Tampilkan postingan dengan label cerita pribadi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita pribadi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 Desember 2015

Aku, Cerita dan Seseorang

Jarang nulis tentang keluarga dan kehidupan pribadi, karena itu bukanlah hal yang tertalu menarik. Tapi belakangan rasanya ingin menulis tentang seorang yang teramat berarti dalam hidup. Tapi tak tahu harus dimulai darimana, entah dimana awal dan akhirnya.


Dari beliau mengalir cerita-cerita jaman dahulu. Mulai garis keturunan yang sampai sekarang saya gak hafal, beragam makanan yang gak akan pernah saya makan, kisah hidup masa lalu yang sangat berat tapi kadang dirindukannya lagi sampai tempat-tempat yang dulu ada tapi sekarang gak ada lagi.

Siapa dia??? Jawabannya nanti saja diakhir tulisan ini.
Otak ini langsung berjalan lambat kalau beliau sudah bicara mengenai silsilah keluarga. Kalau sebatas kakek-nenek saya masih bisa paham, tapi kalau sudah diatasnya saya menyerah. Begini kata beliau, ayahnya nenek saya menikah dengan si A lahirlah nenek saya dan saudaranya. Karena pekerjaannya seorang tukang slender (bahasa jawa untuk tukang aspal jalan) yang suka kemana-mana jadi punya istri dimana-mana. Nah disinilah letak rumitnya menghafal pohon keluarga tersebut, si istri B punya beberapa anak, istri C juga sama punya beberapa anak ditambah anak dari suami sebelumnya. Belum lagi si ayah nenek saya ini juga punya kakak dan adik, dan seterusnya. Nah, bingungkan ngapalin tingkatan sebutan yang benar.
 
Soal sebutan juga rumit (dalam tradisi kami sebutan untuk keluarga besar dinamakan juga "pernah"). Sebutan sebetulnya tidak memandang umur, pangkat, kekayaan atau pekerjaan, tapi dijaman sekarang dimana segala sesuatu diukur dari materi, panggilan pun berubah. Contoh, saya harus memanggil kakak dari ibu dengan sebutan pakde, dan bagi istrinya budhe. Tapi ada satu kasus, saya memanggil anak dari budhe saya dengan sebutan ibu (seharusnya kak atau mba) karena dia seorang guru, punya suami seorang lurah dan umur yang lebih tua. Meski sudah mulai termakan jaman, tapi masih ada segelintir orang yang menghargai "pernah" ini, dan tak memandang umur, pangkat, jabatan, dan harta ia masih menghargai orang yang lebih tua dalam susunan keluarga besarnya.

Perbedaan jaman membuatnya terkadang bingung dengan kecanggihan era sekarang. Seperti soal toko online, beliau bilang enak banget gak perlu kemana-mana barang udah nyampe dirumah. Padahal dulu katanya, dia harus jalan kaki hingga ke desa tetangga untuk beli kebutuhan rumah tangga seperti minyak tanah, garam, panci, dan lainnya. Sering kali beliau memandingkan fungsi dari benda jaman sekarang dan dahulu. Cerita beliau, dulu belum ada plastik, kalau beli minyak goreng harus pake botol beling yang berat, beli gula pasir juga dibungkus kertas, mau bikin nasi jagung harus rela berjam-jam menumbuknya gak kaya sekarang tinggal ke tempat penggilingan. 
Demikian perbedaan makanan, sekarang banyak pilihan makanan instan yang cepat dibuat. Dari mie, bubur, kopi, roti, nuget, sosis, hingga jus buah. Lah dulu, cuma ada jagung rebus, ketela goreng, sampe tempe bungkil. Kata beliau, dengan adanya makanan yang cepat saji dan beraneka macam ini maka makin banyak penyakit yang aneh-aneh pula. Bener juga sih pemikiran beliau.

Dulu beliau menghabiskan waktu bermainnya di sawah, sambil membantu memanen padi. Nah sekarang, anak-anaknya baru mau pergi ke sawah udah dilarang sama ibunya, yang katanya kotor, ada kumannya, takut tersesat, kalo ujan takut kena petir. Akhirnya sianak main dirumah, main diwarnet, cuma kenal sama dunia maya yang makin menyesatkan. Jaman sekarang pohon-pohon tak lagi ditanam, sekarang manusia menanam rumah dibumi ini. Gak ada lagi pohon jambu yang bisa dipanjat rame-rame, gak ada lagi rimbunan pohon bambu yang terkadang membuat anak-anak ngeri takut ada lampornya.

