Minggu, 29 Maret 2015

Pasukan Awan


Aku tengah menanti selesainya matahari,
Berakhir diufuk barat seperti biasanya,
Saat mega kembali terpancar dalam tubuh ini,
Dan bagi beberapa orang itu mempesona

Aku telah lelah, seharian memayungi dunia,
Menghalang panasnya matahari yang membara,
Untunglah hari ini aku tak menjadi mendung kelabu,
Turunkan hujan pembawa tawa dan pilu

Aku sedang merindu, rindu pada sang rembulan,
Meski hanya bayang matahari, tapi ia tak kalah menawan,
Kan semakin sempurna, bila bintang pun ikut datang,
Menjadikan malam semakin riang

Aku tak lelah, menggantung diatas bumi,
Aku tak bosan, melihat dunia yang warna warni,
Inilah tugasku, Inilah tempatku, Inilah hidupku,
Dan untuk inilah aku diciptakan Sang Maha Esa

Minggu, 22 Maret 2015

Mengejar Sang Mimpi

 
Cita-cita. Mimpi. Harapan. Tujuan. Adalah satu, terletak dimasa depan, yang harus kita gapai, berliku jalan dan tikungan yang ada, perubahan rencana, kegagalan mungkin akan kita hadapi. Dia adalah satu, tapi jalannya teramat panjang, hambatan datang silih berganti. dan semangat dalam hati terkadang hilang. 
Cita-cita itu terkadang berubah. Dimasa kecil sering terucap untuk menjadi guru, polisi, dokter hingga astronot. Beranjak remaja, terkadang mimpi itu mulai terbentur keadaan. Seorang anak petani dengan kemampuan belajar seadanya tentu akan berpikir ulang untuk menjadi dokter. Lain halnya bila sianak petani tersebut betul2 pintar, tentu dapat teratasi dengan bantuan beasiswa. Semakin dewasa, beberapa orang bahkan sudah melupakan cita-cita masa kecilnya. Terkadang orang dewasa hanyalah menjalani kehidupan bagai air. Belajar, Kuliah, Bekerja, Menikah, Punya Anak semuanya berjalan seiring waktu. 
Dan apa cita-citaku??? Dokter, guru, artis sudah menghilang seiring berjalannya waktu. Kini impian dan cita-cita yang terus bertahan adalah Pengelana. PENGELANA??? Ya, cita-cita yang aneh dan gila tersebut begitu menarik dan terus bertahan disudut hati. Meski terkadang sinarnya seperti lilin, tapi ia tetap bertahan. Dan dilain waktu sinarnya berubah seperti matahari, teramat kuat menarikku.
Sang Pengelana bukanlah cita-cita hebat seperti dokter, guru, pilot dan astronot. Pengelana hanyalah orang yang hidup terus berjalan. Dari satu titik ke titik yang lain, dari kota laut berjalan ke kota gunung. Pengelana meninggalkan rumahnya, menemukan rumah-rumah baru dengan berbagai penghuni yang tak sama. Pengelana berkawan dengan angin, matahari, jalanan, hujan dan debu. Pengelana tidaklah perlu bersekolah hingga S1 S2 S3 dan gelar lainnya, pengelana hanyalah mempelajari apa yang dilalui dan yang dirasakan.
Beratkah menjadi Pengelana? Entahlah aku sendiri tak tahu, cita-cita itu masih jauh didepan mata. Belenggu ketakutan  masih menyelimuti diri. Persiapan diri tuk menjalani perjalanan panjang masih dilakukan. Dan terpenting semangat itu belum lah padam..
 Sekian, terima kasih sudah membaca sedikit curahan hati :)

Kamis, 05 Maret 2015

Pepes Ikan Kranjangan Daun Singkong



Iseng nulis didunia boga lagi (dulu pernah, ada nih, http://lesta1690.blogspot.com/2013/05/pepes-tahu-tongkol.html) Sejauh ini tak ada larangan untuk menulis dibidang makanan ini. Bahkan makin banyak aja blog atau website yang bertutur tentang makanan, resep masakan, tempat kuliner, tips dan trik didunia boga ini.
Mari kita langsung pada resep kita ..
Bahan :
4 buah pindang kranjangan (pilih yg besar, biasanya isi 2)
Daun singkong secukupnya (kurang lebih 1/2iket), pilih yang masih muda
4 buah bawang merah
2 buah bawang putih
5 buah cabe merah
5 buah cabe rawit (disesuaikan dengan selera pedas masing-masing)
1/2 sdm garam
Daun pisang, buat pembungkus
Biting lidi buat penyematnya

