Tampilkan postingan dengan label foto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label foto. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 September 2016

Karnaval HUT RI 71 Purbalingga

Sangat terlambat. Kata yang pas untuk tulisan ini, mengendap di draf hampir 3 minggu, dan daripada dibuang begitu mending dibaca lagi. Karnaval tujuh belasan adalah kegiatan wajib diseluruh negeri dalam memperingati hari kemerdekaan. Dari Sabang sampe Merauke pasti melakukannya, penuh kreativitas, kegembiraan, dan semangat. 

Dan untuk HUT RI Ke 71 di kabupaten tercinta Purbalingga, karnaval diselenggarakan pada tanggal 30 Agustus 2016, hampir 2 minggu setelah hari peringatan kemerdekaan republik ini. Rencana dimulai pada pukul 8 pagi, tapi kenyataannya mulur hingga jam 10, kasihan mereka yang sudah menanti sedari pagi.  

Minggu, 18 Oktober 2015

Kemarau Nan Panjang

Kemarau tak kunjung pergi
Meski hujan telah dirindukan setiap manusia
Sinar matahari kian membara
Dan manusia semakin berkeluh kesah dengan situasi
Siapa yang disalahkan???



Musim kemarau tahun 2015 ini terasa amat panjang, dari akhir Juli hingga sekarang, bahkan menurut perkiraan hingga bulan November. Sejumlah kekeringan tlah menyebar, panen pun banyak yang terancam gagal hingga kebakaran hutan Sumatra dan Kalimantan yang asapnya merambah negeri sebrang. Semua gegara kemarau.

Disisi lain, bila kita ingin membangun rumah inilah waktu yang tepat, ingin usaha jus dan minuman segar inilah waktu yang banyak mendatangkan laba, ingin menjemur kerupuk dan ikan asin inilah waktu yang ditunggu, inilah musim kemarau yang terkadang ditunggu oleh sebagian orang.

Seperti uang logam yang memiliki dua sisi, demikian pula dengan kemarau. Dan itulah yang dijelaskan di dua paragraf awal. Satu sisi ia membawa bencana tapi disisi lain ia juga membawa anugerah. Seperti itulah musim kemarau.

Apa yang diberikan Tuhan bukankah harus kita syukuri, tanpa perlu panjang lebar mengeluh. Demikian pula dengan kemarau, tak perlu kita saling menunjuk pihak mana yang paling bersalah. Tinggalah kita saling merenung dan memperbaiki sikap masing-masing. Apakah kita sudah merusak alam hingga menyebabkan kemarau panjang ini? Ataukah benar mereka yang telah merusaknya dengan berbagai dalih. 
 
Setelah kita renungkan tentang kemarau panjang ini, tinggalah kita menentukan sikap. Akankah kita akan bersikap seperti ini saja atau merubah apa yang selama ini kita lakukan dan menyebabkan kemarau panjang. Bila tindakan kita sebelumnya adalah merusak alam maka kita harus kembali untuk merawatnya. Mulai melakukan tindakan kecil untuk kelestarian alam ini. 
Kita bisa mulai dengan tidak membuang sampah sembarang (bila tidak ada tempat sampah, maka sampah tersebut disimpan dulu dikantong sampai kita temukan tempat sampah), mulai menghemat sumber daya alam (seperti listrik, bensin, air, dll), menghemat penggunaan plastik dan tidak membuangnya di alam bebas seperti hutan, gunung, dan laut, tidak mengotori aliran sungai dan saluran air di sekitar rumah, membiasakan menanam pohon disekitar rumah dan tindakan lain yang terlihat sederhana namun memiliki banyak arti bagi alam ini.

Dibalik kemarau itu ada ..
Siapa bilang bunga tidak mekar..
 
Penjual jus buah & kelapa muda laris manis ...
 
Olahan kerupuk, keripik pisang, ikan asin, garam, dll semuanya memuaskan ...
 
Bangunan rumah cepat kering dan cepat selesai ...
Terimakasih sudah berkunjung dan membaca sedikit pemikiran ini,
Mari kita kembali pada alam meski kemarau panjang ini belum selesai..

