Tampilkan postingan dengan label keliling purbalingga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label keliling purbalingga. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 September 2016

Karnaval HUT RI 71 Purbalingga

Sangat terlambat. Kata yang pas untuk tulisan ini, mengendap di draf hampir 3 minggu, dan daripada dibuang begitu mending dibaca lagi. Karnaval tujuh belasan adalah kegiatan wajib diseluruh negeri dalam memperingati hari kemerdekaan. Dari Sabang sampe Merauke pasti melakukannya, penuh kreativitas, kegembiraan, dan semangat. 

Dan untuk HUT RI Ke 71 di kabupaten tercinta Purbalingga, karnaval diselenggarakan pada tanggal 30 Agustus 2016, hampir 2 minggu setelah hari peringatan kemerdekaan republik ini. Rencana dimulai pada pukul 8 pagi, tapi kenyataannya mulur hingga jam 10, kasihan mereka yang sudah menanti sedari pagi.  

Minggu, 27 Desember 2015

Purbasari (Wisata River World)

 
Dua pekan diakhir tahun adalah waktu yang pas untuk berlibur. Mulai dari 24-27 (Maulud Nabi, Natal, dan cuti bersama) dan 31-3 (libur tahun baru dan hari kejepit #maksa). Ada beberapa tempat liburan di Purbalingga yang layak direkomendasikan, dan beberapa yang masih sangat perawan belum terjamah oleh tangan pemerintah, ada juga yang harus diperbaiki disana sini biar tidak mengecewakan pengunjung yang datang. Salah satu perjalanan diwaktu lalu adalah gualawa-kebun strawbery (PBG) 
Kabar terakhir yang terdengar kawasan kebun strawbery dalam proses renovasi dan dibangun semacam patung (mungkin sebagai tanda atau ikon dari kawasan wisata tersebut). Kabupaten Purbalingga memang mulai melirik untuk mengembangkan potensi wisata. Semoga makin bagus dan makin banyak pengunjung yang datang ke Purbalingga.

Harapan (Teruntuk) Kota Purbalingga


Tulisan ini terlambat dipublish, meski sudah jadi dari minggu lalu tapi faktor ini-itu menjadi penyebab gagalnya tulisan ini keluar. Daripada dibuang begitu saja dan meski sudah terlambat, semoga masih diberi kesempatan untuk berbagi..

Minggu lalu, tepatnya 18 Desember 2015 kabupaten Purbalingga merayakan hari jadinya, 185 tahun yang lampau dibentuklah kabupaten  yang merupakan tetangga dari Banyumas, Banjarnegara dan Pemalang. Yang ingin tahu lebih lanjut tentang Purbalingga silahkan berkunjung ke (/http://www.purbalinggakab.go.id/) (https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Purbalingga).

Pertama, selamat ulang tahun tempat kelahiranku, diusiamu yang sudah tua ini semoga menjadi tempat yang bisa dibanggakan bagi masyarakatnya, yang nyaman untuk ditinggali, kabupaten yang bersih dan sehat, kabupten yang berkurang jumlah penganggurannya, kabupaten yang ramah bagi pelancong dan penikmat wisata, dan semua yang terbaik untuk kabupaten kecilku ini. 

Sedikit harapan dari seorang penduduk kota tercinta ini. Purbalingga memang sudah teramat berkembang bila dibandingkan dengan 185 silam. Dengan bertambahnya usia, kemajuan teknologi dan meningkatkan kualitas SDM tentu banyak hal yang kian meningkat.

 
Diusianya yang sudah satu abad lebih (lebih 85 tahun) semoga tingkat pelayanan kesehatannya makin dimudahkan dan memuaskan, makin banyak masyarakat Purbalingga yang sehat dan menjalani hidup sehat serta makin lengkap fasilitas kesehatan yang ada hingga kita tak perlu lagi ke RSUD Margono.
Kualitas sekolah juga semoga makin meningkat, makin banyak lulusan yang benar-benar siap kerja, yang bukan hanya menambah angka pengangguran. Semoga ditahun yang akan datang ada pihak yang mendirikan Universitas di Purbalingga, jadi bisa kuliah di kota sendiri.
Ekonomi pun makin membaik, semoga dimudahkan urusan birokrasi dan keuangan bagi mereka yang ingin berwirausaha. Ketersediaan bahan pokok yang cukup hingga tidak mengakibatkan harga barang-barang naik dan berakhir pada masyarakat yang resah. 

