Tampilkan postingan dengan label jelajah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jelajah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 Desember 2015

Cerita di Hari yang Libur (Nasional)

  
pencarian
Hari itu 
Saat mentari dengan malas keluar, awan pun menjadi kelabu
Meski malam tak lagi berjejak, dan ini bukanlah di ibukota yang penuh sesak
  
Sama seperti malam yang pergi, demikian dengan bunga
Bila kemarin telah mekar, tapi tidak pagi ini, dia kan layu, jatuh dalam peluk tanah
Berganti dengan yang lain, yang masih membara semangatnya
Untuk hari ini..

Sabtu, 08 Agustus 2015

Kebun Strawbery - Gua Lawa (Wisata Purbalingga yang Belum Mekar)

 
Bicara mengenai wisata yang berlokasi disudut utara Purbalingga, tepatnya di desa Siwarak - Serang, Kec. Karangreja, Purbalingga. Menempuh sekitar kurang lebih 27 km dari pusat kabupaten, dengan medan jalan yang berbukit dan pemandangan khas pegunungan yang menawan. Bila wisata Gua Lawa sudah berdiri sejak puluhan tahun yang lalu namun kebun strawbery baru dirintis sekitar 5 tahun lalu oleh warga sekitar.

Minggu, 05 April 2015

Jembatan Linggamas (Purbalingga - Sokaraja)

 
Jembatan penghubung antara kabupaten Purbalingga dan kabupaten Sokaraja sudah diresmikan sejak setahun yang lalu. Layaknya jembatan lain yang menghubungkan dua titik. Kini jarak dari Sokaraja ke Purbalingga bisa lewat jembatan ini, bahkan Sokaraja ke Banjarnegara semakin cepat ditempuh bila dibanding jalur Sokaraja-Kalimanah-Bukateja-Banjarnegara. Roda ekonomi pun kian berputar, meski masih jarang, tapi satu-dua warung, bengkel sudah mulai bermunculan di kedua sisi jembatan. Itulah fungsi sebuah jembatan.

Minggu, 22 Maret 2015

Mengejar Sang Mimpi

 
Cita-cita. Mimpi. Harapan. Tujuan. Adalah satu, terletak dimasa depan, yang harus kita gapai, berliku jalan dan tikungan yang ada, perubahan rencana, kegagalan mungkin akan kita hadapi. Dia adalah satu, tapi jalannya teramat panjang, hambatan datang silih berganti. dan semangat dalam hati terkadang hilang. 
Cita-cita itu terkadang berubah. Dimasa kecil sering terucap untuk menjadi guru, polisi, dokter hingga astronot. Beranjak remaja, terkadang mimpi itu mulai terbentur keadaan. Seorang anak petani dengan kemampuan belajar seadanya tentu akan berpikir ulang untuk menjadi dokter. Lain halnya bila sianak petani tersebut betul2 pintar, tentu dapat teratasi dengan bantuan beasiswa. Semakin dewasa, beberapa orang bahkan sudah melupakan cita-cita masa kecilnya. Terkadang orang dewasa hanyalah menjalani kehidupan bagai air. Belajar, Kuliah, Bekerja, Menikah, Punya Anak semuanya berjalan seiring waktu. 
Dan apa cita-citaku??? Dokter, guru, artis sudah menghilang seiring berjalannya waktu. Kini impian dan cita-cita yang terus bertahan adalah Pengelana. PENGELANA??? Ya, cita-cita yang aneh dan gila tersebut begitu menarik dan terus bertahan disudut hati. Meski terkadang sinarnya seperti lilin, tapi ia tetap bertahan. Dan dilain waktu sinarnya berubah seperti matahari, teramat kuat menarikku.
Sang Pengelana bukanlah cita-cita hebat seperti dokter, guru, pilot dan astronot. Pengelana hanyalah orang yang hidup terus berjalan. Dari satu titik ke titik yang lain, dari kota laut berjalan ke kota gunung. Pengelana meninggalkan rumahnya, menemukan rumah-rumah baru dengan berbagai penghuni yang tak sama. Pengelana berkawan dengan angin, matahari, jalanan, hujan dan debu. Pengelana tidaklah perlu bersekolah hingga S1 S2 S3 dan gelar lainnya, pengelana hanyalah mempelajari apa yang dilalui dan yang dirasakan.
Beratkah menjadi Pengelana? Entahlah aku sendiri tak tahu, cita-cita itu masih jauh didepan mata. Belenggu ketakutan  masih menyelimuti diri. Persiapan diri tuk menjalani perjalanan panjang masih dilakukan. Dan terpenting semangat itu belum lah padam..
 Sekian, terima kasih sudah membaca sedikit curahan hati :)