Sabtu, 08 Agustus 2015

Kebun Strawbery - Gua Lawa (Wisata Purbalingga yang Belum Mekar)

 
Bicara mengenai wisata yang berlokasi disudut utara Purbalingga, tepatnya di desa Siwarak - Serang, Kec. Karangreja, Purbalingga. Menempuh sekitar kurang lebih 27 km dari pusat kabupaten, dengan medan jalan yang berbukit dan pemandangan khas pegunungan yang menawan. Bila wisata Gua Lawa sudah berdiri sejak puluhan tahun yang lalu namun kebun strawbery baru dirintis sekitar 5 tahun lalu oleh warga sekitar.

Minggu, 05 April 2015

Jembatan Linggamas (Purbalingga - Sokaraja)

 
Jembatan penghubung antara kabupaten Purbalingga dan kabupaten Sokaraja sudah diresmikan sejak setahun yang lalu. Layaknya jembatan lain yang menghubungkan dua titik. Kini jarak dari Sokaraja ke Purbalingga bisa lewat jembatan ini, bahkan Sokaraja ke Banjarnegara semakin cepat ditempuh bila dibanding jalur Sokaraja-Kalimanah-Bukateja-Banjarnegara. Roda ekonomi pun kian berputar, meski masih jarang, tapi satu-dua warung, bengkel sudah mulai bermunculan di kedua sisi jembatan. Itulah fungsi sebuah jembatan.

Jumat, 19 September 2014

Mengenang Keberanian Yang Berlalu

Dua tahun lalu, semangat itu begitu membara, impian itu begitu terlihat didepan mata. Langkah terasa sangat ringan, tanpa beban pikiran yang terus menghantui. Namun, kini semangat itu menguap, seakan embun yang terbakar sinar mentari.
Sebuah perjalanan penuh keberanian, keyakinan dan harapan. Berawal dari Jogja yang masih bernuansa tradisi namun telah berbaur dengan ribuan alat modern dan ratusan jenis suku.
 
Perjalanan panjang melintas kota dan laut, menaiki gerbong kereta, bus dan kapal laut. Perjalanan darat menempuh hari dan malam, berbaur dengan udara kemarau yang panas dan dingin.
 
Lombok, Mataram, Senggingi, Gili Trawangan, Gili Meno, Gili Air adalah sejumput pesono nusantara yang dapat kujelajahi. Dititik ini aku tersadar, bahwa negara ini sangatlah mempesona, kaya akan alam yang memukau, kaya akan budaya yang mengakar, kaya akan kuliner yang menggugah selera. Sayang seribu sayang masalah dan kondisi negara ini terlalu rumit tuk diselesaikan dalam waktu yang singkat. Sangat mudah dan singkat untuk membalikkan telapak tangan, tetapi untuk mengatasi masalah yang menutupi keindahan negeri ini tidak lah sesingkat itu.
 
Terima kasih terucap kepada kawan-kawan pendaki gunung Rinjani, bersama mereka saya berhasil melintasi pulau Dewata tuk pertama kalinya.
Terima kasih juga disampaikan kepada teman-teman asli dari Lombok dan Mataram yang tak dapat disebutkan satu persatu. Terima kasih atas arah dan kebaikan dari kalian pada pengembara yang tersasar ini. Atas tumpangan tidur gratis, keliling Lombok, dan petunjuk arah yang benar. 
 
 
Sebuah kenangan memang tak bisa dihapuskan, hanya akan terlupakan. Berada ditumpuk terbawah, tertutup oleh kenangan-kenangan yang lain. Demikian pula akan perjalanan ini. Suatu saat semoga saja bisa mengulangnya kembali, Kembali pada Gili Meno, Gili Trawangan, dan Mataram...
Dan kata terakhir.. 
SAYA RINDU BACKPACKERAN

Kamis, 04 September 2014

Memotret atau Dipotret???


Memotret atau Dipotret? Pegang kamera atau bergaya didepan kamera??? Dua hal yang berkaitan namun  berbeda, dengan penghubung alat ajaib "kamera".