Dan yang paling dirindukan adalah orang-orang dari jaman beliau. Satu per satu mereka pergi untuk selamanya, tergantikan anak-cucu. Pelan tapi pasti semakin menyusut, teman hidup, orang tua, saudara, kerabat, teman bermain, kenalan berpindah pada dimensi yang abadi. Hanya lewat bunga tidur mereka bertemu, dan kenangan akan mereka kembali menggodanya.

Dari beliau saya ada, saya belajar, bukan tentang A,B atau perkalian saja tapi mengenai kehidupan sejati. Belajar menyikapi berbagai karakter orang, belajar menghargai tumbuhan dan hewan, belajar berlindung dari hujan dan angin, belajar menyelesaikan masalah hidup yang tak kunjung berhenti, dan terus belajar untuk hidup. 

Terkadang saya marah, kecewa, sedih akan sikap beliau yang sering kali tak terpikirkan oleh pemikiran saya, tapi saat melihat bayangnya kembali saya kembali belajar. Entah dengan apa saya membalas ilmu-ilmu yang sudah melekat dalam ingatan dan hidup, hanya berusaha menjadi apa yang terbaik baginya. 
Tulisan ini saya buat untuk mama saya. Beliau gak akan pernah membaca tulisan ini, dan saya pun tak akan pernah mengatakan pada beliau. Biarlah ada sedikit rahasia diantara kami. Maafkan anakmu ini yang sering ngeselin, suka tanya ini itu, terkadang melakukan sesuatu sesuka hati, masih sering berontak, dan segala kelakuan melenceng anakmu ini. Seberapapun keras saya mencoba untuk menjadi anak baik tetapi rasanya masih saja ada celahnya.

Terimakasih ma, for everything 

Dan terimakasih untuk pembaca sekalian yang sudah membaca tulisan lebay ini. Salam dari kota kecil Purbalingga, terkirim salam pula dari hujan yang tiap hari datang.. 

Sabtu, 28 November 2015

Eksibisi SMK 2015



Meski acara ini tidak hanya diisi oleh SMK tapi juga dari SMA dan kearifan lokal lainnya, tapi berhubung saya alumni SMK maka yang saya bahas tentang dunia SMK saja. Pameran ini dilaksanakan kemarin (25-27 Nov) di GOR Goentoer Darjono Purbalingga. Ditujukan untuk para siswa SMP di seluruh Purbalingga (biar semangat nerusin sekolah daripada masuk pabrik bulu mata). 

Dan ternyata yang ikut pameran ini cukup banyak, sayang gak ngitung total ada berapa sekolah yang ikut promosi. Masing-masing sekolah menampilkan keunggulannya masing-masing. Misal dari SMK N 1 Bojongsari, mereka punya jurusan Tata Boga maka ditampilkan siswanya yang sedang masak dan beberapa contoh hasil makanan. 

 SMK Soedirman, sekolah kejuruan khusus kesehatan.
 
SMK N 1 Kutasari, bidang otomotif.



 SMK YPLP, mereka buka jurusan otomotif, pengelasan, dll.


 




SMK YPT 1, juga otomotif, teknik kendaraan ringan

SMK Penerbangan, termasuk yang berkembang pesat.

SMK Widya Manggala, otomotif, akuntansi, multimedia.

SMKN 1 Bojongsari, Tataboga.


SMK N 3 Purbalingga, ini sekolah baru, tapi dilihat dari produknya kreatif dan unik.

SMK N 2 Purbalingga, punya jurusan pertanian, perikanan.

SMK N 1 Purbalingga,  yang paling tua di dunia SMK Purbalingga, buka jurusan Akuntansi, Penjualan, Sekretaris, Teknik Komunikasi dan Jaringan, Rekayasa Perangkat Lunak. (hafal semua karena dulu mantan murid)



SMK Muhammadiyah 3 Purbalingga, baru dua jurusan Perbankan Syariah dan Farmasi, sekolah ini juga berkembang pesat apalagi sudah punya gedung sendiri.



Pertama, maafkan bila tulisan ini tidak secara mendetail, karena waktu yang mepet jadi gak sempet nanya-nanya dan juga karena penuuuuuh,, banyak banget anak-anak SMP, buat ngambil foto aja susah. 