Jumat, 19 September 2014

Mengenang Keberanian Yang Berlalu

Dua tahun lalu, semangat itu begitu membara, impian itu begitu terlihat didepan mata. Langkah terasa sangat ringan, tanpa beban pikiran yang terus menghantui. Namun, kini semangat itu menguap, seakan embun yang terbakar sinar mentari.
Sebuah perjalanan penuh keberanian, keyakinan dan harapan. Berawal dari Jogja yang masih bernuansa tradisi namun telah berbaur dengan ribuan alat modern dan ratusan jenis suku.
 
Perjalanan panjang melintas kota dan laut, menaiki gerbong kereta, bus dan kapal laut. Perjalanan darat menempuh hari dan malam, berbaur dengan udara kemarau yang panas dan dingin.
 
Lombok, Mataram, Senggingi, Gili Trawangan, Gili Meno, Gili Air adalah sejumput pesono nusantara yang dapat kujelajahi. Dititik ini aku tersadar, bahwa negara ini sangatlah mempesona, kaya akan alam yang memukau, kaya akan budaya yang mengakar, kaya akan kuliner yang menggugah selera. Sayang seribu sayang masalah dan kondisi negara ini terlalu rumit tuk diselesaikan dalam waktu yang singkat. Sangat mudah dan singkat untuk membalikkan telapak tangan, tetapi untuk mengatasi masalah yang menutupi keindahan negeri ini tidak lah sesingkat itu.
 
Terima kasih terucap kepada kawan-kawan pendaki gunung Rinjani, bersama mereka saya berhasil melintasi pulau Dewata tuk pertama kalinya.
Terima kasih juga disampaikan kepada teman-teman asli dari Lombok dan Mataram yang tak dapat disebutkan satu persatu. Terima kasih atas arah dan kebaikan dari kalian pada pengembara yang tersasar ini. Atas tumpangan tidur gratis, keliling Lombok, dan petunjuk arah yang benar. 
 
 
Sebuah kenangan memang tak bisa dihapuskan, hanya akan terlupakan. Berada ditumpuk terbawah, tertutup oleh kenangan-kenangan yang lain. Demikian pula akan perjalanan ini. Suatu saat semoga saja bisa mengulangnya kembali, Kembali pada Gili Meno, Gili Trawangan, dan Mataram...
Dan kata terakhir.. 
SAYA RINDU BACKPACKERAN

Sabtu, 21 Juni 2014

Berjalan ke Prambanan

Candi Prambanan merupakan candi Hindu terbesar di Asia Tenggara, sudah banyak blog yang membahas sejarah candi ini. Masuk dalam kabupaten Klaten provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Candi ini juga merupakan kumpulan candi Hindu seperti candi Sukuh di Solo, candi Arjuna di Dieng, Wonosobo. 
  

Begitu masuk dari bagian tiketing, maka akan terhampar pepohonan yang rimbun. Selain itu juga ada air mancur, papan informasi, peta lokasi. Dan juga terdapat fasilitas mobil untuk paket menuju candi Ratu Boko, kawasan rental sepeda khusus untuk mengelilingi candi - candi kecil diutara Prambanan, museum dan ruang audio visual, arena permainan anak, museum sepeda onthel dan kandang kecil untuk kawasan rusa totol.