Jujur, saya sendiri lebih memilih memotret, menjadi pemegang kamera dan pengarah gaya. Ada beberapa hal yang lebih didapat dari hal iini dibanding bila dipotret. Mungkin dalam pemikiran banyak orang, memotret itu hal yang mudah, sederhana, gampang, 'tinggal tekan tombolnya saja'. Tapi tidak bagi para pemegang kamera, ada banyak hal untuk menghasilkan karya yang baik dan menyimpan suatu kenangan. Waktu yang pas, background, faktor cahaya yang mendukung, suasana hati yang tenang, dan tentunya sebuah cerita yang akan ditangkap oleh mata kamera kita.


Sebenarnya semua itu tergantung dari minat dan bakat, kalo memang seneng bergaya pastinya lebih seneng dipotret. Gak lagi liburan, lagi sibuk kerja, lagi bantuin kawinan sodara, kalo ada orang bawa kamera pasti langsung bisa pasang pose. Lebih keren kalau udah punya dasar sebagai orang yang fotogenik, mau gaya apa aja pasti hasilnya oke. Gak peduli dibilang orang narsis yang penting jepret, jepret, satu dua langsung bisa upload di sosmed..
Terserah mau milih memotret atau dipotret, yang pasti hasilnya adalah sebuah gambar. Kenangan akan waktu, tempat, suasa yang diabadikan dalam sebuah gambar. Kenangan yang mungkin gak akan keulang dua kali. Kenangan yang penuh cerita, penuh warna, penuh emosi dan suasana. Karena itulah sebuah inti dari hasil kamera.

Senin, 18 Agustus 2014

Sepotong cerita dari Sebuah Pekarangan



Siang itu, meski matahari tengah panas membara, sementara angin kemarau mulai mengudara, entah mengapa mata dan kaki malah tertuju pada pekarangan sekaligus kebun disamping rumah. Seakan berharap ada sedikit cerita yang kan didapat dari sebidang tanah yang tak terpakai tersebut. Maka dimulailah langkah dan bidikan kamera pada beberapa sudut yang nampaknya mulai ditinggalkan sang pemilik lahan.

Seekor belalang menyambutku didepan pagar, dia baru saja hingga didaum ketika aku melangkah masuk. Mungkin ia hendak mencari tempat berteduh ditengah siang yang hari yang terasa sangat panas.
 


pisang yang masih lengkap dengan jantungnya

Pisang, pepaya, markisa, pohon buah itu masih terasa sama. Masih saja berdaun hijau, dan kemudian mengandung buahnya yang siap untuk dinikmati manusia.  


Dan kemudian ..
Semua menjadi tak berguna lagi, daun - daun menjadi layu menguning, buah terlalu matang hingga berbuah menjadi busuk. Mereka terlupakan oleh sang pemilik. Hasil mereka tak sempat tuk digunakan dalam kehidupan manusia
Dan berakhir pada kematian, ranting dan batang pohon pun hampir mati. Kering, tanpa daun, hanya menyisakan segurat ranting yang mudah patah. Tak lagi ada daun, apalagi buah, tak ada lagi proses fotosintesis hanya menunggu dicabutnya dari tanah atau perlahan mati karena waktu.


Sesaat itulah aku tersadar, mungkin manusia juga mengalami kehidupan yang sama dengan sudut pekarangan ini. Awal kehidupan layaknya tanaman yang masih hijau, perlahan muncul bunga dan buah kecil dipohonnya. Kemudian bunga itu makin membesar dan makin bermanfaat bagi yang lain, demikian pula seorang manusia, ketika semakin dewasa, maka dia akan semakin berguna bagi manusia yang lain. Dan perjalanan itu berubah pada proses penuaan, layaknya ranting dan batang yang mengering, demikian pula manusia yang akan semakin rapuh karena menjadi tua... Inikah perjalanan manusia atau hanya sepotong cerita dari pekarangan saja..

bunga ungu, tangkai merah, daun hijau, dan sinar matahari

Sabtu, 21 Juni 2014

Berjalan ke Prambanan

Candi Prambanan merupakan candi Hindu terbesar di Asia Tenggara, sudah banyak blog yang membahas sejarah candi ini. Masuk dalam kabupaten Klaten provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Candi ini juga merupakan kumpulan candi Hindu seperti candi Sukuh di Solo, candi Arjuna di Dieng, Wonosobo. 
  

