Tampilkan postingan dengan label purbalingga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label purbalingga. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 Juni 2016

Pemakaman dan Kenangan

Rimbunnya pohon menyambut, membukakan pintu duka,
Rerumputan memberi salam, mengabarimu semalam adalah hujan,
Tempat itu masih sama, dan selamanya akan sama. Pemakaman.

Matahari telah berputar sebanyak dua ribu lima ratus lima puluh lima kali
Masih kuingat, kabar itu bagai bom atom yang menghancurkan Nagasaki
Sendu itu kan membekas, mesti waktu telah berlari. Kematian.

Kamis, 31 Desember 2015

Tahun Baru (Lagi)

 
Dan tahun baru kembali terulang, 
Bagaikan matahari yang fajar dan senjanya teramat cepat

Sebenarnya saya bukan termasuk orang yang menghitung hari, semua hari dijalani seperti itu adanya, dinikmati saja tanpa harus mengejar impian secara berlebihan. Memang terkadang ada pikiran untuk mengejar impian itu dengan cepat namun sering kali semangat itu kembali meredup dan kembali menjalani hari secara biasa lagi. 

Dan sepertinya di tahun 2016 ini saya harus merubah itu semua. Impian itu harus dikejar, apapun keadaannya, bukan sekedar angan-angan tetapi harus diwujudkan. Benturan dengan kenyataan memanglah pahit tuk dijalani, apalagi bila lingkungan sekitar pun tidak mendukung. Tapi bukankah hidup saya adalah milik saya, bukan milik mereka, dan sayalah yang berhak mengatur laju hidup saya ini.

Minggu, 27 Desember 2015

Harapan (Teruntuk) Kota Purbalingga


Tulisan ini terlambat dipublish, meski sudah jadi dari minggu lalu tapi faktor ini-itu menjadi penyebab gagalnya tulisan ini keluar. Daripada dibuang begitu saja dan meski sudah terlambat, semoga masih diberi kesempatan untuk berbagi..

Minggu lalu, tepatnya 18 Desember 2015 kabupaten Purbalingga merayakan hari jadinya, 185 tahun yang lampau dibentuklah kabupaten  yang merupakan tetangga dari Banyumas, Banjarnegara dan Pemalang. Yang ingin tahu lebih lanjut tentang Purbalingga silahkan berkunjung ke (/http://www.purbalinggakab.go.id/) (https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Purbalingga).

Pertama, selamat ulang tahun tempat kelahiranku, diusiamu yang sudah tua ini semoga menjadi tempat yang bisa dibanggakan bagi masyarakatnya, yang nyaman untuk ditinggali, kabupaten yang bersih dan sehat, kabupten yang berkurang jumlah penganggurannya, kabupaten yang ramah bagi pelancong dan penikmat wisata, dan semua yang terbaik untuk kabupaten kecilku ini. 

Sedikit harapan dari seorang penduduk kota tercinta ini. Purbalingga memang sudah teramat berkembang bila dibandingkan dengan 185 silam. Dengan bertambahnya usia, kemajuan teknologi dan meningkatkan kualitas SDM tentu banyak hal yang kian meningkat.

 
Diusianya yang sudah satu abad lebih (lebih 85 tahun) semoga tingkat pelayanan kesehatannya makin dimudahkan dan memuaskan, makin banyak masyarakat Purbalingga yang sehat dan menjalani hidup sehat serta makin lengkap fasilitas kesehatan yang ada hingga kita tak perlu lagi ke RSUD Margono.
Kualitas sekolah juga semoga makin meningkat, makin banyak lulusan yang benar-benar siap kerja, yang bukan hanya menambah angka pengangguran. Semoga ditahun yang akan datang ada pihak yang mendirikan Universitas di Purbalingga, jadi bisa kuliah di kota sendiri.
Ekonomi pun makin membaik, semoga dimudahkan urusan birokrasi dan keuangan bagi mereka yang ingin berwirausaha. Ketersediaan bahan pokok yang cukup hingga tidak mengakibatkan harga barang-barang naik dan berakhir pada masyarakat yang resah. 

Semoga mereka yang duduk diatas kursi 'yang terhormat' pun bisa bekerja sesuai dengan apa yang diharapkan. Tidak hanya rapat-rapat tak jelas yang menghasilkan peraturan yang tak jelas juga manfaatnya untuk masyarakat Purbalingga. Semoga mereka yang salah bisa diperlakukan dengan semestinya, bukan malah diberi kesempatan untuk mengelak dan berkata kalau mereka benar. Salah = salah dan benar = benar, apapun itu, siapapun mereka.


