Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 September 2014

Kenangan Itu



Tak habis pandanganku pada sudut sekolah itu. Tepat berada ujung deretan ruang Kepala Sekolah, TU dan perpustakaan. Dan ruang-ruang kelas kejuruan yang setiap hari berbeda seragam. Diruang yang akan sepi bila jam pelajaran sedang berjalan dan akan ramai lalu lalang murid saat bunyi istirahat telah berunyi.
Disudut itulah tersimpan secuil memori yang mungkin tak kan terhapus. Hanya akan sedikit terlupakan dan akan kembali bila muncul sang pemicunya. Tertumpuk oleh kenangan dan kejadian yang terus bertambah. Menjadi kenangan paling belakang yang ada dalam ingatan.
Sekilas kulemparkan pandangan pada koridor depan ruang kelas. Terasa berbeda meski terkesan masih sama. Panjangnya masih sama, cat temboknya telah berbeda. Jumlah ruang dan kegunaannya masihlah sama, tetapi penghuninya telah berbeda. Entah bisa atau tidak aku kembali pada masa itu, sebuah pertanyaan besar yang menyangkut ruang dan waktu.
"Mba.." petugas TU berkerudung itu memanggilku.
Aku hanya membalasnya dengan anggukan. Aku tahu legalisir ijazah telah selesai. Dan aku tahu pula kenangan tersebut pun telah usai. "Sudah selesai?"
` *** `
"Tau anak XAK1 gak yang biasa ngikut gerombolan Tata?" 
"Yang sering berangkat dan pulang sama-sama itu ya? Yang rambut lurus sebahu?"
"Ya, itu tuh.. tau gak?"
"Enggak. Memang guru yang hafal tiap anak muridnya."
"Yee.. guru aja gak bakal hafal sama kita, kalo kitanya gak bandel, pinter atau bodoh ya susah dihafalin sama guru" 
Diam. Hening. Sunyi.
Tak terdengar lagi percakapan dua siswa itu lagi dari dalam perpustakaan. Hanya ada detak jarum jam di dinding perpustakaan. Sementara ratusan buku dan ribuan koran tak dapat bersuara. Hanya bersembunyi dibalik rak-rak buku yang diam membisu. 
'Siapa yang bicara diluar" tanyaku dalam hati 
Gara-gara tak membawa tugas contoh laporan keuangan koperasi harus kukerjakan diruang ini. Bu Tyas gak pernah toleran dengan anak-anak yang melupakan tugasnya. Tak peduli segudang alasan yang sudah kami siapkan, dia tetap saja menyuruh kami tuk mengumpulkannya. Apapun caranya. Dalam perpus yang memang sepi aku memulai laporan yang tertinggal didalam kamarku. 
Dan sekarang konsentrasiku entah pergi kemana setelah mendengar percakapan diluar perpustakaan.Meski namaku tak disebut, aku tahu maksud mereka adalah aku. Hanya aku anak XAK1 yang berangkat dengan gerombolan Tata dan anak-anak jurusan TKJ. 'Kenapa tadi gak keluar saja sih daripada penasaran gini' ujarku sambil mengembalikan jalan pikiranku.
 ` *** ` 


'Ah, pohon itu' Aku menatapnya takjub. Tak percaya kalau pohon ini masih dipertahankan ditengah perubahan sekolahku ini. Kelasku berada didepan pohon besar ini. Rindang saat kami beristirahat selepas olahraga atau jam istirahat. 
Batangnya masih kokoh, meski terlihat bagian atas pohon yang dipotong disana-sini. Hijaunya daun-daun itu masih tetaplah sama, meski tertutup debu karena sekarang kemarau. Dan lihat, daun-daun kuning yang rontok itu masih saja berjatuhan dilantai lapangan dan depan kelas. Aku tersenyum melihat daun-daun layu itu tergeltak dilantai, aku masih ingat anak-anak kelas kami sering kali ribut karena daun-daun tersebut membuat depan kelas kami menjadi kotor.
Haruskah aku meminjam mejad Nobita, yang menjadi penghubung masa depan dan masa lalu. Kenangan itu terlalu indah tuk ditumpuk disudut otakku. Rasanya ingin aku berada dimasa itu saja. Mengulangnya dan tinggal didalamnya.
"De, kantinya disebelah mana ya?" kutanya pada anak Perkantoran yang sedang melintas didepan pohon.
"Sekarang didepan sana kak, gabung dengan fotocopy. Disamping tempat parkir" jelasnya 
"Makasih ya"
Dia hanya mengangguk dan tersenyum, kemudian bergegas meninggalkanku. Mungkin ia sedang terburu-buru, berjalan dengan cepat dan menghilang di belokan bertuliskan Toilet.

 ` *** `
"Beneran sudah gak sakit?" tanya Ryan
"Mending dibawa ke rumah sakit. Siapa tau dia gegar otak atau lupa ingatan.."
"Doainnya kok gitu Ta, ntar kalo beneran lupa ingatan gimana?" aku memotong perkataan Tata
Hari Jum'at adalah waktunya bersih-bersih dan senam bersama. Namun bukannya sehat, kepalaku malah pusing.
Aku yang masih sibuk dengan rumput-rumput yang sudah meninggi tak sengaja terkena bola orange itu. Sekelompok anak kelas X dan XI sedang bermain selepas acara senam. Menyebabkan kepalaku langsung terasa berputar, meski tak sampai pingsan tetapi tubuhku seketika melemas. Aku masih tersadar akan suara teman-temanku yang langsung berteriak. Aku pun masih merasa kalau tubuhku dipapah oleh Lia dan Sri. 
"Enggak lah, aku cuma kaget aja" kataku menatap teman Tata tersebut.
"Aku bener-bener minta maaf ya. Beneran gak sengaja tadi.Arah bola itu seharusnya kering bukan kekepalamu" cerocosnya
"Udah ah, mending pulang aja yuk, daripada disini kena ceramah sama si Ryan ini" ujar Tata sembari menarik tanganku.
Ryan, teman sekelas Tata yang tak sengaja melempar bola basket tersebut. Sejak kejadian tersebut ia benar-benar panik dan selalu menanyakan keadaanku. Bahkan pada jam istirahat, dengan wajahnya yang panik ia membawakanku segelas teh manis.
Sekilas Ryan adalah pemuda biasa, tubuhnya kurus dengan tinggi kurang lebih 165 meter. Dibalik seragam olahraganya terlihat kulitnya yang kecoklatan. Rambutnya hitam dan pendek, meski sedikit acak-acakan dan terlihat berkeringat. Sementara yang paling menarik adalah pandangan matanya yang tajam, mungkin ia akan memandang dengan penuh minat apa yang menarik hatinya.
Ia hanya diam menatapku pergi ditarik Tata. Tepat dibawah pohon depan kelasku ia berdiri. Tatapannya masih terarah pada kami yang perlahan mengecil karena semakin menjauh. Sementara aku pun melangkah pulang, terdengar celotehan Tata dan teman lainnya. Saat kutengok kearah belakang, Ryan masih berdiri ditempatnya. Ryan masih berdiri didepan pohon besar itu. Bayang pohon mulai mengaburkan sosoknya.