Begitu masuk dari bagian tiketing, maka akan terhampar pepohonan yang rimbun. Selain itu juga ada air mancur, papan informasi, peta lokasi. Dan juga terdapat fasilitas mobil untuk paket menuju candi Ratu Boko, kawasan rental sepeda khusus untuk mengelilingi candi - candi kecil diutara Prambanan, museum dan ruang audio visual, arena permainan anak, museum sepeda onthel dan kandang kecil untuk kawasan rusa totol.

 
 
Dipapan infomasi ini dijelaskan terjadi kerusakan pada candi Prambanan yang diakibatkan oleh gempa 2006. Bencana ini membuat kawasan budaya ini rusak dan perlu diperbaiki. Tapi menurut pendapat saya kok perbaikannya memakan waktu yang lama ya,, 2006-2014 itu berarti hampir 8 tahun. Memang membangun candi adalah hal yang penuh kesulitan dan kerumitan karena tatanan batunya yang sangat unik.

Baru sadar ada rusa - rusa di kawasan candi, sayang gak ada yang jualan wortel kan jadi gak bisa memberi umpan pada rusa biar mereka pada mendekat.

Salah satu stand yang berisi sepeda onthel dari jaman dahulu, selain itu juga ada batik dan alat tradisional lainnya.

Candi Lumbung
Tak hanya Prambanan yang sedang diperbaiki, tapi juga candi - candi kecil disekilingnya.



Candi Bubrah
Sepertinya ini yang paling parah, hanya ada puing - puing batu yang tak tersusun. Atau memang seperti ini, munngkin Bubrah artinya berantakan, pecah, runtuh.


Candi Sewu
Secara arti kata candi Sewu adalah candi seribu, entahlah apakah masih ada 1000 candi atau telah hancur termakan jaman dan bencana.



Sedikit ada rasa yang kurang mengenakkan tentang perjalanan ke candi Prambanan ini, dikawasan ini terdapat rental sepeda, tepatnya disamping museum dan ruang audio visual. Hanya 10rb untuk sepeda tunggal dan 20ribu untuk sepeda pasangan. Nah, bentuk kesalnya kenapa hanya diperbolehkan untuk mengelilingi utara Prambanan yaitu kawasan candi yang kecil - kecil. Begitu sepeda masuk di gerbang candi Prambanan langsung ditolak oleh satpam. Katanya gak boleh pake sepeda ke candi itu, walau itu karyawan sekalipun. OK, gue terima hal ini, meski dalam hati dongkol setengah mati. Percuma 10rb hanya untuk keliling candi yang mungkin jauhnya gak nyampe 1km. Yang bikin makin sakit hati, begitu ngembaliin sepeda, eh papasan sama pegawai yang masuk ke candi Prambanan pake sepeda... 

Meski bagaimana pun, patut berbangga pada leluhur yang bisa membangun candi ini dengan begitu megahnya. Semoga aja pemerintah kita bisa seperti Thailand atau Myanmar yang identik dengan negrinya mampu menjaga kelestarian candi - candi mereka.. Dan candi Indonesia gak kalah bagusnya..







Selasa, 17 Juni 2014

Kembali (lagi) ke Malioboro

Kembali ke Malioboro rasanya seperti kembali ke kota sendiri, meski antara Yogyakarta (kota) dan Purbalingga tak bisa dibandingkan secara langsung. Mau dilihat dari manapun Yogyakarta tetaplah kota yang lebih segalanya dibanding kota kecil Purbalingga. Tapi rasanya sangat nyaman berada dikota ini, meski belakang meningkatnya kaum marjinal (bener gak ya) seperti pengamen, pengemis, pemulung dan teman - temannya sangat mengganggu keindahan kota ini.