 
Semoga kota Purbalingga merupakan kota yang ramah dan nyaman, bukan hanya untuk masyarakat tapi juga untuk alam sekitar. Berharap alam Purbalingga diperlakukan dengan baik, jangan ada eksploitasi yang berlebihan, baik itu disungai, hutan maupun gunungnya. Semoga wisata Purblingga pun dilirik oleh pemerintah dan mulai dibenahi sepenuh hati.

  
Tempat-tempat umum dapat dimanfaatkan dengan benar dan dijaga.  Digunakan untuk hal-hal yang semestinya, bukan untuk hal yang berada disisi negatif. Dan harapan besar bila di Purbalingga dibangun sebuah bioskop.

Dan harapan-harapan lain tentang kota ini. 
Semoga masyarakat dan pemerintah Purbalingga bisa bekerja sama untuk saling mengisi dan saling membangun kota ini. Terima kasih kota Purbalingga, telah menyediakan ruang bagi kehidupankui, telah memberikan kesempatan untuk bertempat tinggal dan  memberikan pengalaman yang tak akan pernah terlupakan.
 
Terimakasih sudah berkunjung
Salam hangat dari kota Purbalingga. 

Jumat, 18 Desember 2015

Jawa (Pudar)

 
Berawal dari petikan pengajian di Masjid yang mengatakan, 'orang Jawa telah hilang Jawanya'. Kalimat ini tersimpan dalam memori untuk beberapa saat, selalu muncul saat sepi itu ada, saat sendiri kembali berada (bingung saya dengan ungkapan barusan.

Kembali ke 'orang Jawa telah hilang Jawanya', sepertinya kalimat ini benar adanya. Apalagi untuk keadaan sekarang, orang-orang yang hidup di era modern, berbaur dengan orang dari ribuan suku di dunia, dengan bahasa, kebiasaan, adat, dan pemikiran yang tentunya berbeda-beda juga.

Orang Jawa itu bukan hanya orang-orang yang mendiami pulau Jawa tetapi juga orang yang tinggal diluar pulau Jawa tetapi mereka berasal dari pulau Jawa. Di pulau Jawa sendiri terdiri dari 3 golongan besar suku, yaitu Sunda (Jawa Barat), Jawa (Jawa Tengah), Tengger, Osing (Jawa Timur), dan puluhan sub suku yang merupakan pecahan dari suku besar tersebut. Orang Jawa yang pergi ke suatu tempat diluar Pulau Jawa dan kemudian mempunyai keturunan pun masih disebut dengan Orang Jawa.

Sebagai orang Jawa (bertempat tinggal di Jawa Tengah dan mempunyai leluhur orang Jawa murni) saya sendiri mengakui telah mengurangi rasa ke-Jawa-an. Apa itu ke-Jawa-an? Apa tolak ukurnya? Siapa yang menilai? Entahlah?

Selasa, 01 Desember 2015

Aku, Cerita dan Seseorang

Jarang nulis tentang keluarga dan kehidupan pribadi, karena itu bukanlah hal yang tertalu menarik. Tapi belakangan rasanya ingin menulis tentang seorang yang teramat berarti dalam hidup. Tapi tak tahu harus dimulai darimana, entah dimana awal dan akhirnya.


Dari beliau mengalir cerita-cerita jaman dahulu. Mulai garis keturunan yang sampai sekarang saya gak hafal, beragam makanan yang gak akan pernah saya makan, kisah hidup masa lalu yang sangat berat tapi kadang dirindukannya lagi sampai tempat-tempat yang dulu ada tapi sekarang gak ada lagi.

Siapa dia??? Jawabannya nanti saja diakhir tulisan ini.
Otak ini langsung berjalan lambat kalau beliau sudah bicara mengenai silsilah keluarga. Kalau sebatas kakek-nenek saya masih bisa paham, tapi kalau sudah diatasnya saya menyerah. Begini kata beliau, ayahnya nenek saya menikah dengan si A lahirlah nenek saya dan saudaranya. Karena pekerjaannya seorang tukang slender (bahasa jawa untuk tukang aspal jalan) yang suka kemana-mana jadi punya istri dimana-mana. Nah disinilah letak rumitnya menghafal pohon keluarga tersebut, si istri B punya beberapa anak, istri C juga sama punya beberapa anak ditambah anak dari suami sebelumnya. Belum lagi si ayah nenek saya ini juga punya kakak dan adik, dan seterusnya. Nah, bingungkan ngapalin tingkatan sebutan yang benar.
 