Semakin banyaknya sekolah SMK menjadi sebuah pilihan bagi anak-anak SMP yang hendak meneruskan sekolah ke jenjang lebih tinggi. Kenapa pilih SMK??? Yang saya dapat dari sekolah ini dan mungkin tidak disekolah lain (SMA) pinter dalam urusan 'ketak-ketik bikin laporan, menulis sepuluh jari dan dapat ilmu sesuai jurusannya (kalau di Akuntansi ya bisa bikin laporan keuangan, tau tentang FIFO/LIFO, ngitung pajak penghasilan, dan lainnya, kalau temen saya di Teknik Komputer dan Jaringan tau lebih banyak tentang perbaikan komputer, jago bikin wesite, dan dunia per-komputer-an).

Yang terpenting kalau mau nerusin sekolah di SMK adalah udah tahu mau kerja dan minatnya di bidang apa. Kalo dari SMP udah jago di komputer ya mending pilih jurusan komputer, kalo suka ngutak-atik motor ambil otomotif, kalo punya cita-cita kerja di bank tinggal ambil Akuntansi, mau jadi chef pilih jurusan Tata Boga, punya bakat bikin baju pilih Tata Busana. Dan dalam memilih jurusan itu jangan karena terpaksa, karena yang dilakukan dengan terpaksa itu hasilnya pasti kurang memuaskan. Kalau orang tua belum setuju, ya tinggal dibicarakan lagi dan lagi. 
 

Jangan khawatir kalo lulusan SMK gak bakal bisa kuliah, justru kalo anak SMK melanjutkan kuliah sesuai jurusannya maka ia akan lebih ahli. Misal dari Akuntansi dan kuliah di jurusan tersebut maka udah punya ilmu-ilmu dasarnya. Tapi gak masalah juga kalau anak SMK kuliah di lain jurusan (seorang teman SMK di jurusan otomotif, dia kuliah di keperawatan) tapi dia harus belajar dari awal dan ilmu dari SMKnya gak kepakai (tapi kalo urusan bikin laporan ia lebih jago dibanding anak-anak dari SMU).

Tulisan ini bukan untuk mengesampingkan sekolah SMA tapi hanya sebagai opini dari salah satu alumni SMK. SMA pun punya keunggulannya masing-masing. Maaf juga gak semua SMK yang ditampilkan diberi keterangan yang lengkap, kurang data disana-sini. Mungkin dilain waktu bila ada pameran SMK lagi bisa dibahas lebih dalam. Untuk panitia pamerannya juga jangan hanya beberapa hari tapi satu-dua minggu biar waktu kunjungannya gak berdesak-desakan, kan lebih enak buat keliling cari informasi.


Terimakasih sudah berkunjung dan membaca sedikit cerita dari saya.
Salam hangat dari kota kecil di bawah gunung Slamet.

Dan sebagai anak sekolah kita gak boleh lupa 
untuk jajan dan naik angkot

Minggu, 18 Oktober 2015

Kemarau Nan Panjang

Kemarau tak kunjung pergi
Meski hujan telah dirindukan setiap manusia
Sinar matahari kian membara
Dan manusia semakin berkeluh kesah dengan situasi
Siapa yang disalahkan???



Musim kemarau tahun 2015 ini terasa amat panjang, dari akhir Juli hingga sekarang, bahkan menurut perkiraan hingga bulan November. Sejumlah kekeringan tlah menyebar, panen pun banyak yang terancam gagal hingga kebakaran hutan Sumatra dan Kalimantan yang asapnya merambah negeri sebrang. Semua gegara kemarau.

Disisi lain, bila kita ingin membangun rumah inilah waktu yang tepat, ingin usaha jus dan minuman segar inilah waktu yang banyak mendatangkan laba, ingin menjemur kerupuk dan ikan asin inilah waktu yang ditunggu, inilah musim kemarau yang terkadang ditunggu oleh sebagian orang.

Seperti uang logam yang memiliki dua sisi, demikian pula dengan kemarau. Dan itulah yang dijelaskan di dua paragraf awal. Satu sisi ia membawa bencana tapi disisi lain ia juga membawa anugerah. Seperti itulah musim kemarau.

Apa yang diberikan Tuhan bukankah harus kita syukuri, tanpa perlu panjang lebar mengeluh. Demikian pula dengan kemarau, tak perlu kita saling menunjuk pihak mana yang paling bersalah. Tinggalah kita saling merenung dan memperbaiki sikap masing-masing. Apakah kita sudah merusak alam hingga menyebabkan kemarau panjang ini? Ataukah benar mereka yang telah merusaknya dengan berbagai dalih. 
 