 ` *** `
"Lulus tahun berapa nak?" tanya Bu Jum sambil melayaniku.
Kuterima piring nasi pecelnya, lengkap dengan sepotong mendoan yang hangat. Sosok itu masih ada, kukira aku takkan lagi menemukannya saat kembali kesekolah ini. 
"Sudah lima tahun yang lalu bu, sudah banyak yang berubah bu.."
"Ya, beginilah nak, disana sini dirubah, dulu yang ruang kelas sekarang jadi lab komputer, warung ibu juga ikut berubah" adu ibu yang terlihat berumur 60 tahun lebih.
"Tapi rasanya tetap sama bu," ucapku setelah merasakan satu suapan nasi pecel favoritku dulu.
Satu lagi yang tak bisa lupakan dari sekolah ini. Kantin yang selalu ramai saa istirahat. Hingga terkadang bangku-bangku yang panjang ini tak muat bagi para pelajar. Meski panganan yang disediakan sederhana dan mudah ditemukan, tetapi tetap saja memberikan warna yang berbeda.
"Biasa bu.." ucap seorang laki-laki berkacamata yang baru duduk diujung bangku panjang
"Udah selesai ngajarnya mas, pagi amat" tanya Bu Jum
"Laper, daripada gak konsen" katanya sambil mengambil keripik singkong didepannya.
Aku hanya tersenyum, 'inikah guru-guru jaman sekarang, meninggalkan muridnya hanya untuk kepentingannya pribadi' sekelat pikiranku tertuju pada hal yang bukan-bukan. Segera saja kuhabiskan nasi pecelku dalam diam. Hanya denting sendok yang beradu dengan piring terdengar lirih. Tak kupedulikan lelaki yang kini juga sibuk dengan nasi pecelnya.

 ` *** `
Pohon, kantin dan sudut depan perpustakaan  adalah sebagian kecil dari ingatan masa sekolah. Ingatan yang hanya bisa dipanggil tanpa diulang kembali. Kejadian demi kejadian yang terus berulang dan berhenti saat kita menerima ijazah kelulusan.
Sekali lagi kuhembuskan nafas yang terasa berat. Seberat langkahku yang akan keluar dari sekolah ini. Entah kapan aku bisa kembali lagi. Menikmati kenangan masa indah.
Sekali lagi kulewati sudut sekolah, yang dulu merupakan perpustakaan. Mencoba menghimpun seluruh kenangan yang lalu, mengumpulkan kepingan gambar-gambar akan kejadian diperpustakaan. Sekali lagi kulewati pohon depan kelasku. Menatapnya tuk terakhir kali dari ujung atasnya yang tak terlihat, dedaunannya yang hijau, batangnya yang kokoh dan gurat-gurat kulit kayu yang terlihat. 
"Mba.." suara seseorang menghentikan langkahku
Dari belakang pohon terlihat lelaki berkacamata itu setengah berlari. Seketika itu pula bayang akan Ryan yang berdiri didepan pohon muncul kembali. Ia kah Ryan yang dulu menatapku dibawah pohon?
Saat kujelajahi lelaki tersebut, bayang Ryan memang semakin terlihat. Meski tak lagi sekurus dahulu, tetapi tubuhnya masih saja kecil. Rambutnya kini tertata rapi dengan tatanan mengikuti jaman modern. Dan matanya masih saja tetap seperti dulu, memandangku dengan penuh kesungguhan hati. Ya, bola mata itu masih memancarkan ketajaman yang kurindukan. 

Sabtu, 06 September 2014

The Rubicae



Disadur dari L’artista (Wi Noya) yang dimuat Suara Merdeka pada Minggu, 24 Agustus 2014.