 
 
Dipapan infomasi ini dijelaskan terjadi kerusakan pada candi Prambanan yang diakibatkan oleh gempa 2006. Bencana ini membuat kawasan budaya ini rusak dan perlu diperbaiki. Tapi menurut pendapat saya kok perbaikannya memakan waktu yang lama ya,, 2006-2014 itu berarti hampir 8 tahun. Memang membangun candi adalah hal yang penuh kesulitan dan kerumitan karena tatanan batunya yang sangat unik.

Baru sadar ada rusa - rusa di kawasan candi, sayang gak ada yang jualan wortel kan jadi gak bisa memberi umpan pada rusa biar mereka pada mendekat.

Salah satu stand yang berisi sepeda onthel dari jaman dahulu, selain itu juga ada batik dan alat tradisional lainnya.

Candi Lumbung
Tak hanya Prambanan yang sedang diperbaiki, tapi juga candi - candi kecil disekilingnya.



Candi Bubrah
Sepertinya ini yang paling parah, hanya ada puing - puing batu yang tak tersusun. Atau memang seperti ini, munngkin Bubrah artinya berantakan, pecah, runtuh.


Candi Sewu
Secara arti kata candi Sewu adalah candi seribu, entahlah apakah masih ada 1000 candi atau telah hancur termakan jaman dan bencana.



Sedikit ada rasa yang kurang mengenakkan tentang perjalanan ke candi Prambanan ini, dikawasan ini terdapat rental sepeda, tepatnya disamping museum dan ruang audio visual. Hanya 10rb untuk sepeda tunggal dan 20ribu untuk sepeda pasangan. Nah, bentuk kesalnya kenapa hanya diperbolehkan untuk mengelilingi utara Prambanan yaitu kawasan candi yang kecil - kecil. Begitu sepeda masuk di gerbang candi Prambanan langsung ditolak oleh satpam. Katanya gak boleh pake sepeda ke candi itu, walau itu karyawan sekalipun. OK, gue terima hal ini, meski dalam hati dongkol setengah mati. Percuma 10rb hanya untuk keliling candi yang mungkin jauhnya gak nyampe 1km. Yang bikin makin sakit hati, begitu ngembaliin sepeda, eh papasan sama pegawai yang masuk ke candi Prambanan pake sepeda... 

Meski bagaimana pun, patut berbangga pada leluhur yang bisa membangun candi ini dengan begitu megahnya. Semoga aja pemerintah kita bisa seperti Thailand atau Myanmar yang identik dengan negrinya mampu menjaga kelestarian candi - candi mereka.. Dan candi Indonesia gak kalah bagusnya..







Selasa, 17 Juni 2014

Kembali (lagi) ke Malioboro

Kembali ke Malioboro rasanya seperti kembali ke kota sendiri, meski antara Yogyakarta (kota) dan Purbalingga tak bisa dibandingkan secara langsung. Mau dilihat dari manapun Yogyakarta tetaplah kota yang lebih segalanya dibanding kota kecil Purbalingga. Tapi rasanya sangat nyaman berada dikota ini, meski belakang meningkatnya kaum marjinal (bener gak ya) seperti pengamen, pengemis, pemulung dan teman - temannya sangat mengganggu keindahan kota ini.

 

Malioboro sore sangat lah menyenangkan, menikmati senja dengan angin yang berhembus pelan, berbagai makanan yang menggoda, hilir mudik kendaraan yang ramai tapi masih saling menghormati adalah pesona dari jalan ini. Disamping pasar Bringharjo, kala sore sudah datang, para pedagang mulai menata barang dagangannya. Dari aksesoris, kaos, batik, miniatur, mainan khas kota ini rasanya semuanya komplit berada di pasar ini. Pasar Sore Malioboro..