Setelah kita renungkan tentang kemarau panjang ini, tinggalah kita menentukan sikap. Akankah kita akan bersikap seperti ini saja atau merubah apa yang selama ini kita lakukan dan menyebabkan kemarau panjang. Bila tindakan kita sebelumnya adalah merusak alam maka kita harus kembali untuk merawatnya. Mulai melakukan tindakan kecil untuk kelestarian alam ini. 
Kita bisa mulai dengan tidak membuang sampah sembarang (bila tidak ada tempat sampah, maka sampah tersebut disimpan dulu dikantong sampai kita temukan tempat sampah), mulai menghemat sumber daya alam (seperti listrik, bensin, air, dll), menghemat penggunaan plastik dan tidak membuangnya di alam bebas seperti hutan, gunung, dan laut, tidak mengotori aliran sungai dan saluran air di sekitar rumah, membiasakan menanam pohon disekitar rumah dan tindakan lain yang terlihat sederhana namun memiliki banyak arti bagi alam ini.

Dibalik kemarau itu ada ..
Siapa bilang bunga tidak mekar..
 
Penjual jus buah & kelapa muda laris manis ...
 
Olahan kerupuk, keripik pisang, ikan asin, garam, dll semuanya memuaskan ...
 
Bangunan rumah cepat kering dan cepat selesai ...
Terimakasih sudah berkunjung dan membaca sedikit pemikiran ini,
Mari kita kembali pada alam meski kemarau panjang ini belum selesai..

Rabu, 14 Oktober 2015

Lingkaran Generasi



Saya kembali, dari penatnya jalanan menuju heningnya rumah. Saya telah pulang, dari hiruk pikuk hidup menuju damainya sebuah keluarga. Ya, keluarga..

Kali ini bahas soal keluarga menurut sudut pandang "dunia yang kecil" ini, pernah kubaca dari sebuah buku, 'setiap keluarga memiliki kitab masing-masing, yang tak pernah sama didunia ini, kadang keluarga mengisahkan kesedihan, kegembiraan, hangat, dingin, penuh tawa, tangis dan air mata, intrik dan berbagai persoalan'.

Keluarga A tidak akan sama dengan keluarga B. Keluarga yang hidup di Amerika tentu akan berbeda dengan mereka yang hidup di Afrika. Demikian pula mengenai latar belakang sosial, pendidikan, politik, sosial budaya dan faktor lain sebagainya. 

Keluarga itu seperti lingkaran, yang tak pernah putus. Seorang manusia dilahirkan dari keluarga, kemudian beranjak dewasa dan membentuk sebuah keluarga baru. Mereka yang dulu dilahirkan sebagai bayi, tumbuh menjadi remaja, dewasa dan tua serta memiliki anak dan cucu. Kita semua hanyalah menjalani lingkaran takdir.

 
Pernikahan adalah pintu dari generasi keluarga. Melalui ritual sakral tersebut kita melepas dan mendapat keluarga. Meski tidak sepenuhnya melepaskan keluarga yang lama, belum juga mendapat secara penuh keluarga yang baru, serta mendapat tambahan dari keluarga luar.

Sepasang manusia dari dua keluarga yang berbeda sepakat untuk menjadi satu keluarga kecil. Lelaki dan perempuan ini telah berjanji tuk menjalani hidup bersama dimasa yang akan datang. Mereka yang dulunya merupakan bagian dari keluarga masing-masing kemudian menjadi satu keluarga baru. Tanpa meninggalkan keluarga yang lama, bahkan saling menjadi anggota keluarga yang lain.
 
Yang tua menjadi yang muda, yang dulu masih ngompol sekarang sudah mencari nafkah sendiri, demikianlah pergantian tersebut. Dari kanak-kanak kelak ia tumbuh menjadi seorang kakek-nenek. Dari kakek-nenek lahirlah generasi muda yang siap menaklukkan dunia.

Dalam keluarga, kita takkan hanya mendapat pelukan hangat dari ibu atau ayah, tapi terkadang ada pertengkaran sesama keluarga, pertentangan dari anak. Tak selalu keluarga membawa damai bagai anggotanya, tetapi kadang kala kita. Jangan lupakan tentang warisan, tak bisa dipungkiri harta peninggalan ini pun menjadi penyebab perpecahan sebuah keluarga. Antara kakak dan adik, antara anak mantu dan mertua seringkali menutup rasa kekeluargaan ketika dihadapkan sebuah masalah bernama "warisan".