 

Malioboro sore sangat lah menyenangkan, menikmati senja dengan angin yang berhembus pelan, berbagai makanan yang menggoda, hilir mudik kendaraan yang ramai tapi masih saling menghormati adalah pesona dari jalan ini. Disamping pasar Bringharjo, kala sore sudah datang, para pedagang mulai menata barang dagangannya. Dari aksesoris, kaos, batik, miniatur, mainan khas kota ini rasanya semuanya komplit berada di pasar ini. Pasar Sore Malioboro..



 

Mungkin karena musim liburan hingga menyebabkan sejumlah penginapan favorit penuh. Huftt, harus cari-cari lagi nih. Masuk hotel Puri, tempat yang nyaman, murah, deket dengan Malioboro dan ternyata.. "penuh mba, tinggal yang 100". Rasanya 100rb hanya untuk sebuah kamar satu malam itu sangatlah mahal. Dan mau tak mau harus jalan lagi mencari penginapan yang lain. Dari hotel Puri ini ditunjukkan luru terus lalu belok kanan. Masuk satu hotel tapi salah sasaran, ternyata ratenya malah 150 untuk single room... :(  Cari lagi, masuk ke penginapan Harum I (yang difoto tuh) ternyata masih ada yang kosong tp double bed dan ternyata cuma 50rb, sementara yang single cuma 35rb tp dah penuh. Mau gimana lagi dari pada kemalaman, terpaksa deh... meski fasilitasnya kalah jauh dengan Hotel Puri. Kamarnya kurang bersih, kamar mandinya cuma satu dan juga gimana gitu.. (menurut saya penginapan ini gak begitu nyaman,, )


Memang warga Yoyga tuh terkenal kreatif, sampai dinding pun menjadi lahan bagi pemikiran mereka. Terkadang ada gambar - gambar yang menggelitik hati, ada gambar yang menggambarkan tokoh penting dan gambar unik lainnya.. Yogya juga terkenal akan grafitinya, cuman sayang pas di jalan penginapan ini gak ada grafitinya..



Sepertinya jalan Malioboro itu hanya sepi saat pagi hari (antara jam 4 hingga jam 6 pagi) toko - toko masih tutup, demikiran dengan para pedagang dipinggir toko, para pengasong mungkin masih dirumahnya. Hanya penjual angkringan, penjaja gudeg yang sibuk dengan konsumennya. Terlihat pula para petugas kebersihan yang menyapu tiap jalan Malioboro, warga sekitar yang berolahraga sekedar lari pagi ataupun sepeda.

Sabtu, 14 Juni 2014

Berjalan ke Benteng Vredeburg Jogja

 
Sebuah kesempatan lagi untuk berkunjung ke kota yang tak pernah berubah. Dan lagi waktu yang bertepatan dengan musim libur membuat kota ini penuh ramai dengan berbagai anak - anak sekolah, meski turis asing pun tak kalah banyaknya.

 

Berhubung dari kemarin kalau ke Jogja gak pernah masuk ke Benteng Vredeburg (padahal deket pake banget dari penginapan). Selain itu benteng ini juga mudah dijangkau, masuk dalam kawasan Malioboro yang selalu ramai. Untuk tiket masuknya pun tergolong murah, cuma 2ribu rupiah dan bisa keliling benteng Belanda ini.

 
Sejumlah fasilitas seperti, perpustakaan, ruang audio visual, perpustakaan, guest house dan lain sebagainya bisa dinikmati oleh para pengunjung. Dari benteng ini pula dapat kita mempelajari sejarah bangsa  ini. Sebuah perjuangan melawan para penjajah.


Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati para pendiri dan pejuang bangsanya. Bagaimanakah caranya??? Apakah cukup dengan datang ke Museum saja?? Apakah cukup dengan melakukan upacara bendera saja?? Saya rasa pertanyaan ini patut kita tanyakan pada bangsa ini dan tentunya diri kita sendiri. SUDAHKAH INDONESIA MENJADI BANGSA YANG BESAR??