 

Mungkin karena musim liburan hingga menyebabkan sejumlah penginapan favorit penuh. Huftt, harus cari-cari lagi nih. Masuk hotel Puri, tempat yang nyaman, murah, deket dengan Malioboro dan ternyata.. "penuh mba, tinggal yang 100". Rasanya 100rb hanya untuk sebuah kamar satu malam itu sangatlah mahal. Dan mau tak mau harus jalan lagi mencari penginapan yang lain. Dari hotel Puri ini ditunjukkan luru terus lalu belok kanan. Masuk satu hotel tapi salah sasaran, ternyata ratenya malah 150 untuk single room... :(  Cari lagi, masuk ke penginapan Harum I (yang difoto tuh) ternyata masih ada yang kosong tp double bed dan ternyata cuma 50rb, sementara yang single cuma 35rb tp dah penuh. Mau gimana lagi dari pada kemalaman, terpaksa deh... meski fasilitasnya kalah jauh dengan Hotel Puri. Kamarnya kurang bersih, kamar mandinya cuma satu dan juga gimana gitu.. (menurut saya penginapan ini gak begitu nyaman,, )


Memang warga Yoyga tuh terkenal kreatif, sampai dinding pun menjadi lahan bagi pemikiran mereka. Terkadang ada gambar - gambar yang menggelitik hati, ada gambar yang menggambarkan tokoh penting dan gambar unik lainnya.. Yogya juga terkenal akan grafitinya, cuman sayang pas di jalan penginapan ini gak ada grafitinya..



Sepertinya jalan Malioboro itu hanya sepi saat pagi hari (antara jam 4 hingga jam 6 pagi) toko - toko masih tutup, demikiran dengan para pedagang dipinggir toko, para pengasong mungkin masih dirumahnya. Hanya penjual angkringan, penjaja gudeg yang sibuk dengan konsumennya. Terlihat pula para petugas kebersihan yang menyapu tiap jalan Malioboro, warga sekitar yang berolahraga sekedar lari pagi ataupun sepeda.

Kamis, 15 Mei 2014

Air Terjun Tersembunyi Purbalingga


 
Purbalingga yang identik dengan pabrik rambut atau bulu mata palsu ternyata masih menyimpan sejuta potensi wisata alam. Salah satu yang mau kuposting adalah curug didaerah Rembang, Purbalingga.
Rembang merupakan salah satu kecamatan di Purbalingga, berada di sebelah utara kabupaten ini. Rembang juga merupakan salah satu kecamatan terluas di Purbalingga. Letaknya lebih tinggi daripada kota Purbalingga sendiri, tak heran untuk menuju kesana akan melewati tanjakan dan turunan membelah bukit. Warga Rembang kebanyakan masih mengolah tanah pertanian dan perkebunan, akan tetapi tak sedikit pula yang pergi merantau sebagai pedagang, ataupun tenaga kerja. Perjalanan menuju Rembang dari kota Purbalingga kurang lebih memakan waktu 1 jam. Lokasi air terjun kebanyakan berada di Gunung Welud, Losari, Rembang.

Minggu, 20 April 2014

Mengejar Sang Gunung


  
bulan juga kesiangan

Hari minggu telah tiba, setelah sibuk 6 hari kerja akhirnya datang juga hari untuk beristirahat, waktunya buat jalan - jalan. Gak sekedar pergi ke pasar Badhog Bancar buat beli lopis ketan, akhirnya bawa juga camdig buat ngejar sang gunung Slamet yang belakangan jarang muncul karena ketutup awan mendung. so, lets go...

  
Titik pertama, dari jembatan Klawing perbatasan Bancar Penaruban, waktu itu matahari sudah agak bersinar dari timur, meski tak begitu terang tapi cukuplah untuk menampakkan si gunung yang kokoh. Jalanan juga masih sepi,, gimana gak sepi, waktu itu masih jam 6 kurang


Lanjut ke pasar Badhog Bancar, buat beli lopis ketan yang maniiiis,, lanjut ke arah Jatisaba, biasanya dari sini juga kelihatan gunung Slamet. Tapi sayang masuk daerah sini malah mendung, dan entah kenapa berkabut. Jadi berasa masuk ke negeri antah berantah, kanan kiri depan belakang ketutup kabut, pesawahan yang luas berubah menjadi lautan kabut yang penuh misteri.


