sesantai mungkin
Terlihat raut muka mba Intan langsung berubah serius, diselesaikannya kunyahan itu dengan cepat dihabiskannya sisa jus jeruk didepannya. Sementara mas Rama pun langsung berubah terdiam setelah tadi masih saja tertawa akan candaannya.
"yakin tang, " tanya mas Rama serius
"menurut mas Rama, boleh ngak mba berbagi mas Ramanya" kataku menatap mba Intan yang masih diam "becanda kali mba..." lanjutku
"serius juga ngak papa tang" kata mas Rama akhirnya tertawa
"sory ya, mas Rama ngak masuk kriteria... " kataku melanjutkan "lagian mana mungkin aku kepincut sama pasangan sahabat aku sendiri" kataku menatap mba Intan lagi
"sebenernya Rama juga ngak masuk kategoriku tang" kata mba Intan menatap mas Rama tajam
"terus kok masih bertahan sampe sekarang?" tanyaku penasaran
"kayaknya dia pake guna - guna deh tang," selorohnya.
"mungkin mba, mungkin coklat waktu itu dikasih jimat mba" lanjutku
"terus situ becandanya.. ngak tahu apa aku ini kan aktivis masjid" bela mas Rama yang tak mau dijadikan bahan candaan.
Aku tahu semua ini menyenangkan, kembali pada rutinitas kerja yang padat bahkan sangat menyita waktu. Segala peralihan ini haruslah segera kujalani, demi sebuah rasa yang tak mungkin terus berada didalam hati ini .Rasa kehilangan Anjar, kekasih yang kunanti dan sekarang menjadi milik orang lain haruslah secepatnya kulepaskan dari hidupku, rasa rindu yang mendalam harus segera kuhapuskan. Dan kerja, kerja dan kerja adalah pelarian yang paling tepat saat ini..****
Hampir bosan aku menunggu, sudah hampir satu jam aku menunggu motorku yang sedang dicuci. Gara - gara hujan kemarin sore, motorku yang berwarna biru muda terlihat sangat kotor, ditambah rasaku sedang malas untuk membersihkannya sendiri jadilah sekarang aku berada di tempat ini. Sendirian di kafe yang belum buka sama sekali, sementara mataku sibuk menatap tukang cuci motor yang sedang sibuk bekerja. 'Kenapa tidak datang nanti sore, kan kafenya sudah buka dan pastinya ramai' umpatku dalam hati.
"bensin mas" terdengar suara yang membuyarkan lamunanku
"bisa nunggu bentar gak, orangnya lagi ke belakang, aku lagi nanggung" kata tukang cuci motor "tunggu aja disitu" tunjuknya ke arah kursi depan kafe, tempatku berada.
"ngak lama kan mas" katanya sambil berjalan ke arahku
Sementara langkahnya semakin dekat, aku semakin menyibukkan diri pada hpku, semakin menenggelamkan diri pada dunia maya. Saat ia sudah duduk di ujung kursi panjang itu, kusempatkan untuk melihat kearahnya. 'lumayan' hatiku berkata. Dan kukembalikan lagi fokusku pada layar hp yang merupakan benda mati.
"udah lama mba" tanyanya membuka percakapan.
"lumayan, sampe satu botol habis" tunjukku pada botol minuman di sampingku.
"mba udah selesai nih" teriak tukang motor itu
"akhirnya.." kataku
"yah, gak bisa kenalan deh" kata laki - laki itu
"mungkin lain kali, kalau kita ketemu" jawabku sambil memasukkan hp dalam dompet dan melempar botol minuman ketempat sampah.
"besok, disini, jam 4 sore" katanya serius
"pertemuan yang gak disengaja" lanjutku melangkah kaki meninggalkannya.
Entah apa yang sekarang ia perbuat, tak lagi kubalikkan badan untuk melihatnya. Langkahku hanya tertuju pada motorku yang sudah terlihat bersih dan langsung kubayar atas jasa tukang cuci motor tersebut. Demikian pula saat kutinggalkan tempat ini, tak lagi kulihat seseorang yang mencoba untuk mendekatiku. Hatiku seakan belum siap untuk membuka lembaran kisah yang baru, padahal itu adalah sebuah kesempatan untuk melupakan tentang Anjar. Mungkin lain kali, ketika pertemuan yang tak disengaja lagi, saat bertemu entah dimana, entah kapan, entah dalam situasi seperti apa. Dan entahlah apakah kami akan bertemu lagi..
Sekarang, saat matahari sudah berada ditengah langit, memancarkan cahayanya dengan sempurna. Dapat kurasakan sengatan matahari yang terasa panas di atas kulit, dan kurasakan butiran debu dan pasir yang terbawa angin tersapu oleh kendaraan menyentuh kulit. Namun ditengah panasnya matahari ini masih saja puluhan kendaraan hilir mudik memadati jalan yang panjang. Beberapa penjual es buah dan es dawet kujumpai dalam perjalanan ini, terlihat mereka tengah sibuk melayani para pembeli. Ditengah panas dunia ini masih saja kutemukan sedikit rejeki tentang kehidupan.
Dan melalui jalan panjang ini, telah kumantapkan hatiku untuk menutup cerita tentang Anjar, tentang masa lalu yang tak mungkin lagi bisa kembali. Sekarang saatnya aku menjalani hari yang baru, dan mulai sekarang aku akan menanti kembali. Kembali menanti seseorang yang dapat menggetarkan hati, menanti seorang pangeran dari negeri antah berantah yang entah kapan datangya.. I was waiting for you... my heart..

#Ada sedikit insipirasi jadi ditulis kelanjutannya nih,, semoga besok - besok bisa nulis lagi,, terima kasih sudah membaca...