Namun dari keluarga pula kita mendapatkan pelajaran penting, bila kita menjadi anak yang baik kelak kita kan menjadi orang tua yang baik dan mendapat anak yang baik pula. Kita yang menghormati dan menyayangi orang tua dan saudara pastilah akan disayangi oleh mereka. Dari keluarga kita diajari untuk bertahan hidup, menjalin hubungan dengan orang lain, meraih cita dan impian dan menghargai sesama dan alam semesta. Yang memberi semangat tuk bangkit kala terjatuh adalah keluarga, dorongan dan perhatian mereka takkan pernah tergantikan oleh orang lain yang bukan keluarga. 

Dan akhirnya, tulisan ini hanyalah dari sudut pandang penulis mengenai keluarga. Disuatu sore sembari menanti senja yang hendak datang. Bersama hangatnya keluarga besar yang tak pernah terlupakan (meski mungkin kelak kita semua akan berpisah)... 
 
Mari menikmati sore bersama teh Sari***** dan cemilan, dalam senja kemarau ini.
Terima kasih sudah berkunjung dan membaca sedikit cerita ini, selamat menikmati senja (bila anda membacanya saat sore)..

Kamis, 18 September 2014

Kenangan Itu



Tak habis pandanganku pada sudut sekolah itu. Tepat berada ujung deretan ruang Kepala Sekolah, TU dan perpustakaan. Dan ruang-ruang kelas kejuruan yang setiap hari berbeda seragam. Diruang yang akan sepi bila jam pelajaran sedang berjalan dan akan ramai lalu lalang murid saat bunyi istirahat telah berunyi.
Disudut itulah tersimpan secuil memori yang mungkin tak kan terhapus. Hanya akan sedikit terlupakan dan akan kembali bila muncul sang pemicunya. Tertumpuk oleh kenangan dan kejadian yang terus bertambah. Menjadi kenangan paling belakang yang ada dalam ingatan.
Sekilas kulemparkan pandangan pada koridor depan ruang kelas. Terasa berbeda meski terkesan masih sama. Panjangnya masih sama, cat temboknya telah berbeda. Jumlah ruang dan kegunaannya masihlah sama, tetapi penghuninya telah berbeda. Entah bisa atau tidak aku kembali pada masa itu, sebuah pertanyaan besar yang menyangkut ruang dan waktu.
"Mba.." petugas TU berkerudung itu memanggilku.
Aku hanya membalasnya dengan anggukan. Aku tahu legalisir ijazah telah selesai. Dan aku tahu pula kenangan tersebut pun telah usai. "Sudah selesai?"
` *** `
"Tau anak XAK1 gak yang biasa ngikut gerombolan Tata?" 
"Yang sering berangkat dan pulang sama-sama itu ya? Yang rambut lurus sebahu?"
"Ya, itu tuh.. tau gak?"
"Enggak. Memang guru yang hafal tiap anak muridnya."
"Yee.. guru aja gak bakal hafal sama kita, kalo kitanya gak bandel, pinter atau bodoh ya susah dihafalin sama guru" 
Diam. Hening. Sunyi.
Tak terdengar lagi percakapan dua siswa itu lagi dari dalam perpustakaan. Hanya ada detak jarum jam di dinding perpustakaan. Sementara ratusan buku dan ribuan koran tak dapat bersuara. Hanya bersembunyi dibalik rak-rak buku yang diam membisu. 
'Siapa yang bicara diluar" tanyaku dalam hati 
Gara-gara tak membawa tugas contoh laporan keuangan koperasi harus kukerjakan diruang ini. Bu Tyas gak pernah toleran dengan anak-anak yang melupakan tugasnya. Tak peduli segudang alasan yang sudah kami siapkan, dia tetap saja menyuruh kami tuk mengumpulkannya. Apapun caranya. Dalam perpus yang memang sepi aku memulai laporan yang tertinggal didalam kamarku. 
Dan sekarang konsentrasiku entah pergi kemana setelah mendengar percakapan diluar perpustakaan.Meski namaku tak disebut, aku tahu maksud mereka adalah aku. Hanya aku anak XAK1 yang berangkat dengan gerombolan Tata dan anak-anak jurusan TKJ. 'Kenapa tadi gak keluar saja sih daripada penasaran gini' ujarku sambil mengembalikan jalan pikiranku.
 ` *** ` 