Langkah-langkah
1. Cuci bersih ikan pindang, hilangkan kulit yang berwarna abu2 dengan sedikit digosok, tiriskan.
2. Haluskan bawang merah, putih, cabe, dan garam hingga halus. Lumuri ikan dengan bumbu hingga seluruh bagian tertutup bumbu.
3. Ambil selembar daun pisang, alasi dengan beberapa daun singkong, letakkan ikan yang sudah tertutup bumbu dan tutup lagi dengan daun singkong. Gulung daun pisang kemudian bagian atas bawahnya sematkan dengan lidi.
4. Sangrai dalam sangan. (Saya gak tau bila didaerah lain dinamakan apa). Bisa juga dibakar dengan api kecil diatas pembakaran. Kurang lebih selama 20 menit, jangan lupa dibalik biar dua sisinya matang.
5. Bila bau harum sudah merebak berarti sudah matang. Angkat dan sajikan dengan nasi.

*Rasa gurih, asin dan pedasnya bumbu bisa meresap kedaun singkong. Selain tanpa menggunakan minyak, olahan ini juga cukup dinikmati dengan nasi saja. Cukup ditambah kerupuk saja..
 


 Sekian dan terima kasih sudah membaca,, semoga menambah wawasan. :)

Rabu, 04 Maret 2015

(Dibalik) Batu Akik Klawing




Sejak tahun lalu, Kali (Sungai) Klawing makin ramai diperbincangkan. Dari yang awalnya hanya sebatas pasir, ikan, dan batu untuk bangunan kini merambah pada batu akik. Apa itu batu akik? Kini hampir seluruh warga dialiran sungai Klawing tahu apa dan bagaimana bentuk batu yang sedang terkenal di negeri ini.

Termasuk dalam jenis batu permata yang kini dipakai dari kalangan pejabat, artis, tukang becak hingga anak SD. Menurut rumor yang beredar batu akik termahal di Indonesia itu berasal dari Aceh. Motif dan langkanya jenis batu ini menjadi faktor penentu seberapa harga jual dipasaran. Tak peduli berapa harganya, bagi kaum yang tak ingin ketinggalan mode maka tak jadi masalah. 

Bagi Penaruban, desa yang dari ujung hingga ujung yang lain dialiri Sungai Klawing, tak mau ketinggalan. Tengoklah, disetiap pinggir sungai akan ditemukan kios - kios pengolah batu. Anak - anak SD yang tinggal disekitar aliran sungai, sibuk mencari batu sembari bermain ditepi sungai. Ibu - ibu yang setiap pagi belanja, kini juga bergosip tentang batu, 'berapa rupiah yang didapat suaminya dari hasil menjual batu'. Penaruban mulai berubah, hanya karena batu.

Sama seperti penambangan pasir, tentulah pencarian batu-batu akik di sungai Klawing menimbulkan dampak positif dan negatif. Disisi yang menggoda, nilai jual yang tinggi menjadikan siapapun untuk memanfaatkan barang gratis ini, Juga dampak gengsi, semakin mahal dan bagus batu yang berhasil dijual atau dipakai, semakin tinggi pula perasaan orang tersebut. Namun disisi lain, penambangan yang terus menerus tentu akan menyebabkan dampak buruk bagi lingkungan. Seperti dijelaskan dalam tulisan terdahulu (http://lesta1690.blogspot.com/2013/10/esai-klawing.html).





Sebagai manusia yang bergantung pada alam, tentulan kita harus menjaga alam. Jangan sampai apa yang kita lakukan berdampak berlebihan pada kondisi alam sekitar. Kita tentu tak ingin bencana datang lebih dahulu, barulan kita akan merasa tersadar akan tindakan kita. Jangan menunggu banjir Sungai Klawing barulah kita mengontrol penambangan batu dan pasir disungai ini. Mari kita bersahabat dengan alam, tanpa mengurangi kecintaan kita terhadap batu akik.