Rabu, 22 Januari 2014

Balada Buruh Rambut #2


"Lan, wis krungu Ani pegatan" (Lan, sudah dengar Ani cerai) kata Ria.
Aku hanya mengangguk, menghabiskan pecel yang tinggal beberapa sendok lagi. Aku paling tak suka bila ditengah makan membicarakan sesuatu, apalagi hal tersebut adalah membicarakan orang lain,
Suasana kantin pabrik rambut terlihat masih ramai, padahal ini sudah setengah jam dari waktu istirahat. Dideretan pedagang pun masih ramai para buruh yang mengantri dilayani, ada yang ingin baso, mendoan, nasi rames, atau sekedar es teh. Tak hanya para pedagang yang sibuk, para buruh pabrik pun tengah sibuk menikmati istirahatnya, dari pagi hingga siang tenaganya tercurah untuk pekerjaan dan kini waktunya untuk merenggangkan otot dan pikiran. Dideratan bangku panjang penuh terduduki oleh para buruh yang lahap menikmati makan siangnya. 
"iya Ri, anake Ani nembe TK kan?" (iya Ri, anaknya Ani baru TK kan) tanyaku setelah selesai menghabiskan es teh manis.
"krungu - krungu sih, Ani njaluk pegat gara - gara bojone ra ngode,," (dengar-dengar sih, Ani minta cerai gara - gara suaminya tidak bekerja) lanjut Ria
"halah dasar Anine bae sing aleman,, wis syukur bojone gelem momong anake" (halah dasar Aninya saja yang manja, sudah bersyukur suaminya mau mengasuh anaknya mba Siti akhirnya ikut bicara "jaman siki pancen wong wadon sing ngolet duit" (jaman sekarang memang perempuan yang cari uang)
"kan kawinne merga meteng disit mba" (kan menikahnya juga karena hamil dulu mba) Ria menambah obrolan makin tak jelas
"sekomplek dadi ko ngerti ya Ri"( satu komplek jadi kamu ngerti ya Ri) tanyaku "emang bocaeh cenal - cenil apa?" (memang anaknya genit apa)
"ra sekomplek maning, se kelas malah, nembe tryout ujian kewenangan meteng, marekna geger sekolah" (tidak sekomplek lagi, satu kelas malah, baru tryout ujian sudah ketahuan hamil, menyebabkan ribut sekolah) terang Ria
"tapi kan nek cere melasi anake" (tapi kan kalau cerai kasian anaknya) ucap mba Siti
"ya nek pikirane Ani esi waras ta iya mba" (ya kalau pikirannya Ani masih sehat ya iya mba) kataku "ngesuk - ngesuke melasi anake,, weruh kancane due bapak ibu sing rukun deweke mung karo bapake apa karo ibune tok" (besok- besoknya kasian anaknya, liat temannya punya bapak ibu yang rukun, dirinya hanya bersama bapaknya atau hanya ibunya saja )
"tapi piwe maning wong wis ra cinta,, "(tapi gimana lagi orang sudah tak cinta) kata Ria 
"puyeng ngurusi wong liya, ngurus awake dewek be kadang bingung" (pusing ngurusi orang lain, mengurus diri sendiri saja terkadang bingung) mengakhiri pembicaraan ini
"bener kue Lan, "(betul itu Lan) kata mba Siti sambil menghabiskan sisa es tehnya. "mulane kue Ria, Wulan,, nek mbojo aja kesusu, aja gampang kena goda, wong mbojo kue ra kepenak ngole nglakoni" (makanya itu Ria, Wulan,, kalau menikah jangan terburu - buru jangan gampang terkena godaan, orang menikah itu tidak mudah untuk menjalani) nasihat mba Siti panjang
"njenengan juga iya mbok,, kayane nek wis mbojo juga akeh godaane,, sing selingkuh lha, masalah ekonomi.... (kamu juga kan, kayaknya kalau sudah menikah juga banyak godaannya, yang selingkuh lah, masalah ekonomi.)
"tumben pinter " kataku memotong ucapan Ria "hehehe..
"aku emang dasare pinter Lan" (aku memang dasar pinter Lan) kata Ria sombong
"pinter ngapusi" (pinter berbohong) kata mba Siti sambil berdiri "wis lah aku rep ming ruangan,," (sudah lah aku mau keruangan)
"percaya kan Lan aku pinter" kata Ria menatapaku tajam
Aku hanya tersenyum mendengar perkataan Ria, dia teman bahkan sahabat dipabrik ini. Meski usianya terpaut dua tahun lebih tua dari aku tapi kami tetaplah sepasang teman yang saling mengisi. Terkadang sikapnya yang cuek menjadi contoh bagiku untuk cuek juga menghadapi omongan orang lain. Tak jarang pula sikapnya yang suka menghibur membuatku lupa akan masalah yang sedang dihadapi. Bagiku Ria adalah teman yang tak akan mungkin tergantikan.. 
"Lan,,," dia memanggil lagi namaku ketika melihat aku mulai berdiri 
"mungkin" jawabku singkat kemudian melangkah meninggalkan Ria yang belum juga beranjak
"Wulaaan" katanya lagi
Tak lagi kudengar suara Ria karena aku sudah ditengah - tengah buruh pabrik yang mulai meninggalkan kantin. Jam istirahat tinggalah lima menit, dan itu artinya sudah tidak ada lagi waktu untuk bersantai - santai lagi. Lorong panjang selepas pintu kantin menjadi sangat ramai dengan para buruh yang mulai memasuki ruangan produksi. Hawa panas mulai terasa di lorong menandakan terlalu banyaknya orang yang menempati ruangan tersebut
Dipertengahan lorong kusempatkan untuk mengirim sebuah sms untuk orang penting dalam pabrik ini "pinter ngak pinter, seorang Ria adalah orang yang baik hati, peduli dan kawan sejati". Entah apa yang dipikirkan Ria sekarang, karena ia tak membalas sms ku dengan cepat. Dilain kesempatan Ria mengatakan alasannya tak membalas sms dariku ini.
Ditengah - tengah buruh pabrik yang mempunyai beragam masalah, terselip masalah kecil di pikiranku, 'apa iya sekarang perempuan lah yang mencari uang dan meninggalkan kodratnya sebagai seorang istri?' kataku dalam hati.