'Ah, pohon itu' Aku menatapnya takjub. Tak percaya kalau pohon ini masih dipertahankan ditengah perubahan sekolahku ini. Kelasku berada didepan pohon besar ini. Rindang saat kami beristirahat selepas olahraga atau jam istirahat. 
Batangnya masih kokoh, meski terlihat bagian atas pohon yang dipotong disana-sini. Hijaunya daun-daun itu masih tetaplah sama, meski tertutup debu karena sekarang kemarau. Dan lihat, daun-daun kuning yang rontok itu masih saja berjatuhan dilantai lapangan dan depan kelas. Aku tersenyum melihat daun-daun layu itu tergeltak dilantai, aku masih ingat anak-anak kelas kami sering kali ribut karena daun-daun tersebut membuat depan kelas kami menjadi kotor.
Haruskah aku meminjam mejad Nobita, yang menjadi penghubung masa depan dan masa lalu. Kenangan itu terlalu indah tuk ditumpuk disudut otakku. Rasanya ingin aku berada dimasa itu saja. Mengulangnya dan tinggal didalamnya.
"De, kantinya disebelah mana ya?" kutanya pada anak Perkantoran yang sedang melintas didepan pohon.
"Sekarang didepan sana kak, gabung dengan fotocopy. Disamping tempat parkir" jelasnya 
"Makasih ya"
Dia hanya mengangguk dan tersenyum, kemudian bergegas meninggalkanku. Mungkin ia sedang terburu-buru, berjalan dengan cepat dan menghilang di belokan bertuliskan Toilet.

 ` *** `
"Beneran sudah gak sakit?" tanya Ryan
"Mending dibawa ke rumah sakit. Siapa tau dia gegar otak atau lupa ingatan.."
"Doainnya kok gitu Ta, ntar kalo beneran lupa ingatan gimana?" aku memotong perkataan Tata
Hari Jum'at adalah waktunya bersih-bersih dan senam bersama. Namun bukannya sehat, kepalaku malah pusing.
Aku yang masih sibuk dengan rumput-rumput yang sudah meninggi tak sengaja terkena bola orange itu. Sekelompok anak kelas X dan XI sedang bermain selepas acara senam. Menyebabkan kepalaku langsung terasa berputar, meski tak sampai pingsan tetapi tubuhku seketika melemas. Aku masih tersadar akan suara teman-temanku yang langsung berteriak. Aku pun masih merasa kalau tubuhku dipapah oleh Lia dan Sri. 
"Enggak lah, aku cuma kaget aja" kataku menatap teman Tata tersebut.
"Aku bener-bener minta maaf ya. Beneran gak sengaja tadi.Arah bola itu seharusnya kering bukan kekepalamu" cerocosnya
"Udah ah, mending pulang aja yuk, daripada disini kena ceramah sama si Ryan ini" ujar Tata sembari menarik tanganku.
Ryan, teman sekelas Tata yang tak sengaja melempar bola basket tersebut. Sejak kejadian tersebut ia benar-benar panik dan selalu menanyakan keadaanku. Bahkan pada jam istirahat, dengan wajahnya yang panik ia membawakanku segelas teh manis.
Sekilas Ryan adalah pemuda biasa, tubuhnya kurus dengan tinggi kurang lebih 165 meter. Dibalik seragam olahraganya terlihat kulitnya yang kecoklatan. Rambutnya hitam dan pendek, meski sedikit acak-acakan dan terlihat berkeringat. Sementara yang paling menarik adalah pandangan matanya yang tajam, mungkin ia akan memandang dengan penuh minat apa yang menarik hatinya.
Ia hanya diam menatapku pergi ditarik Tata. Tepat dibawah pohon depan kelasku ia berdiri. Tatapannya masih terarah pada kami yang perlahan mengecil karena semakin menjauh. Sementara aku pun melangkah pulang, terdengar celotehan Tata dan teman lainnya. Saat kutengok kearah belakang, Ryan masih berdiri ditempatnya. Ryan masih berdiri didepan pohon besar itu. Bayang pohon mulai mengaburkan sosoknya.