The Rubicae

Dia berbeda dari kaum lelaki yang begitu menggandrungi kopi. Hampir seluruh pelayan mengenalinya begitu ia memasuki The Rubicae. Pak dokter berkacamata, dengan tubuhnya yang kecil dan kurus, ditambah rambutnya yang sedikit beruban diatas telinganya. Favoritnya ada latte berhiaskan hati, yang tentu saja sudah dihafal oleh pelayan kafe ini. Kopi tak pernah sejernih air mineral, tak bisa setransparan teh apalagi seputih susu, demikian pengertian kopi baginya, Alexander.
Aku tak pernah melihatnya datang bersama seorang kawan, baik perempuan atau lelaki. Terkadang ia datang dihari Senin, Rabu, atau akhir pekan dan dengan pasti ia akan duduk disofa dekat jendela. Menonton aksi barista, menghampiri Natasya si pianis mingguan disudut lounge atau hanya sekedar membaca buku tebalnya. Ada satu hal yang membuatku bertanya-tanya, mengapa ia betah berjam-jam menunggu lagu “La Vie en Rose” mengalun.***
Seringkali kudapati komentar elegan akan kafe ini, The Rubicae. Mungkin karena atapnya yang serupa kubah berhiaskan mozaik, ditambah sapuan cat marun yang selaras dengan lampu gantung yang berpijar keemasan. Terkadang jari-jari Natasya menambah suasa romantis saat menari diatas piano.
Termasuk pelanggan setia yang satu ini, ia baru saja masuk dan berjalan lambat seraya mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru kafe. Saat matanya berhasil menemukan kedua mataku, langkahnya makin mantap mengarah tempatku bertugas.
“Selamat malam, Nona Juliet. Bagaimana kabarmu?” Aku tak tahu kapan ia mulai mengganti sapaan Anda padaku. Kami mulai dekat saat aku dengan percaya dirinya menyajikan langsung latte pesanannya. Dan kebetulan namaku mudah diingat baginya, layaknya tokoh dalam roman picisan Romeo dan Juliet.
“Ah, aku mulai bosan pada Romeo, aku bahkan berniat untuk mengkhianati cintanya” kutampakkan wajah sendu
Alexander tersenyum mendengar candaanku, dilepasnya kacamatanya yang sedikit berembun karena rintik gerimis. “aku mau secangkir latte bergambar sabit”
“Kau tak lagi jatuh cinta?”
“Mungkin, saat kau melupakan Romeomu itu”
Tak lagi kubalas ucapannya, aku sibuk dengan mesin kopi membuat pesannya. Kulihat ia serius memandangiku yang sedang mencurahkan susu dari corong stainless saat mencipta buih rosetta. Saat pesannya telah tersaji didepannya ia tersenyum semanis caramel. Dokter itu tak sadar tingkahnya membuat jantungku sedikit berdebar.
Ternyata pengetahuannya tentang kopi tak seperti yang kubayangkan. Ia bahkan paham kisah Kaldi sipenggembala di Ethiopia yang menemukan biji kopi. Alexander bahkan tahu seperti apa biji kopi Arabica, robusta, luwak, atau apapun itu. Ah, aku menyesal baru sekarang berjumpa dengan lelaki mempesona seperti Alexander.***
Entah sejak kapan Alexander mulai menyamakan jadwal kedatangannya dengan jadwalku. Terkadang kami bertukar cerita dan tertawa lepas, meski berpasang mata menatap kami penuh rasa curiga.
“Minggu ini Natasya cuti dan kami berniat memutar koleksi jazz lainnya, dan lagumu tak akan diputar”
Ia membelalakan bola matanya tak percaya.
“Kami mencoba sesuatu yang baru” kataku meyakinkannya.
“Aku bisa memainkannya untukmu, tentu kalau kau bersedia menunggu hingga kafe tutup” ucapku sembari berlaih pada mesin kopi Jura.
Alexander terdiam, tangannya mulai mengaduk kopi, denting perlahan terdengar dari peraduan sendok dan bibir gelas. Senyumnya mengembang tepat sebelum ia menyeruput sisa lattenya.***
“Silahkan, sebuah hadiah dariku” Kosodorkan segelas kopi dingin, karena ia menepati janjinya menemaniku hingga kafe tutup. The Rubicae kini telah tutup, tak ada pengunjung, tak ada alunan musik, tak ada celotehan pelayan dan barista. Hanya ada aku dan Alexander.
Perlahan kumainkan piano yang biasanya dipegang Natasya. Meski tak selihai pianis itu, tapi aku yakin penampilanku tak begitu buruk. Alexander menatapku, menikmati tarian jariku yang lincah diatas tuts piano, terkadang terlihat ia ikut menyanyikan lagunya.
Quand il me prend dans ses bras
Il me parle tout bas
Je vois la vie en rose
Dan akhirnya tepuk tangannya bergema mengiring akhir lagu tersebut. Ia tersenyum menatapku yang sedang menghampiri mejanya.
“Tak terlalu buruk bukan”
“Harusnya kau belajar bermain piano daripada menjadi seorang barista. Bukankah kau tak mendalami ilmu meracik kopi itu”
“Aku kenal pemiliknya, dan saat itu ia membutuhkan tenaga peracik kopi, meski tanpa pengetahuan”ucapku penuh kebanggaan.
“Kau tak berniat mengenalkan pelanggan setia The Rubicae padanya”
“Ia orang yang tak pandai bergaul, kau tak akan suka”
“Kau takut aku jatuh hati padanya?”
“Hah, tentu saja tidak” tepisku mengalihkan pandangan “lagipula ia sudah memiliki kekasih”
“Kekasih” ia tertawa lirih
“Kau sendiri? Kurasa seorang dokter yang tampan tentu saja mempunyai segerombolan fans”
Alexander terdiam, ia membalas pandanganku, matanya seakan mencari sesuatu didalam kedua mataku.
“Dua tahun lalu, hampir ada cincin yang melingkar dijari manis ini” ia memperlihatkan jari manisnya yang terlihat kerempeng. “Tunanganku seorang pramugari, dua bulan sebelum pernikahan ia melakukan penerbangan tuk terakhir kalinya. Sayang pesawatnya jatuh ke Samudra Pasifik, tak ada yang pernah diketemukan”
“La Vie en Rose?” tanyaku semakin penasaran
“Lagu favoritnya, ia bilang Prancis adalah hal yang paling romantis. Ia penggemar kopi, dari biji arabika, robusta, luwak apapun itu ia menyimpannya. Aku menyesal dulu tak pernah menemaninya minum kopi favoritnya, latte” ungkap Alexander sedikit menyeruput icepressonya.
“Kau terus mencari kenangannya?”
“Menyakitkan untuk melupakannya, aku sudah mencoba tapi semua sia-sia. Entah mengapa aku terpikir untuk terus mengingatnya, mengenang kepedihannya, hingga semuanya membosankan dan nantinya tak akan kurasakan apapun”
Tangan Alexander gemeter, membuatku memberanikan menggenggamnya. Akal sehatku mulai kabur.
“Kenangan memang tak akan pernah bisa kita hapus. Namun, bukankah ada dua pilihan? Mengabaikannya dalam sudut memori atau menciptakan kenangan baru”
Alexander mencoba tertawa mendengar nasihatku. Aku berhenti berkata, hanya memandanginya. Suara tawanya beradu dengan seruputan kopi yang mulai surut. Ia terhenti saat mendengar bunyi kerontang, menyisakan batu-batu es. Segelas kopi yang tandas itu seakan menyiratkan hatinya yang tengah berkecamuk dengan masa lalunya.***
“KAULAH satu-satunya alasanku datang ke The Rubicae. Kaulah yang kuharapkan menjadi kenangan baru” tutupnya diujung obrolan kami.
Aku berusaha mengendalikan diri, setelah setangkai mawar tak lagi dapat kukuasai. Bunga perlambang cinta itu terjatuh tepat diatas marmer kelabu, seakan mengejekku yang berulah bak pengecut.
Aku bangkit, tak lagi mampu kubalas tatapan Alexander, perlahan setetes penyesalan mulai tergambar dihatiku. Kulihat Alexander perlahan mengikutiku bangkit dari duduknya dan mulai melangkah menuju pintu. Lekas kupakai mantelku dan meninggalkan The Rubicae yang kian sunyi, hanya terlihat punggung laki-laki penikmat latte tersebut kian mengecil, semakin jauh meninggalkanku dan The Rubicae.
Seutuhnya adalah kesalahku, membawanya bernostalgia dengan masa lalunya semenentara aku tak bisa menjadi penghibur yang baik. Membiarkanku melihat sisi gelap hatinya, sementara aku tak kan pernah bisa menyinari ruang itu dengan cintaku. Semoga Tuhan tak mempertemukan kami dalam ruang dan waktu dimasa depan. Sungguh aku berharap Alexander tak memberi kesempatan untukku mengisi secuil ruang dihatinya.
Andai waktu bisa kuundurkan, setahun saja, aku rela kehilangan semua, rekan, bakat meramu kopik, bahkan jati diri. Sebab, The Rubicae, kedai kopi tempat kami bersama adalah milik laki-laki yang lebih dulu menerangi hatiku dan menuntut sebuah kesetian.*** *** ***