Sekian. Tunggu kelanjutannya postingan berikutnya...
#terimakasih sudah berkunjung dan membaca unek-unekku

Selasa, 21 Januari 2014

Balada Buruh Rambut #1

Cerita ini bukan kisah nyata betulan, hanya memang ada beberapa bagian yang mungkin benar - benar terjadi di kehidupan nyata. Bila ada kesamaan nama dan tempat, kiranya itu hanyalah sebuah kebetulan belaka. Cerita ini juga termasuk dalam fiksi, hanya ada dalam khayalan kita saja... Cerita ini hanya dibuat karena kejenuhanku saja, iseng - iseng nulis fiksi lagi...
Lets go...

Matahari sudah benar - benar bersinar diatas sana, dengan seenaknya berkuasa dilangit yang luas tanpa ada awan yang mengganggu. Sinarnya mulai menghangatkan belahan bumi ini, tersampaikan pada dedaunan pohon yang menghijau, tersampaikan pula pada kubangan air tanah yang mulai menyurut. Sinarnya tanpa lelah menyinari bumi ini, entah sampai kapan ia mampu bersinar hanya Sang Penciptalah yang tahu segalanya.
"jeng, sida kondangan ne Bu Lia ra?" (jeng, jadi kondangan tempat bu Lia ga? sms dari teman kerjaku mengganggu sarapanku
"ra ngerti, ndeleng ngko awan"( ngak tahu, liat nanti siang) setengah piring nasi goreng yang tak lagi hangat kutinggalkan begitu saja saat kuketik balasannya
Begitu kuhabiskan teh manis bagianku, langsung saja kuambil tas dan kunci motor yang kusiapkan didalam kamar. Tak kupedulikan ocehan mamakku yang sedang membereskan meja makannya, sering kali ia mengomel bila melihat makananku maupun kakakku masih tersisa. 
"aku mangkat ma" (aku berangkat ma) kataku sambil mencium tangannya. Dapat kulihat garis - garis tanda penuaan diwajahnya yang memang sudah tua. Bila sudah begini, selalu saja muncul perasaan bersalah belum bisa membahagiakan dirinya.
"ati-ati" katanya pelan,
Tak dapat kujawab perkataan mamakku hanya bisa melangkahkan kaki semakin menjauhi ruang makan. Tak kutengok lagi mamakku yang sekarang mungkin sudah sibuk dengan urusan dapurnya. Semenjak kematian ayahku tiga tahun yang lalu, ibuku hanya mampu tuk mengurus urusan dapur. Beliau tak lagi berjualan dipasar seperti saat ayah masih hidup. Aku dan kakakku hanya bisa mengangguk ketika diminta persetujuannya, toh kakakku sudah bekerja di salah satu rumah sakit meski hanya sebagai cleaning servis. Sementara aku waktu ayah meninggal masih duduk dikelas dua SMA, hanya bisa diam menunduk tanpa bisa ikut berkomentar..
'selamat datang mentari, selamat menjalani hari ini lan" ucapku pada diri sendiri menatap matahari diatas motorku..
7777
"kondangan ra?" (kondangan tidar) tanya Ria mendekatiku saat aku baru masuk ruangan
"selamat pagi, kaya kue nek nyapa kanca" (selamat pagi, seperti itu kalau menyapa teman) balas ku tersenyum
Ria hanya tersenyum mendengar ocehanku,, "ya.. ya.. selamat pagi temanku yang cantik" lanjutnya
"gitu dong, pagi juga temanku yang baik hati.." jawabku "aku mau foto copy lap bulanan dulu ya, takut ntar rame" segera aku keluar lagi dengan membawa buku laporan
"ye,, sidane kondangan apa ora?" (ya, jadinya mau kondangan apa enggak?) tanyanya setengah berteriak.
Arus orang - orang yang memasuki pelataran pabrik ini makin banyak. Mungkin ribuan orang ada disini, mencari penghasilan pada pabrik yang telah berdiri selama puluhan tahun. Rata - rata karyawannya adalah wanita, hanya ada beberapa tenaga laki - laki yang dipekerjakan dan itu hanya sebagian kecilnya saja. Bila pagi seperti ini, terlihat dari wajah - wajah para pekerja masih tampaklah semangat yang besar. Canda tawa antar pekerja terdengar disetiap sudut, terkadang membicarakan pekerjaan, kehidupan pribadi, artis ataupun sekedar harga cabe dipasar.