Semoga mereka yang duduk diatas kursi 'yang terhormat' pun bisa bekerja sesuai dengan apa yang diharapkan. Tidak hanya rapat-rapat tak jelas yang menghasilkan peraturan yang tak jelas juga manfaatnya untuk masyarakat Purbalingga. Semoga mereka yang salah bisa diperlakukan dengan semestinya, bukan malah diberi kesempatan untuk mengelak dan berkata kalau mereka benar. Salah = salah dan benar = benar, apapun itu, siapapun mereka.


 
Semoga kota Purbalingga merupakan kota yang ramah dan nyaman, bukan hanya untuk masyarakat tapi juga untuk alam sekitar. Berharap alam Purbalingga diperlakukan dengan baik, jangan ada eksploitasi yang berlebihan, baik itu disungai, hutan maupun gunungnya. Semoga wisata Purblingga pun dilirik oleh pemerintah dan mulai dibenahi sepenuh hati.

  
Tempat-tempat umum dapat dimanfaatkan dengan benar dan dijaga.  Digunakan untuk hal-hal yang semestinya, bukan untuk hal yang berada disisi negatif. Dan harapan besar bila di Purbalingga dibangun sebuah bioskop.

Dan harapan-harapan lain tentang kota ini. 
Semoga masyarakat dan pemerintah Purbalingga bisa bekerja sama untuk saling mengisi dan saling membangun kota ini. Terima kasih kota Purbalingga, telah menyediakan ruang bagi kehidupankui, telah memberikan kesempatan untuk bertempat tinggal dan  memberikan pengalaman yang tak akan pernah terlupakan.
 
Terimakasih sudah berkunjung
Salam hangat dari kota Purbalingga. 

Jumat, 25 Desember 2015

Cerita di Hari yang Libur (Nasional)

  
pencarian
Hari itu 
Saat mentari dengan malas keluar, awan pun menjadi kelabu
Meski malam tak lagi berjejak, dan ini bukanlah di ibukota yang penuh sesak
  
Sama seperti malam yang pergi, demikian dengan bunga
Bila kemarin telah mekar, tapi tidak pagi ini, dia kan layu, jatuh dalam peluk tanah
Berganti dengan yang lain, yang masih membara semangatnya
Untuk hari ini..

Minggu, 18 Oktober 2015

Kemarau Nan Panjang

Kemarau tak kunjung pergi
Meski hujan telah dirindukan setiap manusia
Sinar matahari kian membara
Dan manusia semakin berkeluh kesah dengan situasi
Siapa yang disalahkan???



Musim kemarau tahun 2015 ini terasa amat panjang, dari akhir Juli hingga sekarang, bahkan menurut perkiraan hingga bulan November. Sejumlah kekeringan tlah menyebar, panen pun banyak yang terancam gagal hingga kebakaran hutan Sumatra dan Kalimantan yang asapnya merambah negeri sebrang. Semua gegara kemarau.

Disisi lain, bila kita ingin membangun rumah inilah waktu yang tepat, ingin usaha jus dan minuman segar inilah waktu yang banyak mendatangkan laba, ingin menjemur kerupuk dan ikan asin inilah waktu yang ditunggu, inilah musim kemarau yang terkadang ditunggu oleh sebagian orang.

Seperti uang logam yang memiliki dua sisi, demikian pula dengan kemarau. Dan itulah yang dijelaskan di dua paragraf awal. Satu sisi ia membawa bencana tapi disisi lain ia juga membawa anugerah. Seperti itulah musim kemarau.

Apa yang diberikan Tuhan bukankah harus kita syukuri, tanpa perlu panjang lebar mengeluh. Demikian pula dengan kemarau, tak perlu kita saling menunjuk pihak mana yang paling bersalah. Tinggalah kita saling merenung dan memperbaiki sikap masing-masing. Apakah kita sudah merusak alam hingga menyebabkan kemarau panjang ini? Ataukah benar mereka yang telah merusaknya dengan berbagai dalih. 
 