Beberapa sumber bacaan tentang batu akik, semoga menambah wawasan




Sekian, dan terima kasih telah membaca. .

Akhir dan Awal


Kumpulan puisi saat kita menyaksikan sebuah perpisahan abadi. Kematian memang bukanlah mainan, tetapi menjadi pelajaran bagi setiap insan yang bernyawa. Karena semua pasti akan berpulang pada Sang Kuasa..

Saat Beliau Pergi

Riuh tangis mengiringi
Deras air mata membanjiri
Sesak terasa dalam dada
Rasa bergemuruh dalam jiwa

Beliau telah pergi
Dijemput Sang Malaikat Maut
Beliau telah tiada
Dihadapkan pada keabadian

Hanya tinggalkan memori bersama
Hanya tinggalkan kenangan indah
Kita hanyalah bisa berdoa
Kita hanyalah bisa berduka

Suara adzan terdengar
Mengingatkan pada kefanaan dunia
Senja telah digelar
Mengingatkan pada Kuasa Sang Rabb Illahi
15 Oktober 2014
kematian pertama ditempat kerja


Kematian yang Fana

Apakah aku mati?
Tubuhku dapat bergerak
Bisa berjalan dan makan seperi orang
Nadi jantung masih berdetak
Dapat bernafas dan berak seperti orang

Tapi, suatu waktu
Sudah kulupa tanggal dan nama hari
Hanya kuingat sinar mentari
Mulai terhalang rintik hujan dini hari

Terbangun dari mimpi buruk
Dalam belenggu dunia tidur
Sesaat jiwa belum terkumpul
Dan pandangan menjadi jauh

Pertama kusadari rasaku telah hilang
Tak kurasakan indahnya pagi hari
Saat hari mulai berganti
Makin kuyakini aku tak bisa merasakan

Tak ada tawa bila ada canda
Tak ada tangis bila ada sedih
Tak patah hati saat kekasih pergi
Tak ada malu saat ada salah
6 Desember 2014
entah dimalam yang sepi

Tak ada Jalan Kembali
Senja baru pergi
Menjejakkan gelap dibumi
Semilir angin perlahan
Menggiring malam dengan pelan

Isak tangis menyeruak
Sesal datang menghampiri
Suara teriak hingga serak
Memanggil segala memori

Ia telah pergi
Memulai jalan tanpa nama
Ia telah tak ada
Memulai jalan yang abadi

Tak terlihat lagi senyumnya
Sekarang hanya tubuhnya yang kaku
Tak terpancar tajam pandang matanya
Menyisakan raga yang mulai beku

Waktunya telah berakhir
Ruangnya berhenti berputar
Tak ada jalan kembali
Gerbang kematian telah dibuka

Senja kian menjadi
Malam kian larut sepi
Sang Rabb Pemilik Masa dan Ruanglah tempat kembali
Sang Rabb Pemilik Manusia dan Alamlah yang abadi

17 Januari 2015
kematian kedua ditempat kerja

Saksi yang Tak Abadi

Hari itu aku menjadi saksi
Meninggalkan seorang nenek tua
Penyakit umur membuatnya lupa
Pada anak cucu dan duniawi

Saat napas yang terakhir
Jiwa nenek tua telah berangkat
Saat air mata kami mengalir
Senyum nenek tua seolah terangkat

Telah dinantinya dari seminggu yang lalu
Malaikat maut adalah tamu yang ditunggu
Tuk melepaskan sgala kesakitan
Membawanya dalam keabadian

Juga pada waktu itu
Kusadari akan sesuatu
Kematian adalah akhir masa duniawi
Namun kematian juga awal yang abadi

Tuhan, tempat kami bermula
DiciptakanNya kami dengan tujuan mulia
Tuhan, tempat kami berpulang jua
Dengan segala amal dan dosa 

7 Februari 2015
disaat hari orang berisitirahat sejenak