Minggu, 27 Oktober 2013

Undangan Tanpa Nama#4

"kau tak datang akan kubatalkan semua ini, tak peduli dengan calon bayi yang bukan milikku.. "katanya
Masih saja kata - kata Anjar terngiang dikepala, dari kemarin hal ini terus saja berada dikepalaku, seolah tak mau pergi dan tergantikan oleh pikiran yang lain.Berulang kali kuyakinkan pada diriku sendiri untuk tak lagi memikirkan Anjar lagi, namun berulang kali pula ada rasa penasaran akan kata - kata Anjar tersebut.
Hampir hari mingguku ini tak terisi oleh kegiatan apapun, lari pagi atau sekedar bersepeda keliling kota pun tak kulakukan. Hanya terdiam saja dalam kamarku yang selalu setia menemaniku dalam kesendirian ini. Bahkan kubiarkan saja ibuku yang sedikit marah - marah gara anak perempuan satu - satunya ini sangat malas dihari minggu ini. 
"itu cucianmu tinggal dijemur tang" teriak ibuku dari luar kamar "ibu mau pergi ke pengajian di masjid,, kamu jangan lupa dijemur nanti" lanjutny lagi
"iya" jawabku pelan
"jangan lupa dijemur" kata ibuku mengulanginya
Aku terdiam, tak kujawab perintah ibuku, toh nanti kan kujemur, 'entah kapan' kata ku pelan. Aku masih saja bergelung ditempat tidurku yang nyaman, kutarik kembali selimut tuk menutupi tubuhku. Meski tak ada rasa kantuk tapi rasa selimut yang menutupi tubuhku membuatku sedikit nyaman.
'kalau benar kata Anjar, kenapa ia harus tanggung jawab' kataku dalam hati
'udah lah itu bukan urusanmu' suara dari sebrang hatiku yang lain
'bukankah masih ada sedikit rasa untukku, bukankah kau masih merindukannya' bela separuh hatiku
Tak bisa kupungkiri, walau telah lama Anjar menghilang, tapi masih saja ada sedikit perasaan untukknya, masih saja belum bisa kulupakan segala kenangan tentangnya. Setelah sekian lama waktu berjalan, aku hanya mampu berpura - pura dalam pelupaan tentang Anjar ***
"lho beneran hari ini ngak masuk gara - gara mau ke kawinannya Anjar" kata mba Intan disebrang sana
"iya mba, tolong titip absen ya" kataku sambil mengecek kembali isi tasku
"yakin datang" katanya
"aku hanya datang mba, ngak ada niatan tuk merusak acaranya" kataku "sebagai teman" akhirnya ada kata yang pas yang dapat kujadikan alasan
"perasaanmu?" tanyanya lagi
"tenang aja, sudah tutup pake lakban" candaku
"ntar jangan nangis ya.."
"kenapa harus nangis, emang bayi nangis pengen susu" tantangku
"sekarang aja bisa ngomong seperti ini, kita lihat besok apa masih bisa becanda lagi" katanya
"doain aja mba"
"okey, ya udah sana siap - siap, dandan yang cantik biar Anjar nyesel salah pilih" pesan mba Intan sebelum menutup telfonnya***
 "lama ngak ketemu tang, kemana aja??" sapa Ayu ketika bertemu di pelataran rumah Anjar
"perasaan disini saja ngak kemana - mana, dirimu tuh yang pergi jauh ke Jepang, ngapaian balik sih?" godaku
"masih seperti dulu yah, suka godain orang lain" katanya sambil tersenyum
"bukannya enak di Jepang?" tanyaku lagi
"tapi kangen sama yang disini" jawabnya "tapi ngak termasuk lo tang"
Belum sempat kumembalas candaannya kami sudah disambut beberapa teman lama yang ikut hadir dalam ijab kabul Anjar. Rasanya kembali ke jaman dahulu, ketika masih berseragam putih abu - abu, hal - hal konyol yang dulu terjadi sekarang malah jadi bahan pembicaraan yang seru. Hampir semuanya mengalami perubahan meski sifat dasar mereka masih melekat sama seperti dulu.
"tang, bareng dimobilku ya" kata Anjar sambil menarik lenganku
"tapi...
"cie,, cie,,, kesempatan terakhir sebelum kawin nih" ledek Adit
Anjar hanya tersenyum mendengar ledekan dari yang lainnya juga. Mungkin memang saat inilah waktu yang tepat untuk meluruskan segalanya sebelum peristiwa besar yang kan merubah hidupnya nanti.
"bapak sama ibu?" tanyaku ketika sudah didalam mobilnya
"mereka didepan bareng mba Fera" perlahan ia melajukan mobilnya, mengikuti iringan mobil - mobil lain yang sudah berjalan lebih dulu
"sekali lagi gue minta maaf tang" katanya membuka pembicaraan
"udahlah, toh semua udah berlalu"
"satu hal yang mesti lho tahu, gue juga ngak ingin dengan pernikahan ini" katanya sambil terus menyetir
"semua ini demi bakti pada kedua orang tua yang sudah berhutang budi sama keluarga pak Wijaya," lanjutnya
"lalu.. ini bukan sinetron Njar" kataku
"anaknya mereka, Fira hamil kemudian ditinggal pacarnya"
"bukannya dia dokter" tanyaku makin penasaran
"biasa lha, gaya hidup di Jakarta memang ada yang tidak kita mengerti" katanya
"dan ngak ada penolakan darimu?" tanyaku
"bapak punya riwayat jantung,, aku takut" kata Anjar pelan
"okey, gue terima penjelasan ini dan ini ngak akan merubah apapun" kataku
"betul,, aku hanya ingin menyampaikan penjelasan ini" katanya tersenyum memandangku sejenak
"aku berharap suatu saat kamu akan menemukan lelaki yang lebih sempurna" katanya
Aku hanya mengangguk saat ia berkata seperti itu, sekarang harus kuhilangkan semua rasa dihatiku ini. Tak ada lagi kenangan yang boleh diingat, karena satu jam lagi Anjar akan menjadi milik orang lain, mau tidak mau, ikhlas atau tidak ikhlas, semua ini akan terus berjalan
"kita masih bisa bertemankan?" tanya Anjar
"okey, just friens.."kataku tersenyum "moga pernikahanmu lancar, apapun yang terjadi bayi itu tidak berdosa Njar," lanjutku 
"makasih tang" Anjar akhirnya tersenyum
Mungkin senyum terakhir yang dapat kuabadikan sebelum Anjar menjadi milik orang lain. Senyum terakhir yang harus kusimpan dalam laci hatiku yang paling dalam dan tak kan boleh kubuka lagi...
"saya terima nikahnya dan kawinnya Syafira Wijaya binti Ahmad Wijaya dengan mas kawinnya yang tersebut tunai" kata Anjar terasa tegas dan lancar
"bagaimana saksi?"tanya sang penghulu
Dan iringan jawaban "syah" terdengar serempak didalam masjid yang megah ini. Dan seiring dengan jawaban tersebut meluncurlah setitik air mata yang tak bisa dibendung lagi. Tak mampu kulihat Anjar lagi yang sedang tersenyum menghadap kamera. Anjar, nama itu harus segera kuhapus dari seluruh ruang hatiku...