Setelah kita renungkan tentang kemarau panjang ini, tinggalah kita menentukan sikap. Akankah kita akan bersikap seperti ini saja atau merubah apa yang selama ini kita lakukan dan menyebabkan kemarau panjang. Bila tindakan kita sebelumnya adalah merusak alam maka kita harus kembali untuk merawatnya. Mulai melakukan tindakan kecil untuk kelestarian alam ini. 
Kita bisa mulai dengan tidak membuang sampah sembarang (bila tidak ada tempat sampah, maka sampah tersebut disimpan dulu dikantong sampai kita temukan tempat sampah), mulai menghemat sumber daya alam (seperti listrik, bensin, air, dll), menghemat penggunaan plastik dan tidak membuangnya di alam bebas seperti hutan, gunung, dan laut, tidak mengotori aliran sungai dan saluran air di sekitar rumah, membiasakan menanam pohon disekitar rumah dan tindakan lain yang terlihat sederhana namun memiliki banyak arti bagi alam ini.

Dibalik kemarau itu ada ..
Siapa bilang bunga tidak mekar..
 
Penjual jus buah & kelapa muda laris manis ...
 
Olahan kerupuk, keripik pisang, ikan asin, garam, dll semuanya memuaskan ...
 
Bangunan rumah cepat kering dan cepat selesai ...
Terimakasih sudah berkunjung dan membaca sedikit pemikiran ini,
Mari kita kembali pada alam meski kemarau panjang ini belum selesai..

Sabtu, 08 Agustus 2015

Kebun Strawbery - Gua Lawa (Wisata Purbalingga yang Belum Mekar)

 
Bicara mengenai wisata yang berlokasi disudut utara Purbalingga, tepatnya di desa Siwarak - Serang, Kec. Karangreja, Purbalingga. Menempuh sekitar kurang lebih 27 km dari pusat kabupaten, dengan medan jalan yang berbukit dan pemandangan khas pegunungan yang menawan. Bila wisata Gua Lawa sudah berdiri sejak puluhan tahun yang lalu namun kebun strawbery baru dirintis sekitar 5 tahun lalu oleh warga sekitar.

Minggu, 05 April 2015

Jembatan Linggamas (Purbalingga - Sokaraja)

 
Jembatan penghubung antara kabupaten Purbalingga dan kabupaten Sokaraja sudah diresmikan sejak setahun yang lalu. Layaknya jembatan lain yang menghubungkan dua titik. Kini jarak dari Sokaraja ke Purbalingga bisa lewat jembatan ini, bahkan Sokaraja ke Banjarnegara semakin cepat ditempuh bila dibanding jalur Sokaraja-Kalimanah-Bukateja-Banjarnegara. Roda ekonomi pun kian berputar, meski masih jarang, tapi satu-dua warung, bengkel sudah mulai bermunculan di kedua sisi jembatan. Itulah fungsi sebuah jembatan.

Kamis, 15 Mei 2014

Air Terjun Tersembunyi Purbalingga


 
Purbalingga yang identik dengan pabrik rambut atau bulu mata palsu ternyata masih menyimpan sejuta potensi wisata alam. Salah satu yang mau kuposting adalah curug didaerah Rembang, Purbalingga.
Rembang merupakan salah satu kecamatan di Purbalingga, berada di sebelah utara kabupaten ini. Rembang juga merupakan salah satu kecamatan terluas di Purbalingga. Letaknya lebih tinggi daripada kota Purbalingga sendiri, tak heran untuk menuju kesana akan melewati tanjakan dan turunan membelah bukit. Warga Rembang kebanyakan masih mengolah tanah pertanian dan perkebunan, akan tetapi tak sedikit pula yang pergi merantau sebagai pedagang, ataupun tenaga kerja. Perjalanan menuju Rembang dari kota Purbalingga kurang lebih memakan waktu 1 jam. Lokasi air terjun kebanyakan berada di Gunung Welud, Losari, Rembang.

Minggu, 20 April 2014

Mengejar Sang Gunung


  
bulan juga kesiangan

Hari minggu telah tiba, setelah sibuk 6 hari kerja akhirnya datang juga hari untuk beristirahat, waktunya buat jalan - jalan. Gak sekedar pergi ke pasar Badhog Bancar buat beli lopis ketan, akhirnya bawa juga camdig buat ngejar sang gunung Slamet yang belakangan jarang muncul karena ketutup awan mendung. so, lets go...

  
Titik pertama, dari jembatan Klawing perbatasan Bancar Penaruban, waktu itu matahari sudah agak bersinar dari timur, meski tak begitu terang tapi cukuplah untuk menampakkan si gunung yang kokoh. Jalanan juga masih sepi,, gimana gak sepi, waktu itu masih jam 6 kurang


Lanjut ke pasar Badhog Bancar, buat beli lopis ketan yang maniiiis,, lanjut ke arah Jatisaba, biasanya dari sini juga kelihatan gunung Slamet. Tapi sayang masuk daerah sini malah mendung, dan entah kenapa berkabut. Jadi berasa masuk ke negeri antah berantah, kanan kiri depan belakang ketutup kabut, pesawahan yang luas berubah menjadi lautan kabut yang penuh misteri.