Keluar dari Jatisaba kearah perempatan KedungMenjangan, kabut juga udah berkurang, tapi sayang matahari masih ketutup sama awan mendung. Jadi gak bisa keliatan tuh gunung dari samping Pengadilan Agama Islam., cuma bisa liat pohon - pohon dan sawah yang masih ketutup kabut juga.


Ketika sampai di depan Dinas Pertanian matahari udah makin tinggi, mendung gak kelihatan lagi, langsung gowes aja ke GOR Guntur Darjono. Betul aja, dari arah situ udah keliatan tuh gunung dengan megahnya. Kebetulan di GOR lagi ada acara minggu pagi PocariSweat menyebabkan jalannya rada macet

sudut lain dari GOR Guntur Darjono, Purbalingga


Berhubung semakin siang, dan perut juga sudah demo maka puter balik jalan pulang tapi lewat alun-alun. Dari alun - alun juga kelihatan nih gunung, menjadi latar masjid agung Purbalingga. Satu yang gak bisa diilangin dari alun - alun adalah tempat kegiatan masyarakatnya, mulai dari joging, jualan bubur ayam, opor ayam, gudeg, dan lainnya. Padahal dah ada GOR yang diharapkan menjadi pusat dari kegiatan, dan alun - alun nantinya taman sepi dan dilarang jualan disini. Tapi gimana lagi, alun - alun dah menjadi ikon keramian di kota kecil ini, sepertinya gak bakal bisa dipindah ketempat lain..


  
Waktunya pulang,, lewat lagi jembatan Klawing,, meski udah makin siang, tapi mendung tiba - tiba datang (emang cuaca gak bisa ditebak). Kali ini cuma keliatan pucuknya tuh gunung,,


Semoga lain kali bisa ngejar gunung lagi tapi edisi matahari tenggelam, penasaran apa keliatan jelas atau malah ketutup sama gelapnya langit?? Semoga ada lain waktu melakukannya dan juga untuk berbagi cerita..

Minggu, 15 Desember 2013

Fun Bike KulaBangga Purbalingga 2013

Dalam rangka penyambut hut kota tercinta, pihak KulaBangga kemarin mengadakan acara sepeda santai keliling Purbalingga. Dari alun-alun, bancar, jatisaba, kedungmenjangan, mewek, kalimanah, tembus lurus ke padamara dan berakhir pulang ke alun-alun lagi. Katanya si rute sepanjang 25km, mungkin panjang banget tapi kalo dinikmati alamnya gak terasa panjang. 

 
Dari pasar, rumah - rumah warga, pesawahan hampir semuanya terlihat enak dipandang mata, apalagi sampai di daerah padamara,,, gunung slametnya itu lhooo... berdiri gagah menjulang langit.



Tiket 30ribu dapat kaos, perdana as isi 2ribu, snak (kayak difoto atas,, ) dan aneka doorprise (dari kaos, jaket, payung, tiket citilink, sepeda, kulkas, motor, dan ALYA, yups mobil alya). Sayang seribu sayang, antara tiket yang terjual ke masyarakat dan hadiah yang disediakan ngak pas porsinya,, masa tiket 11.500 lembar hadiahnya cuma 183 (kemarin pas diundi bahkan ngak ada 183, mungkin cuma 150).
Beberapa hal yang kurang memuaskan dihati dari kegiatan ini,,
Kurangnya pengawasan dalam jalannya sepeda santai dari panitia,, dibeberapa titik pertigaan atau perempatan terkadang ada yang menerobos lewat jalan pintas.
Kurangnya keamanan di pertigaan atau perempatan saat melewati jalan raya, bahaya kan kalau tiba - tiba ada yang ditabrak bis
Rutenya terkadang menyebabkan kemacetan, dipasar Bancar, waktu di daerah Kalimanah-Padamara (antri cuma buat ngambil air minum),,,
Ngak sportif, masa bisa beli tiket tapi ngak ikut sepedaan...