Nb. mungkin cukup sekian fiksi ini, tapi bila ada waktu dan keinginan tuk menulis maka akan tercipta lanjutannya, berharap ini hanya cerita belaka, tak ada cerita dalam kehidupan yang nyata, siapa juga yang mau ditinggal kawin sama orang yang telah kita tunggu


Selasa, 01 Oktober 2013

Undangan Tanpa Nama #1


"Maak,, ini undangannya siapa?" setengah kuberteriak pada emakku yang ada didalam rumah.
Hanya sepi yang kudengar, tak ada suara balasan dari pertanyaanku. Mungkin emakku terlalu sibuk dengan belanjaannya. Belum sempat kubuka, langsung kumasukkan saja dalam tasku, dan segera berangkat. Hari makin siang, matahari sudah keluar dari tempatnya yang dingin, mulai meninggi menghangatkan dunia ini.
Kupacu motor yang belum lunas ini, sesekali kutambah kecepatan, berbelok menghindar beberapa motor dan mobil. 'undangan ungu' sesaat pikirku berjalan saat berhenti di lampu perempatan. 'kenapa gak ada nama yang ditujunya' pikirku masih berlanjut. 
"Tiiiiiiiiin", suara klakson panjang dari belakang membuyarkan pikiranku. Segera saja kuhilangkan pikiran undangan ungu itu, fokus kembali pada perjalananku.
Hampir sampai tengah hari aku sibuk dengan komputer, print, kertas, bagian gudang, sales, dan telpon yang berbunyi.Dari hari senin hingga sabtu selalu saja seperti ini, kegiatan yang rutin harus dilakukan kecuali aku tak masuk kerja atau tak ada kiriman dari pabrik (tapi itu hal yang mustahil sepertinya)
'jika aku bukan jalanmu ku berhenti mengharapakanmu, jika aku memang tercipta untuk kukan memilikimu ... jodoh pasti bertemu' suara lagu dari komputer mba Intan mengalun pelan. 
Entah mengapa lagu itu tiba - tiba sangat terdengar merdu, penuh penghayatan hatiku mendengarkannya. Padahal lagu ini sering kali diputar diruangaku,mba Intan yang mengaku sebagai afganisme adalah rekan kerjaku dan meja kerjanya tepat didepan meja kerjaku. 
"oiii" seru Afit yang sudah berada didepanku. "nglamun bae" lanjutnya
Aku hanya tersenyum, tak dapat kupungkiri aku memang sedang melamun, aku tak lagi konsen menulis data order barang, memang mataku menatap komputer tapi pandanganku kosong.
"makanya cari pacar gih, " katanya lagi sambil membuka tasnya "nih, orderan dari Toko Jaya kalo bisa dikirim nanti sore" katanya sambil menyerahkan beberapa lembar kertas
"ntar tak tanyai pak Ian dulu, bisa kirim cepat ngak?" jawabku singkat, daripada digoda terus oleh Afit "jalan sana, udah siang kan" lanjutku
"pasti mau ngelamun lagi ya???? bagi bagi dong???" godanya lagi sambil tersenyum lebar
"mba Intan, ntar kalo Lintang ngelamun disiram air ya?" katanya sambil berjalan
"aaaa" teriak Afit tepat dipintu keluar sambil mengelus kepalanya yang baru saja kulempari buku stok barang. ****
"kok ngak dimakan nasi pecelnya, tumben kamu ngak nafsu sama makanan favoritmu?" tanya mba Intan menatapku curiga
Hanya kuaduk nasi pecelku saja, sudah sangat bercampur antara sayur dan bumbunya. Tapi entah mengapa belum kusendoknya, perasaanku tiba - tiba saja tidak ingin memakan apapun. Rasanya aku hanya ingin tidur, bermimpi tuk menghilangkan rasa sesak dalam hatiku
Pikirku masih tertuju pada undangan ungu yang kutemukan tadi, tak sengaja kubuka ketika akan mengambil dompet waktu makan siang. Mataku segera menatap pada dua nama yang tercetak dengan ukuran besar dan berwarna cerah itu. Nama itu, nama kedua orang yang tertulis di undangan itu, rasanya sangatlah menyakitkan mata. Segera memori ingatan dalam pikiranku bermunculan, seperti film yang menampilkan beragam adegan dengan berbagai peran dan nama.
 'aaaahhhh' runtukku dalam hati 'andai saja aku bisa melompati putaran waktu, aku kan memilih tuk tak menjalani hari ini, dan melompat ke hari esok'.

ANJAR PRAYOGA, SH - dr. SYAFIRA WIJAYA




Jumat, 14 Juni 2013

Tertipu cinta MONYET

Saduran dari karya ponakanku, cerpen anak SMA..