Sengaja kulangkahkah kaki dengan pelan - pelan, sengaja kunikmati setiap udara yang terasa menyapaku pagi ini. Kutatap seluruh aeral pabrik, dari bangunan yang terlihat sudah tua namun masih saja berdiri dengan kokoh, taman yang indah dan terawat karena Sang Mister (pemilik pabrik, merupakan warga Korea) menyukai tanaman, kupandangi lorong panjang yang berisi para pekerja yang mulai akan memasuki ruang kerjanya. 
'kenapa aku bisa terdampar disini' kataku dalam hati
"ngalamun bae"(melamun saja) suara pak Andi mengagetkanku, ia orang HRD tapi sangat suka bercnda dengan orang produksi seperti ku ini.
"pagi pak," sapaku
"pagi juga lan,, "jawabnya sembari menlanjutkan langkahnya
Ruang foto copy berada hampir dibagian depan pabrik, dekat dengan kantor administrasi dan sangat jauh dari ruang produksi tempatku berada. Satu hal yang kusuka dari ruang foto copy adalah petugasnya, bukan naksir (dia sudah punya istri, sudah tua lagi), hanya dia mempunyai sifat kebapakan. Saat kuceritakan masalahku pasti ia mempunyai saran yang berbeda dari pemikiranku, dan itu tak kudapat dari orang lain, bahkan kakakku sendiri tak seperti itu. Aku selalu merasa bila beliau adalah orang yang mirip dengan ayahku,, 
"turnuwun Pak Sugeng" (makasih pak sugeng) kata mba Isa terdengar dari depan ruang fotocopy "hai lan, tumben pagi banget" sapanya
"iya nih mba kepagian berangkatnya" candaku
"kalo ada kesiangan pasti ada kepagian juga ya, hehehe" jawabnya "udah ah, duluan ya..."
"ok mba,,," jawabku singat "pagi pak Sugeng,, mung limang lembar, tak tunggu bae"(hanya lima lembar, kutunggu saja) kataku sambil menyerahkan buku laporan
"yang terakhir kan?" tanyanya menyakinkan dirinya sendiri
"ya seperti biasa pak?" kataku "Pak, kondangan tempat bu Lia ngak?" tanyaku langsung
"ngak tahu juga, lagipula ini kan pernikahan kedua kalinya kan" katanya sambil terus bekerja dengan mesin fotocopy "lagipula tanggal tua, lan"
"nah itu dia pak, tanggal tua lagi,, benar - benar ngak ada dana" curhatku "tapi kemarin waktu Bapak meninggal bu Lia ketempatku"
"belum minggu depan si Aya kan nikahan" tambah pak Sugeng
"aduh pak, ini satu aja belum mana ditambah lagi" kataku "kenapa si harus tanggal - tanggal tua pada nikah"
"kan udah tanggal baik menurut orang tua, lan" katanya
"tapi ngak baik buat aku" kataku "kalo ngak datang ngak papa kan pak, toh masih ada Adit yang udah kelas 5 SD pasti bentar lagi sunatan"
"ngak papa, Lan. Ngak bakal ditanyain sama bu Lia kok. Lagian masalah dia datang waktu ayah kamu meninggal ngak ada kaitannya dengan pernikahan bu Lia, pasti ntar ada undangan lain yang datang." terang pak Sugeng
Secercah harapan muncul atas masalah jadi kondangan atau tidak tempat bu Lia, bila saja ditanggal - tanggal waktu awal gajian pasti aku akan datang. Tapi ini masalahnya dia menikah di tanggal tua, dimana keadaan keuangan sudah benar - benar terkikis.
Andai gaji seorang buruh pabrik rambut sepertiku sama besarnya dengan gaji pegawai negri pasti tak ada ribet dengan urusan sepele seperti ini... Huh tanggal tua yang selalu kuharapkan tak pernah.. 