Soal sebutan juga rumit (dalam tradisi kami sebutan untuk keluarga besar dinamakan juga "pernah"). Sebutan sebetulnya tidak memandang umur, pangkat, kekayaan atau pekerjaan, tapi dijaman sekarang dimana segala sesuatu diukur dari materi, panggilan pun berubah. Contoh, saya harus memanggil kakak dari ibu dengan sebutan pakde, dan bagi istrinya budhe. Tapi ada satu kasus, saya memanggil anak dari budhe saya dengan sebutan ibu (seharusnya kak atau mba) karena dia seorang guru, punya suami seorang lurah dan umur yang lebih tua. Meski sudah mulai termakan jaman, tapi masih ada segelintir orang yang menghargai "pernah" ini, dan tak memandang umur, pangkat, jabatan, dan harta ia masih menghargai orang yang lebih tua dalam susunan keluarga besarnya.

Perbedaan jaman membuatnya terkadang bingung dengan kecanggihan era sekarang. Seperti soal toko online, beliau bilang enak banget gak perlu kemana-mana barang udah nyampe dirumah. Padahal dulu katanya, dia harus jalan kaki hingga ke desa tetangga untuk beli kebutuhan rumah tangga seperti minyak tanah, garam, panci, dan lainnya. Sering kali beliau memandingkan fungsi dari benda jaman sekarang dan dahulu. Cerita beliau, dulu belum ada plastik, kalau beli minyak goreng harus pake botol beling yang berat, beli gula pasir juga dibungkus kertas, mau bikin nasi jagung harus rela berjam-jam menumbuknya gak kaya sekarang tinggal ke tempat penggilingan. 
Demikian perbedaan makanan, sekarang banyak pilihan makanan instan yang cepat dibuat. Dari mie, bubur, kopi, roti, nuget, sosis, hingga jus buah. Lah dulu, cuma ada jagung rebus, ketela goreng, sampe tempe bungkil. Kata beliau, dengan adanya makanan yang cepat saji dan beraneka macam ini maka makin banyak penyakit yang aneh-aneh pula. Bener juga sih pemikiran beliau.

Dulu beliau menghabiskan waktu bermainnya di sawah, sambil membantu memanen padi. Nah sekarang, anak-anaknya baru mau pergi ke sawah udah dilarang sama ibunya, yang katanya kotor, ada kumannya, takut tersesat, kalo ujan takut kena petir. Akhirnya sianak main dirumah, main diwarnet, cuma kenal sama dunia maya yang makin menyesatkan. Jaman sekarang pohon-pohon tak lagi ditanam, sekarang manusia menanam rumah dibumi ini. Gak ada lagi pohon jambu yang bisa dipanjat rame-rame, gak ada lagi rimbunan pohon bambu yang terkadang membuat anak-anak ngeri takut ada lampornya.

Dan yang paling dirindukan adalah orang-orang dari jaman beliau. Satu per satu mereka pergi untuk selamanya, tergantikan anak-cucu. Pelan tapi pasti semakin menyusut, teman hidup, orang tua, saudara, kerabat, teman bermain, kenalan berpindah pada dimensi yang abadi. Hanya lewat bunga tidur mereka bertemu, dan kenangan akan mereka kembali menggodanya.

Dari beliau saya ada, saya belajar, bukan tentang A,B atau perkalian saja tapi mengenai kehidupan sejati. Belajar menyikapi berbagai karakter orang, belajar menghargai tumbuhan dan hewan, belajar berlindung dari hujan dan angin, belajar menyelesaikan masalah hidup yang tak kunjung berhenti, dan terus belajar untuk hidup. 