Kisah ini awal ketika aku masih duduk di bangku kelas 2 SMP. Masa – masa remaja yang dilalui dengan kegembiraan dan kegalauan yang datangnya silih berganti.
Waktu itu, aku mempunyai teman sekelas bernama Sari. Lumayan cantik, berkulit putih, tubuh yang kurus dan tinggi membuatnya dia terkenal dikalangan angkatan kami. Aku dan dia sudah berteman sejak masuk SMP, sama – sama mengikuti kegiatan Pramuka menjadikan kami semakin akrab. Suatu hari, ketika waktunya untuk pulang, Sari meminjam hpku. Ia bilang untuk menghubungi temannya, karena hpnya mati.
Sesampainya dirumah kubuka kembali hpku itu, kubaca sejenak sms Sari pada temannya. Tak disangka pada malam harinya teman Sari tersebut mengirimkan pesan padaku. Awalnya hanya iseng, tapi lama kelamaan saling mengenalkan diri dan terjalinlah suatu pertemanan dari situ. Awalnya tak kenal, kemudian saling ber – sms – an, kemudian dia mengajakku untuk melakukan kopi darat, ketemuan disuatu tempat untuk lebih saling mengenal lagi.
Tian, itulah teman pria yang dulu disms Sari. Dari Sari pula aku mendapat rujukan kalau Tian itu adalah anak yang baik, seorang pelajar dari Sekolah Menengah Atas. Atas dasar itu pula lah, aku memberanikan diri untuk melakukan kopdar (kopi darat) dengan Tian, asal saling membawa teman, itu syarat dariku. Akhirnya aku membawa Sari dan Tian membawa seorang teman laki – lakinya, Wisnu namanya. Kami hanya mengobrol kala itu, saling menanyakan kesukaan masing – masing.  ****
1 bulan telah berlalu…
Wisnu kini sering menghubungiku walau lewat sms, dan itupun hanya menanyakan kabar belaka. Ternyata dia lumayan asyik sebagai teman curhat, dari yang selalu mendengarkan keluhanku tentang susahnya pelajaran atau kegiatan Pramukaku yang membuatku bosan. Meski jarang, tapi dua atau satu minggu sekali Wisnu selalu mengajakku untuk bertemu, sekarang makan bersama atau ke perpustakaan bersama.
“Nis, kamu mau ga jadi pacarku?” tanya Wisnu ketika kami menyusuri taman kota bersama.
“Bukannya kamu sudah punya pacar?” tanyaku “Ntar aku malah jadi orang ketiga lagi” lanjutku
“Kata siapa aku punya pacar, belum lha” jawabnya santai
Berlangitkan malam yang tak penuh bintang, aku terdiam sejenak, memikirkan apa yang harus kuucapkan pada Wisnu. Salah ucap sekata pun bisa menjadi penghancur pertemanan kami. Aku tak mau hubungan teman yang sudah baik ini menjadi retak gara – gara aku menolak cintanya.
“Aku tak bisa menjawabnya sekarang, aku perlu waktu” jawabku
Wisnu tersenyum, “iya tak papa” jawabnya singkat. “Kita makan yuk” katanya sambil menunjuk warung bakso kesukaan kami di taman kota ini. ****
Entah kenapa ayam berkokok dengan cepatnya, tak terasa aku sudah harus bangun dari tidurku yang nyaman ini. Sinar matahari belum berhasil menembus kaca jendelaku, berarti ini masih jam lima pagi, pikirku dalam hati. Ada rasa malas untuk bangun, ada rasa tuk melanjutkan tidurku saja, biar melanjutkan mimpi yang tadi belum selesai.
“Bangun nis, sholat subuh dulu” kata ibuku sambil mengetuk pintu kamarku.
“Ya bu, “ aku langsung bangun, duduk ditepi tempat tidurku tuk mengumpulkan semangat baru menyambut hari ini.
Rutinitas masih saja seperti kemarin, hampir bosan rasanya melakukan hal ini. Bangun, mandi, sarapan, pergi, belajar, terus berulang setiap harinya selama bertahun – tahun. Ingin rasanya cepat – cepat menyelesaikan sekolah ini, biar bisa kuliah yang waktu belajarnya tak terlalu mendominan seperti saat SMP atau SMA.
Hampir sama seperti hari – hari kemarin, aku tak begitu menikmati pelajaran hari Sabtu ini. Rasanya barusan aku masuk kelas, eh malah sekarang udah waktunya pulang. Bel tanda pelajaran terakhir telah berbunyi disambut sorak – sorak dalam hati teman – temanku yang sudah jenuh dengan pelajaran Kesenian ini. Tak ada yang berlama – lama dikelas, semua anak segera menghambur berlari keluar kelas dan berbaur dengan anak – anak yang lain. Hampir semuanya bercerita tentang kegiatan nanti malam minggu yang sudah direncanakanya.
“Nis ntar malam ke taman lagi yuk” sms dari Wisnu
Sambil melepas sepatu dan meletakkanya dilemari sepatu aku tersenyum membacanya. Dalam hati mulai terasa getaran aneh yang muncul setiap kali aku membayangkan Wisnu.
“Ok,” balasku singkat.
Nanti malam adalah malam minggu, malam yang panjang buat anak – anak muda. Malam bagi para pasangan kekasih untuk saling bertemu, saling mengungkapkan cintanya pada pasangannya. Tapi malam yang kelabu bagi yang sendiri, tanpa teman pendamping hanya bisa menikmati pemandangan sepasang kekasih yang saling bergandengan tangan.
Malam ini juga sudah kubulatkan hati tuk menjawab pertanyaan dari Wisnu. Sudah kupikir dalam otakku yang pas – pasan ini, kan kujawab segala rasa aneh yang selalu muncul ketika bersama Wisnu.
“Kamu masih nunggu jawaban aku ngak Nu” tanyaku
“Jawaban pertanyaan yang mana” tanya Wisnu sambil menikmati es krimnya
“Masih muda kok udah pikun” candaku
“Masih dong, sampai kapanpun aku nggak bakal lupa pertanyaanku itu” jawabnya mulai serius “Emang udah ada jawabannya?” tanyanya lagi
“Ehm……” aku menggantung jawaban
“Jangan gitu dong, bilang iya atau tidak aja kok susah”
“Iya aja deh, daripada ntar ngak dianter pulang” jawabku mengalihkan pandanganku dari Wisnu
“Makasih yah” jawab Wisnu tersenyum.”Aku janji cuma kamu seorang yang ada dihatiku”  ****
1 tahun berlalu ….
Dalam menjalin suatu hubungan biak pertemanan atau percintaan aku berprinsip untuk selalu jujur. Membuka segala masalah yang ada itu jauh lebih baik daripada mengetahuinya dari belakang. Demikian pula dengan hubunganku dengan Wisnu, kami sepakat untuk saling terbuka satu sama lain. Apapun masalahnya, kami harus hadapi dengan kejujuran sehingga bisa menjadikan kami lebih bersatu.