Sekian. Tunggu kelanjutannya postingan berikutnya...


#terimakasih sudah berkunjung dan membaca unek-unekku

Minggu, 27 Oktober 2013

Undangan Tanpa Nama#4

"kau tak datang akan kubatalkan semua ini, tak peduli dengan calon bayi yang bukan milikku.. "katanya
Masih saja kata - kata Anjar terngiang dikepala, dari kemarin hal ini terus saja berada dikepalaku, seolah tak mau pergi dan tergantikan oleh pikiran yang lain.Berulang kali kuyakinkan pada diriku sendiri untuk tak lagi memikirkan Anjar lagi, namun berulang kali pula ada rasa penasaran akan kata - kata Anjar tersebut.
Hampir hari mingguku ini tak terisi oleh kegiatan apapun, lari pagi atau sekedar bersepeda keliling kota pun tak kulakukan. Hanya terdiam saja dalam kamarku yang selalu setia menemaniku dalam kesendirian ini. Bahkan kubiarkan saja ibuku yang sedikit marah - marah gara anak perempuan satu - satunya ini sangat malas dihari minggu ini. 
"itu cucianmu tinggal dijemur tang" teriak ibuku dari luar kamar "ibu mau pergi ke pengajian di masjid,, kamu jangan lupa dijemur nanti" lanjutny lagi
"iya" jawabku pelan
"jangan lupa dijemur" kata ibuku mengulanginya
Aku terdiam, tak kujawab perintah ibuku, toh nanti kan kujemur, 'entah kapan' kata ku pelan. Aku masih saja bergelung ditempat tidurku yang nyaman, kutarik kembali selimut tuk menutupi tubuhku. Meski tak ada rasa kantuk tapi rasa selimut yang menutupi tubuhku membuatku sedikit nyaman.
'kalau benar kata Anjar, kenapa ia harus tanggung jawab' kataku dalam hati
'udah lah itu bukan urusanmu' suara dari sebrang hatiku yang lain
'bukankah masih ada sedikit rasa untukku, bukankah kau masih merindukannya' bela separuh hatiku
Tak bisa kupungkiri, walau telah lama Anjar menghilang, tapi masih saja ada sedikit perasaan untukknya, masih saja belum bisa kulupakan segala kenangan tentangnya. Setelah sekian lama waktu berjalan, aku hanya mampu berpura - pura dalam pelupaan tentang Anjar ***
"lho beneran hari ini ngak masuk gara - gara mau ke kawinannya Anjar" kata mba Intan disebrang sana
"iya mba, tolong titip absen ya" kataku sambil mengecek kembali isi tasku
"yakin datang" katanya
"aku hanya datang mba, ngak ada niatan tuk merusak acaranya" kataku "sebagai teman" akhirnya ada kata yang pas yang dapat kujadikan alasan
"perasaanmu?" tanyanya lagi
"tenang aja, sudah tutup pake lakban" candaku
"ntar jangan nangis ya.."
"kenapa harus nangis, emang bayi nangis pengen susu" tantangku
"sekarang aja bisa ngomong seperti ini, kita lihat besok apa masih bisa becanda lagi" katanya
"doain aja mba"
"okey, ya udah sana siap - siap, dandan yang cantik biar Anjar nyesel salah pilih" pesan mba Intan sebelum menutup telfonnya***
 "lama ngak ketemu tang, kemana aja??" sapa Ayu ketika bertemu di pelataran rumah Anjar
"perasaan disini saja ngak kemana - mana, dirimu tuh yang pergi jauh ke Jepang, ngapaian balik sih?" godaku
"masih seperti dulu yah, suka godain orang lain" katanya sambil tersenyum
"bukannya enak di Jepang?" tanyaku lagi
"tapi kangen sama yang disini" jawabnya "tapi ngak termasuk lo tang"
Belum sempat kumembalas candaannya kami sudah disambut beberapa teman lama yang ikut hadir dalam ijab kabul Anjar. Rasanya kembali ke jaman dahulu, ketika masih berseragam putih abu - abu, hal - hal konyol yang dulu terjadi sekarang malah jadi bahan pembicaraan yang seru. Hampir semuanya mengalami perubahan meski sifat dasar mereka masih melekat sama seperti dulu.
"tang, bareng dimobilku ya" kata Anjar sambil menarik lenganku
"tapi...
"cie,, cie,,, kesempatan terakhir sebelum kawin nih" ledek Adit
Anjar hanya tersenyum mendengar ledekan dari yang lainnya juga. Mungkin memang saat inilah waktu yang tepat untuk meluruskan segalanya sebelum peristiwa besar yang kan merubah hidupnya nanti.
"bapak sama ibu?" tanyaku ketika sudah didalam mobilnya
"mereka didepan bareng mba Fera" perlahan ia melajukan mobilnya, mengikuti iringan mobil - mobil lain yang sudah berjalan lebih dulu
"sekali lagi gue minta maaf tang" katanya membuka pembicaraan
"udahlah, toh semua udah berlalu"
"satu hal yang mesti lho tahu, gue juga ngak ingin dengan pernikahan ini" katanya sambil terus menyetir
"semua ini demi bakti pada kedua orang tua yang sudah berhutang budi sama keluarga pak Wijaya," lanjutnya
"lalu.. ini bukan sinetron Njar" kataku
"anaknya mereka, Fira hamil kemudian ditinggal pacarnya"
"bukannya dia dokter" tanyaku makin penasaran
"biasa lha, gaya hidup di Jakarta memang ada yang tidak kita mengerti" katanya
"dan ngak ada penolakan darimu?" tanyaku
"bapak punya riwayat jantung,, aku takut" kata Anjar pelan
"okey, gue terima penjelasan ini dan ini ngak akan merubah apapun" kataku
"betul,, aku hanya ingin menyampaikan penjelasan ini" katanya tersenyum memandangku sejenak
"aku berharap suatu saat kamu akan menemukan lelaki yang lebih sempurna" katanya
Aku hanya mengangguk saat ia berkata seperti itu, sekarang harus kuhilangkan semua rasa dihatiku ini. Tak ada lagi kenangan yang boleh diingat, karena satu jam lagi Anjar akan menjadi milik orang lain, mau tidak mau, ikhlas atau tidak ikhlas, semua ini akan terus berjalan
"kita masih bisa bertemankan?" tanya Anjar
"okey, just friens.."kataku tersenyum "moga pernikahanmu lancar, apapun yang terjadi bayi itu tidak berdosa Njar," lanjutku 
"makasih tang" Anjar akhirnya tersenyum
Mungkin senyum terakhir yang dapat kuabadikan sebelum Anjar menjadi milik orang lain. Senyum terakhir yang harus kusimpan dalam laci hatiku yang paling dalam dan tak kan boleh kubuka lagi...
"saya terima nikahnya dan kawinnya Syafira Wijaya binti Ahmad Wijaya dengan mas kawinnya yang tersebut tunai" kata Anjar terasa tegas dan lancar
"bagaimana saksi?"tanya sang penghulu
Dan iringan jawaban "syah" terdengar serempak didalam masjid yang megah ini. Dan seiring dengan jawaban tersebut meluncurlah setitik air mata yang tak bisa dibendung lagi. Tak mampu kulihat Anjar lagi yang sedang tersenyum menghadap kamera. Anjar, nama itu harus segera kuhapus dari seluruh ruang hatiku...




Nb. mungkin cukup sekian fiksi ini, tapi bila ada waktu dan keinginan tuk menulis maka akan tercipta lanjutannya, berharap ini hanya cerita belaka, tak ada cerita dalam kehidupan yang nyata, siapa juga yang mau ditinggal kawin sama orang yang telah kita tunggu