Terkadang saya marah, kecewa, sedih akan sikap beliau yang sering kali tak terpikirkan oleh pemikiran saya, tapi saat melihat bayangnya kembali saya kembali belajar. Entah dengan apa saya membalas ilmu-ilmu yang sudah melekat dalam ingatan dan hidup, hanya berusaha menjadi apa yang terbaik baginya. 
Tulisan ini saya buat untuk mama saya. Beliau gak akan pernah membaca tulisan ini, dan saya pun tak akan pernah mengatakan pada beliau. Biarlah ada sedikit rahasia diantara kami. Maafkan anakmu ini yang sering ngeselin, suka tanya ini itu, terkadang melakukan sesuatu sesuka hati, masih sering berontak, dan segala kelakuan melenceng anakmu ini. Seberapapun keras saya mencoba untuk menjadi anak baik tetapi rasanya masih saja ada celahnya.

Terimakasih ma, for everything 

Dan terimakasih untuk pembaca sekalian yang sudah membaca tulisan lebay ini. Salam dari kota kecil Purbalingga, terkirim salam pula dari hujan yang tiap hari datang.. 

Sabtu, 28 November 2015

Eksibisi SMK 2015



Meski acara ini tidak hanya diisi oleh SMK tapi juga dari SMA dan kearifan lokal lainnya, tapi berhubung saya alumni SMK maka yang saya bahas tentang dunia SMK saja. Pameran ini dilaksanakan kemarin (25-27 Nov) di GOR Goentoer Darjono Purbalingga. Ditujukan untuk para siswa SMP di seluruh Purbalingga (biar semangat nerusin sekolah daripada masuk pabrik bulu mata). 

Dan ternyata yang ikut pameran ini cukup banyak, sayang gak ngitung total ada berapa sekolah yang ikut promosi. Masing-masing sekolah menampilkan keunggulannya masing-masing. Misal dari SMK N 1 Bojongsari, mereka punya jurusan Tata Boga maka ditampilkan siswanya yang sedang masak dan beberapa contoh hasil makanan. 

 SMK Soedirman, sekolah kejuruan khusus kesehatan.
 
SMK N 1 Kutasari, bidang otomotif.



 SMK YPLP, mereka buka jurusan otomotif, pengelasan, dll.


 




SMK YPT 1, juga otomotif, teknik kendaraan ringan

SMK Penerbangan, termasuk yang berkembang pesat.

SMK Widya Manggala, otomotif, akuntansi, multimedia.

SMKN 1 Bojongsari, Tataboga.


SMK N 3 Purbalingga, ini sekolah baru, tapi dilihat dari produknya kreatif dan unik.

SMK N 2 Purbalingga, punya jurusan pertanian, perikanan.

SMK N 1 Purbalingga,  yang paling tua di dunia SMK Purbalingga, buka jurusan Akuntansi, Penjualan, Sekretaris, Teknik Komunikasi dan Jaringan, Rekayasa Perangkat Lunak. (hafal semua karena dulu mantan murid)



SMK Muhammadiyah 3 Purbalingga, baru dua jurusan Perbankan Syariah dan Farmasi, sekolah ini juga berkembang pesat apalagi sudah punya gedung sendiri.



Pertama, maafkan bila tulisan ini tidak secara mendetail, karena waktu yang mepet jadi gak sempet nanya-nanya dan juga karena penuuuuuh,, banyak banget anak-anak SMP, buat ngambil foto aja susah. 

Semakin banyaknya sekolah SMK menjadi sebuah pilihan bagi anak-anak SMP yang hendak meneruskan sekolah ke jenjang lebih tinggi. Kenapa pilih SMK??? Yang saya dapat dari sekolah ini dan mungkin tidak disekolah lain (SMA) pinter dalam urusan 'ketak-ketik bikin laporan, menulis sepuluh jari dan dapat ilmu sesuai jurusannya (kalau di Akuntansi ya bisa bikin laporan keuangan, tau tentang FIFO/LIFO, ngitung pajak penghasilan, dan lainnya, kalau temen saya di Teknik Komputer dan Jaringan tau lebih banyak tentang perbaikan komputer, jago bikin wesite, dan dunia per-komputer-an).

Yang terpenting kalau mau nerusin sekolah di SMK adalah udah tahu mau kerja dan minatnya di bidang apa. Kalo dari SMP udah jago di komputer ya mending pilih jurusan komputer, kalo suka ngutak-atik motor ambil otomotif, kalo punya cita-cita kerja di bank tinggal ambil Akuntansi, mau jadi chef pilih jurusan Tata Boga, punya bakat bikin baju pilih Tata Busana. Dan dalam memilih jurusan itu jangan karena terpaksa, karena yang dilakukan dengan terpaksa itu hasilnya pasti kurang memuaskan. Kalau orang tua belum setuju, ya tinggal dibicarakan lagi dan lagi. 
 