 ` *** `
"Lulus tahun berapa nak?" tanya Bu Jum sambil melayaniku.
Kuterima piring nasi pecelnya, lengkap dengan sepotong mendoan yang hangat. Sosok itu masih ada, kukira aku takkan lagi menemukannya saat kembali kesekolah ini. 
"Sudah lima tahun yang lalu bu, sudah banyak yang berubah bu.."
"Ya, beginilah nak, disana sini dirubah, dulu yang ruang kelas sekarang jadi lab komputer, warung ibu juga ikut berubah" adu ibu yang terlihat berumur 60 tahun lebih.
"Tapi rasanya tetap sama bu," ucapku setelah merasakan satu suapan nasi pecel favoritku dulu.
Satu lagi yang tak bisa lupakan dari sekolah ini. Kantin yang selalu ramai saa istirahat. Hingga terkadang bangku-bangku yang panjang ini tak muat bagi para pelajar. Meski panganan yang disediakan sederhana dan mudah ditemukan, tetapi tetap saja memberikan warna yang berbeda.
"Biasa bu.." ucap seorang laki-laki berkacamata yang baru duduk diujung bangku panjang
"Udah selesai ngajarnya mas, pagi amat" tanya Bu Jum
"Laper, daripada gak konsen" katanya sambil mengambil keripik singkong didepannya.
Aku hanya tersenyum, 'inikah guru-guru jaman sekarang, meninggalkan muridnya hanya untuk kepentingannya pribadi' sekelat pikiranku tertuju pada hal yang bukan-bukan. Segera saja kuhabiskan nasi pecelku dalam diam. Hanya denting sendok yang beradu dengan piring terdengar lirih. Tak kupedulikan lelaki yang kini juga sibuk dengan nasi pecelnya.

 ` *** `
Pohon, kantin dan sudut depan perpustakaan  adalah sebagian kecil dari ingatan masa sekolah. Ingatan yang hanya bisa dipanggil tanpa diulang kembali. Kejadian demi kejadian yang terus berulang dan berhenti saat kita menerima ijazah kelulusan.
Sekali lagi kuhembuskan nafas yang terasa berat. Seberat langkahku yang akan keluar dari sekolah ini. Entah kapan aku bisa kembali lagi. Menikmati kenangan masa indah.
Sekali lagi kulewati sudut sekolah, yang dulu merupakan perpustakaan. Mencoba menghimpun seluruh kenangan yang lalu, mengumpulkan kepingan gambar-gambar akan kejadian diperpustakaan. Sekali lagi kulewati pohon depan kelasku. Menatapnya tuk terakhir kali dari ujung atasnya yang tak terlihat, dedaunannya yang hijau, batangnya yang kokoh dan gurat-gurat kulit kayu yang terlihat. 
"Mba.." suara seseorang menghentikan langkahku
Dari belakang pohon terlihat lelaki berkacamata itu setengah berlari. Seketika itu pula bayang akan Ryan yang berdiri didepan pohon muncul kembali. Ia kah Ryan yang dulu menatapku dibawah pohon?
Saat kujelajahi lelaki tersebut, bayang Ryan memang semakin terlihat. Meski tak lagi sekurus dahulu, tetapi tubuhnya masih saja kecil. Rambutnya kini tertata rapi dengan tatanan mengikuti jaman modern. Dan matanya masih saja tetap seperti dulu, memandangku dengan penuh kesungguhan hati. Ya, bola mata itu masih memancarkan ketajaman yang kurindukan. 

Rabu, 06 Agustus 2014

Hilang Arah

 
Kehilangan itu adalah bagian dari hidup yang tak bisa dilepaskan. Suatu ketika mungkin dimulai dari kehilangan buku, dilain ruang waktu mungkin kita kehilangan benda yang berharga, dan dilain sisi tempat mungkin kehilangan sosok teman, atau salah satu yang paling menyesakkan hati adalah kehilangan saudara dan orang tua. Kehilangan itu berarti kita tak bisa memilikinya lagi, tak bisa melihatnya lagi, tak bisa merasakannya lagi, dan tak bisa kita dapatkan manfaatnya lagi. 
Beberapa minggu terakhir sangat terasa akan kehilangan arahku. Aku tak tahu apa yang sedang terjadi dalam hidupku sendiri. Dimulai dari rasa bosannya terhadap pekerjaan, mencoba tuk berjalan sendiri dan menjalankan impian dan pada akhirnya terhempas dari pegangan dan terjatuh pada dasar yang gelap. Pada kehilangan arah ini, kurasakan kembali pertanyaan mendasar pada diriku sendiri. Sanggupkah bermimpi setinggi langit sementara hanya mampu berdiri diujung desa??