Minggu, 13 Oktober 2013

Undangan Tanpa Nama #3

Suasana rumah Anjar bertambah ramai ketika kami sedang mulai mengobrol tentang pekerjaanku. Ibu dan Bapak dari Anjar merupakan orang tua yang sangat bijak, beliau berdua masih mengingatku sebagai teman lama Anjar, sekaligus keponakan dari tetangganya, yaitu Paklik Tono. Masih sangat jelas dalam ingatanku, 3tahun lalu ketika bapak berpulang ke Sang Pencipta, mereka berdua turut berkunjung kerumahku. Kunjungan tamu makin banyak dan ramai, mau tak mau mereka segera meninggalkanku dan Anjar untuk menemui tamu yang lain.
Hanya ada diam saat kedua orang tua Anjar pergi, meski sudah kubilang untuk ikut menemui tamu yang lain dulu dan meninggalkanku, tapi dia tak mau. 'ternyata Anjar masih keras kepala seperti dulu' kata batinku.
"tang..." ucap Anjar menggantung
"kenapa?" tanyaku berusaha dengan suara yang biasa saja
"aku minta maaf" kata Anjar
Akhirnya terucap juga kata yang selalu kunanti, pernyataan dia telah membuatku terluka dan meminta maaf dariku "untuk???" tantangku lebih lanjut
Anjar terdiam sejenak, ia menunduk menatap sisa gelas tehnya. Tak bisa kulihat raut muka dari Anjar, apakah dia menunjukkan rasa bersalah atau tidak
"sudah lah toh, semua sudah berlalu" entah keberanian darimana aku berucap seperti itu. Rasanya sudah cukup kudengar perkataan maaf darinya, meski tanpa ada alasan untuk maaf itu.
Anjar kaget mendengar perkataanku baru saja, ia menatapku tajam seakan mencari sesuatu dari diriku. Rasa sakit itu masih sangat tergambar dikedua mataku, sedari tadi kucoba untuk tidak melampiaskan amarahku. Toh takkan berguna bila kulampiaskan semuanya disini dan disaat seperti ini.
"semua takkan kembali seperti dulu kan" kataku lagi "sudah malam aku mau pulang"
"tang ...." katanya lagi dan lagi lagi menggantung tak terselesaikan
"ah, ada yang lupa" kataku sambil mengambil sesuatu dari dalam tasku. 
Kuserahkan kotak kecil padanya, dengan perlahan ia menerima kotak ungu tersebut. Kugenggamkan erat kotak tersebut pada tangan Anjar.
"terima kasih untuk segalanya" ucapku mengakhiri pertemuan ini.
Segera kulangkah kaki depan tenda, aku berhenti sejenak ketika bertemu bapak dan ibu Anjar. Niat pamitanku ditahan mereka, katanya pulang nanti saja, nanti diantar orang suruhannya. Namun mereka akhirnya mengizinkanku untuk pulang ketika aku beralasan sedang tak enak badan. 
Tiba - tiba Anjar menyusulku didepan parkiran motor. Terlihat ditangan kanannya menggenggam kotak yang sudah terbuka itu. 
"untuk apa kau kembalikan ini?" tanyanya sambil menunjukkan cincin yang dulu pernah diberikannya padaku
"bila itu tetap kusimpan rasanya akan selalu sakit" jawabku sambil memakai helm "meski itu terlalu murah untuk calonmu yang dokter itu"
"kau harus dengar penjelasanku dulu" katanya sambil memegang tanganku erat
"apalagi yang dijelaskan?" tanyaku "esok kau menikah berarti sudah jelas besok kau sudah dimiliki orang lain" kataku sambil melepaskan tanggannya
"aku tak mencintainya" katanya lirik
"tapi besok kau menikah dengannya" jawabku
"kuharap kau mau datang besok kesini, akan kujelaskan semuanya sebelum acara pernikahan" lanjutnya "kumohon datang lah" pintanya
"kau mau aku menangis darah melihat orang yang slama ini kutunggu malah menikahi orang lain?" kataku "harusnya kau tahu bagaimana perasaanku sekarang" kataku mulai menunjukkan emosi
"kau tak datang akan kubatalkan semua ini, tak peduli dengan calon bayi yang bukan milikku.. "kata Anjar pelan..