Jangan khawatir kalo lulusan SMK gak bakal bisa kuliah, justru kalo anak SMK melanjutkan kuliah sesuai jurusannya maka ia akan lebih ahli. Misal dari Akuntansi dan kuliah di jurusan tersebut maka udah punya ilmu-ilmu dasarnya. Tapi gak masalah juga kalau anak SMK kuliah di lain jurusan (seorang teman SMK di jurusan otomotif, dia kuliah di keperawatan) tapi dia harus belajar dari awal dan ilmu dari SMKnya gak kepakai (tapi kalo urusan bikin laporan ia lebih jago dibanding anak-anak dari SMU).

Tulisan ini bukan untuk mengesampingkan sekolah SMA tapi hanya sebagai opini dari salah satu alumni SMK. SMA pun punya keunggulannya masing-masing. Maaf juga gak semua SMK yang ditampilkan diberi keterangan yang lengkap, kurang data disana-sini. Mungkin dilain waktu bila ada pameran SMK lagi bisa dibahas lebih dalam. Untuk panitia pamerannya juga jangan hanya beberapa hari tapi satu-dua minggu biar waktu kunjungannya gak berdesak-desakan, kan lebih enak buat keliling cari informasi.


Terimakasih sudah berkunjung dan membaca sedikit cerita dari saya.
Salam hangat dari kota kecil di bawah gunung Slamet.

Dan sebagai anak sekolah kita gak boleh lupa 
untuk jajan dan naik angkot

Senin, 13 Juli 2015

Berbagi (Menikmati Dunia Bersama)

I"m back,setelah berdiam diri dalam gua semu, saya kembali kedunia maya yang juga semu.

Bertepatan dengan bulan Ramadhan, bulan yang istimewa bagi umat muslim diseluruh dunia, tak ada salahnya bila kutuliskan sedikit cerita. Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk bersikap sombong, riya atau sejenisnya, tapi tulisan ini bermaksud untuk mengajak yang lain untuk saling berbagi.

Terima kasih pada para donatur yang sudah menyisihkan sedikit rezekinya untuk yang lain. Hanya Allah, Sang Pemilik Ruang dan Masa yang dapat membalas setiap kebaikan. 
 
Tiga jam menuju jam berbuka, kami mengawali kayuhan sepeda untuk berbagi takjil. Tak hanya melampiaskan kesenangan bersepeda tapi juga untuk memberi pada mereka yang berpuasa. Panas matahari senja menemani kayuhan pelan sembari mencari sosok yang tepat.
 
Sedikit takjil dari kami, tak bisa dibandingkan pengorbanan mereka dalam mencari nafkah bagi keluarganya. Meski berat tuk dijalani apalagi dibulan Ramadhan bagi para tukang becak, bengkel motor, tukang parkir, dan lainnya tak ada kata berhenti. Mereka tetap mencari rupiah demi keluarga yang menanti dirumah, dan mereka pun tetap melakukan ibadah puasa.

Semoga dengan sedikit takjil ini bisa memberi mereka setitik kebahagiaan. Mari bersama-sama mengisi bulan yang istimewa dengan penuh rasa syukur pada Sang Kuasa. Dunia ini tidak hanya diciptakan untuk kita saja, tapi untuk mereka. Kita tak akan rugi dengan berbagi,,

 

Purbalingga, dibulan yang penuh makna

Rabu, 04 Maret 2015

(Dibalik) Batu Akik Klawing




Sejak tahun lalu, Kali (Sungai) Klawing makin ramai diperbincangkan. Dari yang awalnya hanya sebatas pasir, ikan, dan batu untuk bangunan kini merambah pada batu akik. Apa itu batu akik? Kini hampir seluruh warga dialiran sungai Klawing tahu apa dan bagaimana bentuk batu yang sedang terkenal di negeri ini.

Termasuk dalam jenis batu permata yang kini dipakai dari kalangan pejabat, artis, tukang becak hingga anak SD. Menurut rumor yang beredar batu akik termahal di Indonesia itu berasal dari Aceh. Motif dan langkanya jenis batu ini menjadi faktor penentu seberapa harga jual dipasaran. Tak peduli berapa harganya, bagi kaum yang tak ingin ketinggalan mode maka tak jadi masalah. 