Keluar dari Jatisaba kearah perempatan KedungMenjangan, kabut juga udah berkurang, tapi sayang matahari masih ketutup sama awan mendung. Jadi gak bisa keliatan tuh gunung dari samping Pengadilan Agama Islam., cuma bisa liat pohon - pohon dan sawah yang masih ketutup kabut juga.


Ketika sampai di depan Dinas Pertanian matahari udah makin tinggi, mendung gak kelihatan lagi, langsung gowes aja ke GOR Guntur Darjono. Betul aja, dari arah situ udah keliatan tuh gunung dengan megahnya. Kebetulan di GOR lagi ada acara minggu pagi PocariSweat menyebabkan jalannya rada macet

sudut lain dari GOR Guntur Darjono, Purbalingga


Berhubung semakin siang, dan perut juga sudah demo maka puter balik jalan pulang tapi lewat alun-alun. Dari alun - alun juga kelihatan nih gunung, menjadi latar masjid agung Purbalingga. Satu yang gak bisa diilangin dari alun - alun adalah tempat kegiatan masyarakatnya, mulai dari joging, jualan bubur ayam, opor ayam, gudeg, dan lainnya. Padahal dah ada GOR yang diharapkan menjadi pusat dari kegiatan, dan alun - alun nantinya taman sepi dan dilarang jualan disini. Tapi gimana lagi, alun - alun dah menjadi ikon keramian di kota kecil ini, sepertinya gak bakal bisa dipindah ketempat lain..


  
Waktunya pulang,, lewat lagi jembatan Klawing,, meski udah makin siang, tapi mendung tiba - tiba datang (emang cuaca gak bisa ditebak). Kali ini cuma keliatan pucuknya tuh gunung,,


Semoga lain kali bisa ngejar gunung lagi tapi edisi matahari tenggelam, penasaran apa keliatan jelas atau malah ketutup sama gelapnya langit?? Semoga ada lain waktu melakukannya dan juga untuk berbagi cerita..