Emang sih, ngak ada manusia yang sempurna, demikian pula sebuah acara, pasti ada celah - celah kesalahan. Tapi tinggal diambil enaknya aja kok, yah dengan acara kayak ginian kan bisa kenal dengan orang lain, bisa jelajah Purbalingga rame-rame, bisa jadi tontonan bagi warga sekitar, salah satu cara bikin sehat juga dengan bersepeda

sayang anak.. sayang anak...

Rabu, 23 Oktober 2013

Esai Klawing

Esai adalah karangan prosa yang membahas suatu masalah secara sepintas lalu dari sudut pandang pribadi penulisnya. Pengarang esai disebut esais. Esai sebagai satu bentuk karangan dapat bersifat informal dan formal. .(http://www.pemustaka.com/pengertian-esai-dan-ciri-cirinya.html)
Esai ini dibuat hanya sebagai bahan pembelajaran tentang alam, bahan pembelajaran tentang cara menulis yang lebih baik. Esai ini tidaklah dimaksudkan untuk menyinggung apalagi untuk menghakimi beberapa pihak. Esai ini masih jauh dari kesempurnaan sebuah tulisan, karena itu penulis meminta maaf dengan setulusnya atas segala kesalahan penulisan kata atau pun ada kata - kata yang menyinggung para pembaca. Seluruh foto dalam esai ini adalah benar dan bukan hasil editan. Diambil dari beberapa sudut sungai Klawing yang mengalir di desa Penaruban.
  
Alam memang tercipta untuk membantu kehidupan manusia, bahkan alam tercipta lebih dahulu dibandingkan manusia. Dalam kehidupan, manusia sangat bergantung pada alam. Kita memerlukan pepohonan untuk membuat oksigen sebagai udara yang kita hirup, kita memerlukan kekayaan laut akan beragam ikan, mutiara, dan beragam jenis lainnya. Namun sekarang ini, manusia sering kali egois, hanya berpikir untuk urusan perutnya sendiri tanpa peduli pada alam sekitar. Bencana alam dan berbagai gejolak alam dimasa lalau harusnya menjadi pelajaran tersendiri bagi manusia akan betapa hebatnya kekuatan alam ini.
Sungai Klawing adalah satu bagian dari alam, yang mengalir di beberapa desa dari ujung hingga akhirnya. Seiring perkembangan pembangunan sekarang ini sungai Klawing mengalami penyempitan, dikarenakan adanya pembangunan bendungan di Slinga. Yang tadinya dialiri air sekarang ini berubah menjadi daratan tanah yang kosong. Seperti yang terjadi di perbatasan Penaruban - Kalikajar (legok) tanah yang kosong telah ditanami pepohonan yang menghijau. Sekarang aliran sungai dibagian ini telah menengah dan mulai jauh dari tepi yang dahulu.