Bagi Penaruban, desa yang dari ujung hingga ujung yang lain dialiri Sungai Klawing, tak mau ketinggalan. Tengoklah, disetiap pinggir sungai akan ditemukan kios - kios pengolah batu. Anak - anak SD yang tinggal disekitar aliran sungai, sibuk mencari batu sembari bermain ditepi sungai. Ibu - ibu yang setiap pagi belanja, kini juga bergosip tentang batu, 'berapa rupiah yang didapat suaminya dari hasil menjual batu'. Penaruban mulai berubah, hanya karena batu.

Sama seperti penambangan pasir, tentulah pencarian batu-batu akik di sungai Klawing menimbulkan dampak positif dan negatif. Disisi yang menggoda, nilai jual yang tinggi menjadikan siapapun untuk memanfaatkan barang gratis ini, Juga dampak gengsi, semakin mahal dan bagus batu yang berhasil dijual atau dipakai, semakin tinggi pula perasaan orang tersebut. Namun disisi lain, penambangan yang terus menerus tentu akan menyebabkan dampak buruk bagi lingkungan. Seperti dijelaskan dalam tulisan terdahulu (http://lesta1690.blogspot.com/2013/10/esai-klawing.html).





Sebagai manusia yang bergantung pada alam, tentulan kita harus menjaga alam. Jangan sampai apa yang kita lakukan berdampak berlebihan pada kondisi alam sekitar. Kita tentu tak ingin bencana datang lebih dahulu, barulan kita akan merasa tersadar akan tindakan kita. Jangan menunggu banjir Sungai Klawing barulah kita mengontrol penambangan batu dan pasir disungai ini. Mari kita bersahabat dengan alam, tanpa mengurangi kecintaan kita terhadap batu akik.

Beberapa sumber bacaan tentang batu akik, semoga menambah wawasan




Sekian, dan terima kasih telah membaca. .

Minggu, 20 April 2014

Inovasi dan Kreasi

 

Kenapa judulnya seperti itu?? Dan kenapa gambar pertama seperti itu??? Apa kaitannya antara kalimat judul dan gambar??? Mari kita tanyakan pada rumput yang bergoyang,,, (aduh.. bahasaku makin gak jelas..

Yang pasti gambar diatas ialah mendoan sosis, jadi mendoan diisi sama sosis atau sosis yang dibalut sama mendoan. Kalau mendoannya sendiri sih, sudah mendarah daging bagiku, siapa sih yang hidup di Purbalingga tapi belum pernah makan mendoan?? Tapi kalau mendoan sosis, di Purbalingga kayaknya gak ada yang jualan. Kalo roti mendoan sih sudah ada, tapi kalo mendoan sosis belum nemu deh..
Dari mana iseng bikin mendoan sosis, dibawah ini nih sumbernya, kemarin liat di youtube tentang usaha waralaba, ternyata pengusaha dari Tasik / Bandung lah yang awalnya bikin usaha ini. Kalo gak salah udah nyampe di Jakarta nih makanan waralaba. Unik, dia bisa ngembangin resep dasar mendoang menjadi rasa yang baru. Dan kreasinya bisa diterima oleh masyarakat luas, jadilah usahanya berkembang dengan pesat ditambah waralaba yang membuat usahanya berada dimana-mana.

  


Iseng - iseng bikin juga, meski hasilnya gak bisa sama persis dengan yang dijual, tapi puaslah udah bisa bikin mendoan sosis sendiri. Gak lagi ada rasa penasaran dalam hati, kalau pun penasaran semoga ada orang Purbalingga yang ngikut waralaba dan jualan di Purbalingga.
Kalo ada juga yang penasaran gimana bikinnya, intinya sih hampir sama seperti bikin mendoan, tapi tempenya diisi dengan sosis kemudian dilitkan, buat tambah kenceng diikat sama daun sayuran, trus digoreng deh..

Yang kudapat dari mendoan sosis selain tahu ternyata variasi mendoan ini juga enak dan cocok dilidah adalah makanan tradisional bila dikreasikan ternyata bisa menghasilkan juga. Sepertinya apaun itu bila kita berani melakukan hal yang berbeda dan yakin pasti akan ada jalannya. Jadi jangan takut untuk berkreasi, mungkin butuh banyak waktu dan percobaan tapi pasti ada hal baru yang mengejutkan..