Rabu, 22 Januari 2014

Balada Buruh Rambut #2


"Lan, wis krungu Ani pegatan" (Lan, sudah dengar Ani cerai) kata Ria.
Aku hanya mengangguk, menghabiskan pecel yang tinggal beberapa sendok lagi. Aku paling tak suka bila ditengah makan membicarakan sesuatu, apalagi hal tersebut adalah membicarakan orang lain,
Suasana kantin pabrik rambut terlihat masih ramai, padahal ini sudah setengah jam dari waktu istirahat. Dideretan pedagang pun masih ramai para buruh yang mengantri dilayani, ada yang ingin baso, mendoan, nasi rames, atau sekedar es teh. Tak hanya para pedagang yang sibuk, para buruh pabrik pun tengah sibuk menikmati istirahatnya, dari pagi hingga siang tenaganya tercurah untuk pekerjaan dan kini waktunya untuk merenggangkan otot dan pikiran. Dideratan bangku panjang penuh terduduki oleh para buruh yang lahap menikmati makan siangnya. 
"iya Ri, anake Ani nembe TK kan?" (iya Ri, anaknya Ani baru TK kan) tanyaku setelah selesai menghabiskan es teh manis.
"krungu - krungu sih, Ani njaluk pegat gara - gara bojone ra ngode,," (dengar-dengar sih, Ani minta cerai gara - gara suaminya tidak bekerja) lanjut Ria
"halah dasar Anine bae sing aleman,, wis syukur bojone gelem momong anake" (halah dasar Aninya saja yang manja, sudah bersyukur suaminya mau mengasuh anaknya mba Siti akhirnya ikut bicara "jaman siki pancen wong wadon sing ngolet duit" (jaman sekarang memang perempuan yang cari uang)
"kan kawinne merga meteng disit mba" (kan menikahnya juga karena hamil dulu mba) Ria menambah obrolan makin tak jelas
"sekomplek dadi ko ngerti ya Ri"( satu komplek jadi kamu ngerti ya Ri) tanyaku "emang bocaeh cenal - cenil apa?" (memang anaknya genit apa)
"ra sekomplek maning, se kelas malah, nembe tryout ujian kewenangan meteng, marekna geger sekolah" (tidak sekomplek lagi, satu kelas malah, baru tryout ujian sudah ketahuan hamil, menyebabkan ribut sekolah) terang Ria
"tapi kan nek cere melasi anake" (tapi kan kalau cerai kasian anaknya) ucap mba Siti
"ya nek pikirane Ani esi waras ta iya mba" (ya kalau pikirannya Ani masih sehat ya iya mba) kataku "ngesuk - ngesuke melasi anake,, weruh kancane due bapak ibu sing rukun deweke mung karo bapake apa karo ibune tok" (besok- besoknya kasian anaknya, liat temannya punya bapak ibu yang rukun, dirinya hanya bersama bapaknya atau hanya ibunya saja )
"tapi piwe maning wong wis ra cinta,, "(tapi gimana lagi orang sudah tak cinta) kata Ria 
"puyeng ngurusi wong liya, ngurus awake dewek be kadang bingung" (pusing ngurusi orang lain, mengurus diri sendiri saja terkadang bingung) mengakhiri pembicaraan ini
"bener kue Lan, "(betul itu Lan) kata mba Siti sambil menghabiskan sisa es tehnya. "mulane kue Ria, Wulan,, nek mbojo aja kesusu, aja gampang kena goda, wong mbojo kue ra kepenak ngole nglakoni" (makanya itu Ria, Wulan,, kalau menikah jangan terburu - buru jangan gampang terkena godaan, orang menikah itu tidak mudah untuk menjalani) nasihat mba Siti panjang
"njenengan juga iya mbok,, kayane nek wis mbojo juga akeh godaane,, sing selingkuh lha, masalah ekonomi.... (kamu juga kan, kayaknya kalau sudah menikah juga banyak godaannya, yang selingkuh lah, masalah ekonomi.)
"tumben pinter " kataku memotong ucapan Ria "hehehe..
"aku emang dasare pinter Lan" (aku memang dasar pinter Lan) kata Ria sombong
"pinter ngapusi" (pinter berbohong) kata mba Siti sambil berdiri "wis lah aku rep ming ruangan,," (sudah lah aku mau keruangan)
"percaya kan Lan aku pinter" kata Ria menatapaku tajam
Aku hanya tersenyum mendengar perkataan Ria, dia teman bahkan sahabat dipabrik ini. Meski usianya terpaut dua tahun lebih tua dari aku tapi kami tetaplah sepasang teman yang saling mengisi. Terkadang sikapnya yang cuek menjadi contoh bagiku untuk cuek juga menghadapi omongan orang lain. Tak jarang pula sikapnya yang suka menghibur membuatku lupa akan masalah yang sedang dihadapi. Bagiku Ria adalah teman yang tak akan mungkin tergantikan.. 
"Lan,,," dia memanggil lagi namaku ketika melihat aku mulai berdiri 
"mungkin" jawabku singkat kemudian melangkah meninggalkan Ria yang belum juga beranjak
"Wulaaan" katanya lagi
Tak lagi kudengar suara Ria karena aku sudah ditengah - tengah buruh pabrik yang mulai meninggalkan kantin. Jam istirahat tinggalah lima menit, dan itu artinya sudah tidak ada lagi waktu untuk bersantai - santai lagi. Lorong panjang selepas pintu kantin menjadi sangat ramai dengan para buruh yang mulai memasuki ruangan produksi. Hawa panas mulai terasa di lorong menandakan terlalu banyaknya orang yang menempati ruangan tersebut
Dipertengahan lorong kusempatkan untuk mengirim sebuah sms untuk orang penting dalam pabrik ini "pinter ngak pinter, seorang Ria adalah orang yang baik hati, peduli dan kawan sejati". Entah apa yang dipikirkan Ria sekarang, karena ia tak membalas sms ku dengan cepat. Dilain kesempatan Ria mengatakan alasannya tak membalas sms dariku ini.
Ditengah - tengah buruh pabrik yang mempunyai beragam masalah, terselip masalah kecil di pikiranku, 'apa iya sekarang perempuan lah yang mencari uang dan meninggalkan kodratnya sebagai seorang istri?' kataku dalam hati.


Sekian. Tunggu kelanjutannya postingan berikutnya...
#terimakasih sudah berkunjung dan membaca unek-unekku

Selasa, 21 Januari 2014

Balada Buruh Rambut #1

Cerita ini bukan kisah nyata betulan, hanya memang ada beberapa bagian yang mungkin benar - benar terjadi di kehidupan nyata. Bila ada kesamaan nama dan tempat, kiranya itu hanyalah sebuah kebetulan belaka. Cerita ini juga termasuk dalam fiksi, hanya ada dalam khayalan kita saja... Cerita ini hanya dibuat karena kejenuhanku saja, iseng - iseng nulis fiksi lagi...
Lets go...