Dari tahun ketahun penambangan pasir dan batu semakin banyak jumlahnya. Hanya ada satu perusahaan di Penaruban dan kebanyakan yang lain oleh warga setempat. Penambangan pasir dan batu ini ibarat menemukan harta karun yang (belum waktunya) tak habis. Mereka tinggal datang kesungai, mengangkutnya dan kemudian menjual pada orang yang membutuhkan.Penambangan ini masih dilakukan secara tradisonal, belumlah sampai mengguakan mesin yang canggih. Para lelaki mengangkut pasir dan batu, sementara para wanita bekerja sebagai pemecah batu.Hasil dari penambangan pasir ini dapat digunakan untuk membantu perekonomian warga setempat.
Tak hanya penambangan pasir dan batu yang mengakibatkan terjadinya kerusakan di sungai Klawing, tetapi juga adanya warga yang membuang sampah di pinggiran sungai Klawing alias nyampah nang Klawing. Warga masih berpikir bahwa pinggiran sungai merupakan lahan yang tepat untuk membuang sampah karena, lahannya luas, sepi dan jarang dikunjungi oleh warga sekitar. Mereka tidak berpikir apakah sampahnya nanti telah benar - benar membusuk, turun kesungai atau menjadi lautan lalat dan nyamuk. Tapi nyampah di Klawing hanya terlihat di pinggiran sungai saja, lihat saja seperti di jalan setapak dari makam ke legok,, meski tak terlalu dekat dengan tepi sungainya, tapi dapat kita lihat sampah yang ada
Tak bisa dipungkiri kegiatan penambangan pasir membawa dampak positif yang telah dirasakan warga sekitar dan pemerintah. Meningkatnya pendapatan bagi mereka yang menambang pasir adalah hal yang paling banyak dilakukan. Hal ini juga diiringi penurunan jumlah penangguran, karena para warga terserap pada lahan penambangan pasir ini. Tak hanya mereka warga sekitar pun menjadi kreatif, mereka dapat membuka warung yang menyediakan makanan, minuman, rokok bagi para penambang pasir 
Ibarat uang koin yang memiliki dua sisi, penambangan pasir pun memiliki sisi negatifnya. Ditambah dengan adanya pembuangan sampah dipinggiran sungai menjadi dampak negatif menjadi lebih banyak. Meningkatnya polusi udara, peningkatan debu dapat menyebabkan kualitas udara disekitar sungai menurun. Terjadi juga penurunan kualitas air yang menjadi kurang jernih. Dapat terjadi longsor karena terjadi lahan terbuka bila muim penghujan dan bila musim kemarau akan menyebabkan debit air menjadi menipis. Jalanan disekitar sungai pun sering terjadi kerusakan karena sering dilalui truk - truk bermuatan pasir dan batu. Selain itu sampah - sampah yang menumpuk dapat menyebabkan adanya lalat dan nyamuk yang membawa berbagai bibit penyakit, hal ini juga menjadi pemandangan yang sangat tidak enak bila dipandang mata.
Peranan masyarakat dan pemerintah sangatlah penting. Para penambang pasir dan batu tidaklah mungkin untuk dihentikan. Hal ini akan berdampak besar pada kehidupan mereka. Yang dapat dilakukan adalah hendaknya mereka dapat mengurangi jumlah tambangnya, sedikit saja. Bagi para warga yang masih membuang sampah di pinggiran sungai, harusnya dipisahkan antara sampah yang dapat terurai dan tidak dapat terurai. Misalkan plastik, harusnya dibakar secara rutin, karena plastik adalah bahan yang sangat sulit untuk terurai, diperlukan puluhan tahun untuk dapat terurai bersama tanah. Untuk dedaunan atau sayuran dapat ditimbun dan dijadikan pupuk. Dari pihak pemerintah pun sangat diharapkan untuk dapat mengawasi kegiatan ini. Mereka jangan hanya duduk manis dikantor saja, hanya menandatangani laporan saja. 
Pemerintah janganlah hanya sibuk untuk urusan membangun suatu gedung yang belum diperlukan. Pemerintah harus bijak dalam membuat peraturan tentang alam.

Pada dasarnya Allah S.w.t. telah melarang kepada manusia agar tidak merusak alam, hal ini sebagaimana firman-Nya dalam surat Al-Baqoroh ayat 11 :
وَاِذَا قِيْلَ لَهُمْ لاَتُفْسِدُوْا فِى الاَرْضِ…
“ Dan apabila dikatakan kepada mereka : Janganlah kamu membuat kerusakan dimuka bumi “

Sebagai manusia yang bergantung pada alam, marilah kita mulai lebih dekat lagi dengan alam. Mari kita bersikap dan berpikir apa yang terbaik untuk kita dan untuk alam juga. Marilah kita beriringan berjalan dengan alam dikehidupan ini... Save Our Nature


Gambar - gambar lain :