Sejak 1 tahun yang lalu ketika aku memberikan jawabanku pada Wisnu, kami sepakat untuk saling memberikan panggilan sayang, layaknya pasangan kekasih yang lain. Seperti beb, darling, say, bahkan ada juga yang sudah memanggil papi mamih (tapi aku kurang terlalu suka dengan panggilan terakhir, kan belum apa apa kok memanggilnya sudah seperti itu, kurang berkenan saja dalam hatiku). Aku lebih sering memanggilnya Mas, dan dia memanggilku dengan Dik.
Tak terasa sebentar lagi aku harus melewati ujian, tak terasa pula kalau aku sudah kelas 3. Masa – masa yang paling sulit, harus pandai – pandai membagi waktu antara pelajaran dan kegiatan diluar sekolah.
Entah karena akunya yang terlalu sibuk dengan persiapan ujianku atau ada alasan yang lain hubunganku dengan Wisnu mulai merenggang. Sempat terasa kalau Wisnu mulai berubah, tak seperti pada awal – awal kami pacaran dulu.
“Mas, mulai berubah deh” tanyaku sambil mengambil buku dirak perpustakaan kota.
“Berubah apaan” tanyanya
“Contohnya nih ya, kadang sms ku ngak dibalas, kemarin marah – marah nggak jelas” kataku sambil membaca buku referensi yang kuambil tadi
“Kan mas juga sibuk, memangnya hanya kamu yang sibuk ujian” katanya sambil berjalan menjauh.
Berawal dari kejadian diperpustakaan kota itulah mulai sering muncul pertengkaran – pertengakaran dalam hubungan ini. Sambil mengikuti persiapan ujian aku terus saja memikirkan masalah ini, setengah otakku kupaksa untuk berpikir materi ujian sementara setengahnya lagi kupaksa untuk memikirkan hubunganku dengan Mas Wisnu. Aku juga tak mau aku gagal pada ujian sementara aku juga gagal dalam mempertahankan hubunganku dengan Mas Wisnu.
Seiring berjalannya waktu, ketika ujian makin dekat aku mendengar kabar tentang Wisnu. Pernah temanku berkata ia melihat Wisnu dengan seorang pelajar dari sekolah tetangga. Walau hatiku hampir hancur, tapi kucoba tuk mempertahankan. Toh kata Mas Wisnu, yang pernah jalan dengannya hanya saudaranya saja, kucoba tuk percaya padanya.
Namun, aku sendiri pernah memergoki dia sedang jalan dengan wanita lain. Dan yang lebih menyakitkan hati, mereka bergandengan tangan dengan mesra layaknya sepasang kekasih. Kali ini, kucoba tuk berpikir lebih rasional, hampir dua hari aku melupakan materi ujian hanya untuk memikirkan kejadian kemarin.
“Aku udah capek Mas,” kataku saat berjumpa dengannya
Wisnu hanya terdiam melihat tatapan mataku yang semakin menajam.
“Aku sudah bosan dengan segala yang kamu tutupi dari aku, sepertinya prinsip kejujuranku sudah tak lagi ada dalam hubungan ini “ ujarku
“Lalu kamu maunya seperti apa Dik, kamu tak percaya sama aku” tantangnya
“Aku mau putus, kita sudahi semua sampai disini” ujarku lagi, air mataku hampir saja membanjiri pipiku kalau tak dicegah dengan logikaku.
“Ok, kita selesai” ucap Wisnu dengan singkatnya dan terasa tanpa ada beban
Cinta memang tak seperti yang kita bayangkan. Cinta juga tidak selamanya menyenangkan begitu pun sebaliknya cinta tak selamanya menyedihkan. Hubunganku dengan Mas Wisnu tak selamanya berjalan dengan mulus seperti pikiranku dulu. Ternyata banyak tikungan dan pertigaan yang harus kita hadapi, dan tak selamanya itu sejalan.****
1 bulan telah berlalu, kesibukanku dengan ujian bisa menjadi pelampiasanku untuk mengalihkan dari segala yang behubungan dengan Wisnu. Meski sebenarnya masih ada rindu dalam hatiku untuk Wisnu, masih ada rasa ingin melihatnya senyumnya lagi, masih ada rasa tuk mendengar candaannya lagi.
Ujian telah berlalu, aku mencoba tuk semakin meninggalkan bayangan tentang Wisnu. Beruntung ada teman laki – laki yang ternyata sudah suka padaku dari kelas 1, tapi ia tak pernah berani tuk mengatakan padaku. Aku tak pernah berpikir untuk menjadikan Angga sebagai pelarianku saja dari Wisnu, mulai kucoba tuk membuka hatiku pada Angga.
Ketika aku mulai nyaman dengan hubunganku dengan Angga, aku mendapat kabar dari Sari kalau sebenarnya Mega, teman beda kelasku menyukai Angga. Aku dan Mega adalah teman dekat, kami selalu menghabirkan jadwal istirahat bersama di kantin, mengerjakan tugas bersama di perpustakaan, aku bahkan menganggap Mega salah satu sahabat terbaikku. Soal Angga, Mega tak pernah memberitahukan padaku tentang perasaannya.
Dalam kebimbangan, satu sisi aku nyaman dengan Angga, disisi lain Mega adalah sahabatku sendiri. Lebih baik aku mengorbankan perasaanku, aku lebih memilih Mega. Kuputuskan hubunganku dengan Angga dengan baik – baik, ia pun berusaha tuk memahami keadaanku ini.
Untungya keputusanku diperkuat dengan kelulusan dan aku tak satu sekolah lagi dengan Angga maupun Mega. Jadi tak ada beban dalam hatiku, tak harus memilih antara Angga atau Mega lagi. ****
‘Wisnu datang lagi’ hati kecilku bersorak gembira. Entah darimana ia tahu aku bersekolah dimana, tapi tadi siang dia ada didepan gerbang. Ia mengajakku makan siang, hanya sebagai ucapaan permintaan maaf atas salahnya waktu dulu. Selain itu juga ia mengungkapkan kalau ia benar – benar menyesal, dan masih menyimpan perasaan untukku.
Aku tak bisa menolak Wisnu, hati benar – benar berseri, segala keindahan dibumi ini muncul dalam hari hariku bersama Wisnu. Dalam hati kucoba tuk mulai menghapus kesalahan Wisnu.
“Aku janji takkan mengulang kesalahan yang lalu, aku janji hanya seorang Nisa yang sekarang ada dihari – hariku” ucapnya makin membuat hatiku luluh. ***
Hari – hari berlalu, dengan cepatnya ia berganti menjadi bulan. Tak terasa hubunganku dengan Wisnu telah satu tahun lamanya. Awalnya memang menyenangkan, rasa indah memenuhi ruang dalam hati. Tapi entah mengapa, beberapa minggu belakangan terasa berbeda, ada sesuatu yang mengganjal dalam hubungan ini. Terasa Mas Wisnu semakin sering tak menjawab telfon ku, ia berkilah kalau sedang sibuk kuliah, terkadang pula ia lupa dengan janji yang ia buat sendiri. Namun masih saja kucoba untuk berpikir positiv mungkin, benar Mas Wisnu sedang sibuk atau sedang ada masalah dengan kuliahnya.