Matahari sudah benar - benar bersinar diatas sana, dengan seenaknya berkuasa dilangit yang luas tanpa ada awan yang mengganggu. Sinarnya mulai menghangatkan belahan bumi ini, tersampaikan pada dedaunan pohon yang menghijau, tersampaikan pula pada kubangan air tanah yang mulai menyurut. Sinarnya tanpa lelah menyinari bumi ini, entah sampai kapan ia mampu bersinar hanya Sang Penciptalah yang tahu segalanya.
"jeng, sida kondangan ne Bu Lia ra?" (jeng, jadi kondangan tempat bu Lia ga? sms dari teman kerjaku mengganggu sarapanku
"ra ngerti, ndeleng ngko awan"( ngak tahu, liat nanti siang) setengah piring nasi goreng yang tak lagi hangat kutinggalkan begitu saja saat kuketik balasannya
Begitu kuhabiskan teh manis bagianku, langsung saja kuambil tas dan kunci motor yang kusiapkan didalam kamar. Tak kupedulikan ocehan mamakku yang sedang membereskan meja makannya, sering kali ia mengomel bila melihat makananku maupun kakakku masih tersisa. 
"aku mangkat ma" (aku berangkat ma) kataku sambil mencium tangannya. Dapat kulihat garis - garis tanda penuaan diwajahnya yang memang sudah tua. Bila sudah begini, selalu saja muncul perasaan bersalah belum bisa membahagiakan dirinya.
"ati-ati" katanya pelan,
Tak dapat kujawab perkataan mamakku hanya bisa melangkahkan kaki semakin menjauhi ruang makan. Tak kutengok lagi mamakku yang sekarang mungkin sudah sibuk dengan urusan dapurnya. Semenjak kematian ayahku tiga tahun yang lalu, ibuku hanya mampu tuk mengurus urusan dapur. Beliau tak lagi berjualan dipasar seperti saat ayah masih hidup. Aku dan kakakku hanya bisa mengangguk ketika diminta persetujuannya, toh kakakku sudah bekerja di salah satu rumah sakit meski hanya sebagai cleaning servis. Sementara aku waktu ayah meninggal masih duduk dikelas dua SMA, hanya bisa diam menunduk tanpa bisa ikut berkomentar..
'selamat datang mentari, selamat menjalani hari ini lan" ucapku pada diri sendiri menatap matahari diatas motorku..
7777
"kondangan ra?" (kondangan tidar) tanya Ria mendekatiku saat aku baru masuk ruangan
"selamat pagi, kaya kue nek nyapa kanca" (selamat pagi, seperti itu kalau menyapa teman) balas ku tersenyum
Ria hanya tersenyum mendengar ocehanku,, "ya.. ya.. selamat pagi temanku yang cantik" lanjutnya
"gitu dong, pagi juga temanku yang baik hati.." jawabku "aku mau foto copy lap bulanan dulu ya, takut ntar rame" segera aku keluar lagi dengan membawa buku laporan
"ye,, sidane kondangan apa ora?" (ya, jadinya mau kondangan apa enggak?) tanyanya setengah berteriak.
Arus orang - orang yang memasuki pelataran pabrik ini makin banyak. Mungkin ribuan orang ada disini, mencari penghasilan pada pabrik yang telah berdiri selama puluhan tahun. Rata - rata karyawannya adalah wanita, hanya ada beberapa tenaga laki - laki yang dipekerjakan dan itu hanya sebagian kecilnya saja. Bila pagi seperti ini, terlihat dari wajah - wajah para pekerja masih tampaklah semangat yang besar. Canda tawa antar pekerja terdengar disetiap sudut, terkadang membicarakan pekerjaan, kehidupan pribadi, artis ataupun sekedar harga cabe dipasar.