Kamis, 10 Oktober 2013

Undangan Tanpa Nama #2


"jadi ketempat mantan tang?" tanya mba Intan dari balik komputernya
"jadi mba, ini setelah selesai entri data langsung berangkat" jawabku 
"kalo pun ngak datang juga nggak papa" katanya lagi sembari membereskan kertas laporan
"ngak papa mba, sekalian silaturahmi" kataku "tumben belum dijemput jam segini mba" kucoba tuk bertanya hal yang lain
"kebiasaan deh, kalo lagi bahas masalahmu pasti dialihin" tanyanya sambil tersenyum
Jurus yang paling ampuh ketika aku tak ingin membahas suatu masalah dengan orang lain. Pasti lebih baik membicarakan yang lain saja daripada membahas masalahku dan membuatku makin tak nyaman.Aku termasuk orang yang tak suka membicarkan masalah pribadiku sendiri. Bila masih bisa kuselesaikan maka akan kuselesaikan sendiri, tanpa campur tangan orang lain.****
Senja baru saja turun, langit barat masih terlihat bercahaya tak seperti ujung timur yang sudah termakan gelap. Lalu lintas jalanan tak pernah sepi, meskipun itu diwaktu senja seperti ini, hilir mudik kendaraan tak pernah berhenti. Kilauan lampu dari kendaraan seperti ribuan bintang menambah ramai jalanan senja ini. 
Di parkiran aku terdiam sesaat, kumantapkan hatiku sekali lagi untuk datang ke tempat Anjar. 'datang aja tang, toh ngak ada salahnya untuk menyampung pertemanan kalian' kata emakku muncul lagi dalam hati. Sebelah hatiku mengatakan oke tak masalah aku datang, tapi sebelahnya lagi, ada rasa sakit yang masih terasa. Kilasan masa lalu yang kembali hadir belakangan ini, hal - hal yang sudah berhasil kulupakan 5 tahun ini, kembali muncul satu persatu tanpa kuminta. 
"tang, aku akan pergi ke Jogja, sesuai keinginan bapak aku ngambil kuliah hukum" katanya disuatu ujung senja
"trus??" aku belum bisa memberikan komentar apapun
"aku harap kamu mau menunggu" katanya 
Aku benci bagian kenangan ini, dia menyuruhku untuk menunggu, sampai kapan aku harus menunggu. Tanpa kabar apapun darinya, semakin memperparah kebencianku, bahkan nomor hpnya pun sudah tak aktif lagi. 'Apa aku saja yang harus menunggu, jangan jangan dia malah enak-enakan di Jogja sana, sementara aku menunggu dalam penderitaan,' selalu saja terbesit dalam pikiranku.
"masih inget Anjar ngak, seangkatan kita juga" kata Tia, teman seangkatan yang juga kuliah di Jogja
Tak sengaja aku bertemu dengannya ketika sedang menunggu martabak. Setelah cerita sana sini, tak sengaja ia menceritakan hal ini. Dari caranya bercerita seakan ia sudah lupa kalau aku masih menyandang sebagai pacaranya (meski status kami semakin tak jelas).
"emang kenapa, yang anak IPS2 kan" ujarku pura-pura tak mengerti
"iya bener, meski ngak sekampus tapi masih sering ketemu dia. kulihat dia beberapa kali jalan dengan wanita yang berbeda, sempet juga jalan dengan teman sekampusku juga, cuman denger-denger cuma satu bulan" ceritanya sangat panjang
"dasar lelaki" umpatku, meski saat itu aku ingin sekali melampiaskan amarah dan tangisku.
Aku makin membencinya,, benar dengan perasaanku selama ini, menunggu yang sia - sia. Perkataan Tia semakin membuatku berniat tuk melupakannya, dan menutup hatiku pada siapapun. Rasanya aku ingin melompati kenangan itu, menghindar dari si Anjar,, rasa yang menyesakkan hatiku ketika ada orang menyebut namanya lagi.****
Kurapikan dulu pakaianku, kusisir ulang rambut panjangku, meski tak berniat tampil menawan aku hanya mencoba untuk memantaskan diri datang kesebuah acara yang dibuat dengan meriah. Sembari itu, kucoba tuk menata hatiku lagi, menata kepingan kenangan yang tak mungkin kuhilangkan. Menahan hatiku untuk tak kembali pada perasaan yang dulu, perasaan yang sekarang tak mungkin lagi akan terjalin.
'dahulu kau lah segala, dahulu hanya dirimu yang ada dihatiku, namun sekarang aku mengerti, tak perlu kumenunggu, sebuah cinta yang semua...' suara raisa mengalun pelan dari sebelah kamar.
"Paklik makasih yah" ucapku ketika keluar dari kamar Asti
"wah, ini baru mba Lintangku, sederhana tapi sesuatu' ucap Asti mengomentari penampilanku
"apaan sih, makasih yah pinjemen kamarnya" aku tersenyum menanggapi perkataannya, "ikut yuk" kataku
"Asti ikut???" malah Paklikku yang menjawab "udah segeda lemari gitu kok ikut" jawabnya sembari membalik korannya
"Pake itu apaan, anak cantik gini kok dikatain lemari sih" Asti tak kalah sewot mendengar perkataan ayahnya
"sudahlah, aku pergi dulu, ntar penampilanku luntur"
"emang eskrim" kata Paklikku
"sudah mba ayo kita pergi, aku juga mau duduk diluar aja, disini panas"
Aku hanya menangguk dan tersenyum melihat tingkah ayah dan anak ini, terselip ada rindu untuk ayahku dihati ***
Tak sampai tiga menit aku sampai di tempat yang kutuju, sebuah tenda besar sudah terpasang dengan megah. Warna merah marunnya serasi dengan janur kuning yang melengkung dan menghiasi dibeberapa tempat. Diterangi beberapa lampu yang bercahya sangat terang, menjadikan tenda ini semakin meriah. Tak hanya itu musik keroncong mengalun pelan dari dalam, disudut kanan tenda terlihat beberapa soundsystem untuk menjadikan musik itu bertambah meriah lagi.
"Lintang," suara sesorang dari dalam tenda
Suara yang sudah lama tak kudengar, suara yang selama ini kurindukan, suara yang selama ini kubenci,,, "Anjar"