  

Awalnya arahku itu menuju kearah A, ditengah jalan aku  melihat persimpangan B dan D, ditengah persimpangan tersebut kupilih arah D karena kupikir jalannya akan lebih dekat dengan arah. Namun ternyata jalannya pun susah dilalui, ternyata ada beberapa tanjakan dan kelokan yang tajam. Sempat terpikir untuk berbalik arah dan memilih persimpangan B, tapi itu berarti aku harus mundur dari langkah ini dan kembali merasakan perjalanan dijalan D.
Mata dan hatiku masih tertuju pada arah A, namun dari ujung jalan D ini kulihat beberapa persimpangan lagi. Kanan, kiri dan tengah. Inilah minggu - minggu yang berat, aku masih saja terdiam diujung jalan, hanya menikmati angin yang makin dingin, matahari yang terbit dan tenggelam tanpa ada langkah pasti. Ya, aku hanya berdiam diri,,


Arah A masih menjadi impian yang selamanya mengisi sedikit ruang dihati. Meski entah kapan dapat kulanjutkan, tapi aku tetap yakin arah A adalah fokus dan impian. Sekarang diujung jalan ini, berada dipersimpangan ini, kembali kutata lembaran langkah, kembali kusiapkan kaki dan tangan tuk memanjat jurang yang mulai terlihat sepi ini. Akankah kuberhasil melewati jurangnya, hanyalah Tuhan yang tahu. Tugasku adalah terus melangkah.
Dan tugasku kian berat saat kulihat alunan waktu tak mengikuti berhenti melangkah. Kulihat jarum waktu itu terus berputar mengikuti langkah matahari... Aku harus bergegas, kembali pada jalan yang penuh persimpangan itu dan memilih salah satu, berharap itu yang terbaik. Ada dua resiko saat aku melangkah dan mengambil salah satu persimpangan. Kembali menemui jalan yang salah. Atau. Berada dijalur yang benar...





Minggu, 20 April 2014

Inovasi dan Kreasi

 

Kenapa judulnya seperti itu?? Dan kenapa gambar pertama seperti itu??? Apa kaitannya antara kalimat judul dan gambar??? Mari kita tanyakan pada rumput yang bergoyang,,, (aduh.. bahasaku makin gak jelas..

Yang pasti gambar diatas ialah mendoan sosis, jadi mendoan diisi sama sosis atau sosis yang dibalut sama mendoan. Kalau mendoannya sendiri sih, sudah mendarah daging bagiku, siapa sih yang hidup di Purbalingga tapi belum pernah makan mendoan?? Tapi kalau mendoan sosis, di Purbalingga kayaknya gak ada yang jualan. Kalo roti mendoan sih sudah ada, tapi kalo mendoan sosis belum nemu deh..
Dari mana iseng bikin mendoan sosis, dibawah ini nih sumbernya, kemarin liat di youtube tentang usaha waralaba, ternyata pengusaha dari Tasik / Bandung lah yang awalnya bikin usaha ini. Kalo gak salah udah nyampe di Jakarta nih makanan waralaba. Unik, dia bisa ngembangin resep dasar mendoang menjadi rasa yang baru. Dan kreasinya bisa diterima oleh masyarakat luas, jadilah usahanya berkembang dengan pesat ditambah waralaba yang membuat usahanya berada dimana-mana.

  


Iseng - iseng bikin juga, meski hasilnya gak bisa sama persis dengan yang dijual, tapi puaslah udah bisa bikin mendoan sosis sendiri. Gak lagi ada rasa penasaran dalam hati, kalau pun penasaran semoga ada orang Purbalingga yang ngikut waralaba dan jualan di Purbalingga.
Kalo ada juga yang penasaran gimana bikinnya, intinya sih hampir sama seperti bikin mendoan, tapi tempenya diisi dengan sosis kemudian dilitkan, buat tambah kenceng diikat sama daun sayuran, trus digoreng deh..

Yang kudapat dari mendoan sosis selain tahu ternyata variasi mendoan ini juga enak dan cocok dilidah adalah makanan tradisional bila dikreasikan ternyata bisa menghasilkan juga. Sepertinya apaun itu bila kita berani melakukan hal yang berbeda dan yakin pasti akan ada jalannya. Jadi jangan takut untuk berkreasi, mungkin butuh banyak waktu dan percobaan tapi pasti ada hal baru yang mengejutkan..