Sengaja kulangkahkah kaki dengan pelan - pelan, sengaja kunikmati setiap udara yang terasa menyapaku pagi ini. Kutatap seluruh aeral pabrik, dari bangunan yang terlihat sudah tua namun masih saja berdiri dengan kokoh, taman yang indah dan terawat karena Sang Mister (pemilik pabrik, merupakan warga Korea) menyukai tanaman, kupandangi lorong panjang yang berisi para pekerja yang mulai akan memasuki ruang kerjanya. 
'kenapa aku bisa terdampar disini' kataku dalam hati
"ngalamun bae"(melamun saja) suara pak Andi mengagetkanku, ia orang HRD tapi sangat suka bercnda dengan orang produksi seperti ku ini.
"pagi pak," sapaku
"pagi juga lan,, "jawabnya sembari menlanjutkan langkahnya
Ruang foto copy berada hampir dibagian depan pabrik, dekat dengan kantor administrasi dan sangat jauh dari ruang produksi tempatku berada. Satu hal yang kusuka dari ruang foto copy adalah petugasnya, bukan naksir (dia sudah punya istri, sudah tua lagi), hanya dia mempunyai sifat kebapakan. Saat kuceritakan masalahku pasti ia mempunyai saran yang berbeda dari pemikiranku, dan itu tak kudapat dari orang lain, bahkan kakakku sendiri tak seperti itu. Aku selalu merasa bila beliau adalah orang yang mirip dengan ayahku,, 
"turnuwun Pak Sugeng" (makasih pak sugeng) kata mba Isa terdengar dari depan ruang fotocopy "hai lan, tumben pagi banget" sapanya
"iya nih mba kepagian berangkatnya" candaku
"kalo ada kesiangan pasti ada kepagian juga ya, hehehe" jawabnya "udah ah, duluan ya..."
"ok mba,,," jawabku singat "pagi pak Sugeng,, mung limang lembar, tak tunggu bae"(hanya lima lembar, kutunggu saja) kataku sambil menyerahkan buku laporan
"yang terakhir kan?" tanyanya menyakinkan dirinya sendiri
"ya seperti biasa pak?" kataku "Pak, kondangan tempat bu Lia ngak?" tanyaku langsung
"ngak tahu juga, lagipula ini kan pernikahan kedua kalinya kan" katanya sambil terus bekerja dengan mesin fotocopy "lagipula tanggal tua, lan"
"nah itu dia pak, tanggal tua lagi,, benar - benar ngak ada dana" curhatku "tapi kemarin waktu Bapak meninggal bu Lia ketempatku"
"belum minggu depan si Aya kan nikahan" tambah pak Sugeng
"aduh pak, ini satu aja belum mana ditambah lagi" kataku "kenapa si harus tanggal - tanggal tua pada nikah"
"kan udah tanggal baik menurut orang tua, lan" katanya
"tapi ngak baik buat aku" kataku "kalo ngak datang ngak papa kan pak, toh masih ada Adit yang udah kelas 5 SD pasti bentar lagi sunatan"
"ngak papa, Lan. Ngak bakal ditanyain sama bu Lia kok. Lagian masalah dia datang waktu ayah kamu meninggal ngak ada kaitannya dengan pernikahan bu Lia, pasti ntar ada undangan lain yang datang." terang pak Sugeng
Secercah harapan muncul atas masalah jadi kondangan atau tidak tempat bu Lia, bila saja ditanggal - tanggal waktu awal gajian pasti aku akan datang. Tapi ini masalahnya dia menikah di tanggal tua, dimana keadaan keuangan sudah benar - benar terkikis.
Andai gaji seorang buruh pabrik rambut sepertiku sama besarnya dengan gaji pegawai negri pasti tak ada ribet dengan urusan sepele seperti ini... Huh tanggal tua yang selalu kuharapkan tak pernah.. 