Lusa adalah ulang tahun Mas Wisnu, aku sengaja tak mengatakan apapun, sikapku padanya juga seperti biasa. Aku ingin memberikan sebuah kejutan, mungkin dengan ini dia bisa memberikan perhatiannya sepenuhnya pada hubungan kami.
Hari ini adalah jadwalku mengikuti les tambahan. Beruntung ada Maya, ia mengajakku untuk kabur dari jadwal les, katanya ia bosan dengan materi yang diajarkan. Maya mengajakku kepertokoan didekat taman kota, pucuk dicinta ulam pun tiba, aku rasa ini saat yang tepat untuk mencari kado untuk Mas Wisnu. Lupakan les, toh hanya sekali aku tak berangkat les.
“May, aku ke toko itu sebentar ya, siapa tahu ada yang bagus” kataku pada Maya
“Ok, ketemuan di warung mie Udin ya” jawabnya
Beberapa toko telah kulalui tapi belum ada yang menarik perhatianku, baru kutemukan sebuah jam tangan laki – laki yang rasanya pas ditangan Mas Wisnu. Sebetulnya aku ingin mencari sebuah kemeja untuknya, katanya dia akan mengikuti KKN, dan aku ingin kemeja itu mengingatkannya padaku saat KKN nanti.
Baru satu langkah melewati resto, langkahku terhenti, pandanganku tertuju pada satu orang yang selalu mengisi relung hatiku. Mas Wisnu, ia sedang duduk disalah satu kursi resto tersebut, yang membuatku lebih kaget, didepannya ada seorang wanita muda, terlihat seumuran denganku. Tangan mereka saling menggenggam, dari cara bicara keduanya terlihat mereka sedang membicarakan hal yang menarik, dan yang paling menyakitkan terlihat dari pandangan Mas Wisnu yang memandang wanita itu, seperti saat dia memandang mataku.
Langkahku semakin kupercepat, rasanya ingin berlari bila tak terhalang beberapa orang yang lalu lalang diresto. Hampir saja emosi memenuhi tubuhku, rasanya ingin sekali memukul batang pohon pisang tuk melampiaskan amarah ini.
“Byurr” kulempar isi gelas lemon tea pada wajah Mas Wisnu, lalu kubanting gelas itu dan terjatuh kelantai berkeping – keping.
Lantai langsung basah, pecahan kaca gelas terlihat hancur berkeping – keping. Orang – orang dalam resto langsung tertuju pada kami, beragam tatapan mereka, penuh tanya, penuh amarah dan penuh penasaran.
“Nis” tanya Wisnu pelan sambil mengusap wajahnya
“Ssstt jangan bicara” kataku tegas “Kamu pacaranya?” tanyaku pada gadis didepan Wisnu
Ia terdiam, mungkin bingung dengan keadaan ini. Ia menengok kesegala arah, melihat seluruh penjuru resto sedang menatap kami.
“Jawab saja, nggak usah takut” tanyaku lagi
“Bukan, dia cuma teman” jawab Wisnu
“Siapa yang tanya sama kamu” kataku sinis, “sekali lagi kutanya, kamu pacarnya” kataku lagi pada gadis ini
“Kami satu kampus,,” jawabnya pelan “Wisnu pacarku sejak tiga bulan yang lalu.”
“Ok, makasih jawabannya” kataku  sekarang pandanganku tertuju pada Wisnu, dari tatapannya ia terlihat memelas sangat berbeda dengan sorot mataku yang penuh amarah.
“Kita selesai Mas, dulu kucoba tuk menyatukan hatiku yang retak, tapi kali ini sudah hancur berkeping – keping” jawabku sambil menahan emosi “Rasanya ingin aku tampar pipi kamu, tapi aku tak mau tanganku kotor menyentuh manusia yang tak bisa memengan ucapannya sendiri”
“Nis… “ katanya pelan
“Tak ada lagi Wisnu dalam hidupku, tak satu tahun kedepan atau bahkan ratusan tahun kedepan, hatiku sudah remuk melihat kebohonganmu”
Kutinggalkan mereka berdua, tak tahu apa yang terjadi dengan Wisnu dan pacar barunya itu. Aku tak lupa mengucapkan maaf pada kasir resto dan memberikan uang ganti atas gelas yang pecah. Rasa maluku ketika seluruh orang menatapku dengan kasihan sudah hilang, tertutup dengan sakit hatiku yang mulai membayangiku, hampir air mataku tak bisa terbendung lagi.****
Diteras belakangan masjid aku duduk, menikmati sakit hati yang sedang melandaku. Air mataku tak habis – habisnya turun, entah kenapa semakin lama semakin deras saja. Untung saja, tak ramai orang ditempat ini, sehingga membuatku semakin nyaman untuk menangis. Hatiku sungguh menyesal, mengapa dulu aku begitu percaya pada Wisnu, pada perkataannya bahwa hanya aku seorang dihari – hari.
“Sapu tangan” tanpa kusadari ada suara disampingku
Lama tak jumpa membuatku agak terpaku, Angga, masih sama seperti dulu hanya terlihat makin kurus saja mantanku ini. Kuseka air mata yang masih dipipi, kucoba tuk tersenyum melihatnya.
Ia kembali menyodorkan sapu tangannya. “Masih bersih kok” katanya
“Makasih, “ jawabku sambil menerimanya dan menghapus sisa air mataku.
“Kalau mau nangis lagi, ngak papa kok” katanya “sebenarnya sih lebih cantik kalo tersenyum” candanya
“Halah.. emang kapan lihat aku” selidiku
“Ya deh, yang habis mergokin pacarnya selingkuh sampai nggak liat cowok yang duduk disamping pacarnya” katanya “eh mantan pacar” ralatnya
“Masa sih?” tanyaku tak percaya “Berarti dengar semua kata – kataku”
“Kayaknya aku ngak mau ikut campur urusan itu” katanya
Aku tersenyum, ia masih sama seperti Angga yang dulu, rasa nyaman dengan dekatnya masih terasa. Dalam hati terasa sesal juga kenapa Wisnu tak bisa seperti Wisnu.
“Mega ke Australia” ujarnya “Ikut tantenya untuk sekolah disana”
“Berarti betul kabar itu, nggak nyangka dulu waktu SMP dia ngak bisa bahasa Inggris” kataku setengah tak percaya “Lalu?”
“Apa sih yang nggak mungkin, Einstein saja saat SD bodoh tapi malah jadi penemu hebat”
“Hubunganmu” tanyaku
“Yah, mau gimana lagi, daripada jarak jauh ngak bisa dipertahankan, kita sepakat untuk putus” katanya “tapi baik – baik lho, sama – sama menyadari saja”
“Ini baru keren” kataku takjub, tak seperti aku yang putus gara – gara selingkuh “Kalo jodoh tak kemana kok” kataku
“Kayaknya kata – kata terakhir juga cocok buat yang baru putus” katanya
“Apa sih,,”kataku sambil tersenyum “Mulai detik ini aku berhenti mikirin pacar” tekadku
“Kalau sahabat” katanya menatap tajam, masih ada setitik rasa dalam pandangan Angga
“Sahabat” ujarku sambil menyodorkan tangan pada Angga
Angga ikut tersenyum dan menjabat tanganku mantap. “Sahabat” ujarnya “tapi kalau jodoh tak kan kemana kan” katanya berlanjut****