Kamis, 25 Juli 2013

Sekar Arum #1

Rintik hujan kian menderas, semakin banyak tetesan air langit yang menghujam bumi. Begitu menyentuh tanah, kan terasa bau tanah menyengat, bersama butiran debu yang menghilang. Dalam sekejap membuatnya menjadi genangan air disana sini. Sebelum menyentuh tanah hujan telah menyentuh daun terlebih dahulu, menghapus debu diatas hijaunya daun, kemudian tetesnya menimpa daun, sebagian jatuh ke tanah sebagian dapat bertahan diatasnya. Daun tak hanya basah, tapi juga tergoyangkan oleh angin. Angin pula yang dapat menerbangkannya daun kering entah kemana, bahkan bisa terbang sangat jauh dari asalnya Angin dan hujan memang sedang menimpa bumi, dengan angkuhnya tak ada yang menghentikan kecuali Sang Pemilik Waktu. Angin dan hujan adalah sama, kadang membawa berkah, disisi lain mendatangkan musibah.
Dalam kegauluan alam ini terdapat dua insan manusia yang sedang berdiri dalam diamnya dunianya masing - masing. Dalam pertempuran alam ini, terdapat pertempuran insan manusia pula. Bila disisi alam hujan yang lah menang, hujan mudah sekali menyentuh tanah, dan tanah tak akan pernah sanggup menepis rintik hujan. Berbeda dengan pertarungan ini, dua ksatria negri ini, sama sama berpihak pada negara, hanyalah sebuah selisih membuat mereka saling berhadapan ilmu dan pedangnya.
Seorang ksatria perempuan muda, Sekar Arum biasa ia dipanggil. Meski perempuan, tak menyurutkan niatnya tuk berkelana di dunianya para lelaki, dunia yang penuh dengan kekerasan. Sorot matanya yang tegas menandakan setiap langkah yang diambil tak akan pernah dibelokkan lagi. Kulitnya kuning langsat, meski ia sering kali berjemur dibawah terik matahari, tak seperti para perempuan pasar yang kulitnya menghitam karena terbakar oleh sang matahari. Tubuhnya hampir sempurna, tinggi, badannya terlihat ringan bila dibawa lari, tak ada tumpukan lemak disekujur tubuhnya. Tak hanya itu perangainya juga seperti seorang putri, tak pernah ia membedakan antara tani, teman sesama ksatria, bangsawan atau sekalipun kuli. Setiap yang memerlukan bantuannya pastilah dengan senang hati membantu. Tak peduli itu gerombolan pencuri kelas teri atau pejabat istana yang korup pasti sudah ia babat habis dengan ilmu dan pedangnya. Kecantikan tubuh, perangainya yang baik dan kepandaiannya mengolah ilmu dan pedang membuatnya digadang - gadang sebagai salah satu ksatria perempuan terhebat dinegri ini.
Dalam keadaan perang pun, perasaan dan mata batinnya Sekar Arum bisa merasakan selain ia dan sang lawan didepannya terdapat orang lain yang sedang mengintai mereka. Ia dapat meraba getaran hitam yang disalurkan lewat angin, getaran hitam yang semakin lama semakin menguat melingkupi areal pertempuran ini. Sementara hujan dan angin yang makin menjadi tak menyurutkan niatnya tuk mengakhiri pertempuran.
"apa yang kau tunggu, bukankah pedangmu sudah haus?" tanya sang lawan, seorang ksatria lelaki
Tak ada jawaban dari Sekar Arum, hanya segaris senyum datar yang mungkin tertutup oleh hujan yang lebat. Makin ditajamkannya pandangan mata dan mata batinnya, sementara tangannya makin memegang kuat pedangnya.Dengan mantap ia melangkah, tak ada lagi kata mundur dalam kamus Sekar Arum.
Sang lelaki tak bergeming, tak ada langkah maju apalagi mundur, hanya disambutnya langkah Sekar Arum dengan senyuman. Dengan pelan ditariknya pedang yang ringan dari punggungnya, sebuah mantra terucap dari mulutnya tanpa terdengar siapapun hanya pada sang angin ia mengutarakan niatnya. Dengan tangan kanannya, ia mantap memegang pedangnya, tersalurkan tenaga dari seluruh tubuhnya pada pedang tersebut. 
Sementara itu Sekar Arum makin mendekat, hanya tinggal 9 langkah dari sang lelaki. Pandangan mereka saling beradu...
'setttt' goresan pedang menyentuh daging manusia diiringi darah yang muncrat entah dari tubuh siapa.
Sang lelaki menundukkan wajahnya, tak kuasa ia menahan rasa dalam tubuhnya. Sementara Sekar Arum seakan berdiam sejenak, tapi ia langsung melangkah kembali. Tak mempedulikan musuhnya yang sedang menunduk.
Setengah berlari Sekar Arum menyongsong musuhnya, "jleebb" disusul sebilah pedang menembus perut manusia. Darah segar langsung keluar dari luka tersebut, mengalir ketanah bersama dengan air hujan.Sedetik kemudian, suara pedang jatuh ketanah, pedang yang masih bersih, tanpa darah setetes pun.
Dalam seketika Sekar Arum roboh, tak kuasa tubuhnya menerima dua luka sekaligus. Ya, ksatria perempuan telah kalah dalam pertempuran ini. Tubuhnya tak tahan lagi, luka sayatan pedang telah menyebarkan racun dalam tubuhnya, melalui media angin pedang ringan sang musuh mampu sampai pada musuh yang diucapkan sang empunya pedang. Belum lagi tusukan tepat dibagian perutnya, seluruh isi perutnya terasa ditarik keluar. Mau tak mau Sekar Arum harus mengakui ia telah kalah.
Tepat sebelum tubuh Sekar Arum menyentuh tanah, sang lelaki dengan cepat sudah menahan tubuhnya. Hendak dicabutnya pedangnya itu dari tubuh sang musuh yang juga kekasihnya. Tapi niatnya ditahan tangan Sekar Arum, ia sudah tak sanggup lagi tuk merasakan rasa sakit dari cabutan pedang dari perutnya.
Dalam keadaan genting seperti ni, nalurinya tetaplah berjalan, dirasaknnya getaran hitam yang makin mendekat. Ia yakin ada sesuatu yang sedang menuju kedirinya dan itu semakin mendekat. Dengan yakin pula ia merasakan getaran hitam dari arah belakang sang lelaki. Dengan tenaga terakhir di singkirkannya sang lelaki ke samping kanannya. Dengan cepat ia berdiri, menyongsong sebuah benda yang sedang melesat cepat dari arah rerimbungan pohon beringin. Terlihat rasa sakit dalam wajah cantiknya, dengan sangat berusaha menahan rasa didalam tubuhnya. Dalam sepersekian detik kemudian anak panah itu telah muncul, dengan cepat telah berhasil menyentuh kulitnya dan telah merasuk dalam dadanya. "jleb" untuk ketiga kalinya tubuhnya menerima benda tajam.
Sang lelaki segera menguasai dirinya lagi. Dilihatnya Sekar Arum yang menyambut anak panah racun dengan tubuhnya, dilihatnya lagi Sekar Arum terjatuh ketanah. Dengan bergetar ia berlari, menahan tubuh kekasihnya yang akan jatuh ketanah, Dipangkunya tubuh perempuan pemberani ini, matanya beralih pada rimbunan beringin tempat asal anak panah diluncurkan.
"bagaimana bisa aku bilang tidak mencintaimu.." kata sang lelaki sambil mengusap wajah Sekar Arum yang  basah karena hujan "bagaimana bisa aku membunuh orang kucintai,,, dan ternyata ia menyelamatkan diriku dan sebuah maut"" lanjutnya lagi..
#berlanjut.....