Sekian. Tunggu kelanjutannya postingan berikutnya...


#terimakasih sudah berkunjung dan membaca unek-unekku

Minggu, 15 Desember 2013

Fun Bike KulaBangga Purbalingga 2013

Dalam rangka penyambut hut kota tercinta, pihak KulaBangga kemarin mengadakan acara sepeda santai keliling Purbalingga. Dari alun-alun, bancar, jatisaba, kedungmenjangan, mewek, kalimanah, tembus lurus ke padamara dan berakhir pulang ke alun-alun lagi. Katanya si rute sepanjang 25km, mungkin panjang banget tapi kalo dinikmati alamnya gak terasa panjang. 

 
Dari pasar, rumah - rumah warga, pesawahan hampir semuanya terlihat enak dipandang mata, apalagi sampai di daerah padamara,,, gunung slametnya itu lhooo... berdiri gagah menjulang langit.



Tiket 30ribu dapat kaos, perdana as isi 2ribu, snak (kayak difoto atas,, ) dan aneka doorprise (dari kaos, jaket, payung, tiket citilink, sepeda, kulkas, motor, dan ALYA, yups mobil alya). Sayang seribu sayang, antara tiket yang terjual ke masyarakat dan hadiah yang disediakan ngak pas porsinya,, masa tiket 11.500 lembar hadiahnya cuma 183 (kemarin pas diundi bahkan ngak ada 183, mungkin cuma 150).
Beberapa hal yang kurang memuaskan dihati dari kegiatan ini,,
Kurangnya pengawasan dalam jalannya sepeda santai dari panitia,, dibeberapa titik pertigaan atau perempatan terkadang ada yang menerobos lewat jalan pintas.
Kurangnya keamanan di pertigaan atau perempatan saat melewati jalan raya, bahaya kan kalau tiba - tiba ada yang ditabrak bis
Rutenya terkadang menyebabkan kemacetan, dipasar Bancar, waktu di daerah Kalimanah-Padamara (antri cuma buat ngambil air minum),,,
Ngak sportif, masa bisa beli tiket tapi ngak ikut sepedaan...

Emang sih, ngak ada manusia yang sempurna, demikian pula sebuah acara, pasti ada celah - celah kesalahan. Tapi tinggal diambil enaknya aja kok, yah dengan acara kayak ginian kan bisa kenal dengan orang lain, bisa jelajah Purbalingga rame-rame, bisa jadi tontonan bagi warga sekitar, salah satu cara bikin sehat juga dengan bersepeda

sayang anak.. sayang anak...

Jumat, 13 September 2013

"Sudi Mampir", Mie Pangsit Purbalingga

Bagi yang cari makan di Purbalingga, bisa jadi salah satu rekomendasi nih...
"Sudi Mampir" kalo diartiin ke bahasa Indonesia bersedia berkunjung, gak sempet nanya kenapa namanya seperti itu, mungkin pemiliknya berharap orang - orang bersedia untuk datang ke kiosnya menikmati mie ayamnya. Maybe, just my opinion...

Apalagi untuk penggemar mie ayam, salah satu mie ayam ini harus dicoba, Tak seperti mie ayam di Purbalingga lainnya, disini kuah sama mienya dipisah, jadi bisa disesuain sama selera. Soal bumbu, pas deh, ngak terlalu berasa rasa mericanya, dan ngak terlalu minyaknya. Kalo mie ngak gampang putus, lembut, kemudian dikasih taburan ayam dan pangsit goreng. Didalamnya juga ada pangsit isi potongan daging ayam,,
Seporsi mie dihargai 7.500 rupiah, kalo es teh 2 ribu. Dijamin kenyang makan seporsi,,

Kalo bisa jangan datang pas jam makan siang, karena biasanya penuh dengan karyawan pabrik rambut disekitar kios ini. 
Lokasinya di depan Indorisky (bekas sepertinya secara sekarang udah bangkrut dan tutup),

Sebagai tulisanku tentang kuliner dan jelajah Purbalingga, semoga dilain waktu bisa nyari makanan lain khas Purbalingga dan bisa jadi tulisan yang berguna..

Purbalingga (kala) Pagi

Dari judulnya udah ketahuan kalau ini suasana Purbalingga saat pagi. Berawal dari bersepeda ngak jelas arahnya, rutenya seenaknya kaki mengayuh pedal sepeda. Sesekali mencoba untuk mencari sudut lain di kota kecilku ini, ternyata sangatlah indah, sepi suasana jalanan, udara yang belum begitu tercampur polusi motor, juga belum terasa sengatan matahari yang panas.


Dari jembatan klawing kearah Kaligondang, dari sini kelihatan pucuk Slamet yang membisu



Kalo yang ini, pabrik rambut, rajin banget mereka hari minggu masih berangkat kerja
,



Salah satu kenangan masa lalu, dulu sering banget lewat sini karena masuk jalur angkutan umum, tapi sekarang udah ditutup dan hanya dilalui warga sekitar. 



Salah satu sekolah TERFAVORIT dikota Purbalingga, sekarang udah pesat banget pembangunannya, 4 tahun lalu belum seperti ini.


Yang ini lagi kesasar di Keponggok, disamping SD sebelum turunan, dulu sering banget ke lapangan samping SD buat pelajaran olahraga.




Kalau yang ini semua dari sisi Toyareka,, hamparan sawah yang menghijau menyejukan mata, keheningannya membuat kita tenang berlama - lama bersepeda disini.