Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 Desember 2015

Gerimis Disuatu Senja



Gerimis di suatu senja

Diluar gerimis belum reda
Sama seperti luka ini yang belum juga reda
Saat rintih hujan perlahan menetes
Ketika itu pula secuil kenangan kembali meretas
Dari balik kesepian.

Senja tetaplah diujung barat, selama dunia belum kiamat
Dan hujan masih menyisakan gerimis, 
Jingga berusaha menerobos awan kelabu, meski tak mampu
Menyisakan sinarnya diujung 
Senja dan gerimis mencoba tuk bersatu

Adakah luka akan memudar
Seperti senja yang semakin larut dalam gerimis, dan berakhir pada gelap malam
2 Desember 2015


Selepas turun hujan 

Buram, kaca berselimut tetes hujan
Dimana-mana ada air dalam kubangan
Bak dosa manusia,

Hujan lebat telah lewat
Meninggalkan tanah basah, menyisakan pesta halilintar, menghapus debu dan menyejukan para daun
Orang-orang lalu lalang, payung bagai lolipop pelangi
Dan mantel berkibar, diiringi bising motor
Sementara tukang becak masih setia dengan mantel plastik dan tudung bambu

Aku???
Hanya menikmati semua..
19 November 2015


 
Masih hujan

Diluar hujan deras
Ingin menari dibawahnya
Langit mendung
Matahari pulang dengan lekas

Langit penuh kelabu
Hujan tak juga menghilangkan warna abu-abu

Tanah basah
Perlahan menyerap karunia alam
Dedaunan bersih
Debu kotor telah terjatuh

Mungkinkah dosa manusia akan luruh
Layaknya hujan membersihkan sebuah pohon
17 November 2015






Hujan kembali

Hujan kembali mengalun
Berirama dengan jiwa yang dingin
Berhembuskan angin malam
Menembus celah sunyi kelam

Hujan kembali datang
Seribu cerita akan terbawa
Hujan kembali pulang
Menimpa bumi yang resah

Hujan kala malam
Bulan pun mengalah
Apalagi bintang kian pasrah

Hujan telah kembali
8 November 2015

Sabtu, 07 November 2015

Aku, Hujan dan Kemarau

 
Kemarau telah melangkah diujung jalan
Dia masih berdiri sambil menatap jejaknya, meski telah tersapu hujan
Debu yang mengiringinya telah menguap, matahari yang menjadi kawannya kian terhalang awan gelap, dan tukang es yang setia menunggunya mengemasi dagangan

Manusia-manusia kini tak lagi mengeluh tentang panasnya udara
Tak lagi menyalahkan matahari yang menyengat dan debu yang menyakitkan mata
Manusia-manusia kini sedikit mengoceh, tentang atap yang bocor, tiupan angin yang kencang, dan pesta petir yang tergelar dilangit
Kini salahkan hujan yang datang dengan derasnya dan hawa dingin yang menggigit
Dan hati manusia memanglah penuh teka-teki

 
Bunga-bunga kian berseri, demikian pula rumput, terlihat menyegarkan, seperti mendapat rohnya kembali
Tanah menjadi basah, kini ia siap menyesap setiap air hujan yang menimpa, menjadikannya coklat lagi
Air gunung tetaplah segar, meski kemarau menyusutkannya tapi hujan telah menambahkan jutaan titik-titik penuh arti
Dan asap, kembalilah pada pekat awan dan meleburkan diri menjadi hujan ini

Aku tak membenci hujan, karena hujan tak kan pernah membuatku patah hati
Aku mencintai kemarau, karena kemarau memberiku belahan makna
Hujan dan kemarau tak pernah bertengkar, karena aku hanyalah menerima
Aku, hujan, dan kemarau hanyalah bagian kecil dari sebuah dunia
  

Terima kasih sudah berkunjung dan menyempatkan membaca sedikit isi hati ini.
Selamat menikmati datangnya hujan dan selamat jalan kemarau,,

Senin, 10 Agustus 2015

Perang yang Tak Terlihat

Sungguh peperangan ini teramat melelahkan
Kulihat darah tercecer ditanah
Dan matahari dan bulan silih berganti, menjadi penonton yang setia

Ditengah arena, tengah bergulat sama imbangnya
Antara si A dan si B, antara taktik ini dan taktik itu
Pedang melwan tombak, umpatan dibalas makian
Keringat telah membaur dengan udara, serta darah mulai meresap dalam tanah, hanya tertinggal seberkas kenangan

Akulah siA dan siB adalah egoku
Cambukku melukai bayanganku sendiri, darah yang keluar dari bayang itu juga keluar dari tubuhku
Makian itu terlontar dari mulutku, merasuk dalam pikiran bayanganku dan terngiang kembali dalam tubuhku
Aku lelah melawannya, sama seperti dia yang memancarkan sirat mata yang menyedihkan
Tapi kami takkan bisa menyelesaikan peperangan ini, sebelum ajal menyeret salah satu dari kami

Entah aku atau bayangku, logika atau perasaan, impian atau kenyataan, dan segala yang kemudian berbaur dengan angin kemarau
 
Purbalingga, 1082015

Jumat, 08 Mei 2015

Minggatnya Si Layang-Layang


"Biarlah aku berakhir didalam parit. Perlahan akan hancur tubuhku oleh air kotor. Semakin jauh mereka bergerak, semakin aku sekarat"

Sungguh, hidup terasa ringan
Hanya dikendalikan tali yang panjang
Sang angin kan meliukkan raga ini
Ditambah pemandangan bumi yang berwarna-warni,

Aku senang melihat tuanku tertawa
Terkadang ia membanggakanku didepan kawannya
Atau bernyanyi, memanggil angin agar datang
Dan aku pun hanya bisa memandang,

Sepertinya aku terlalu menikmati kebebasan ini
Rasa ingin menjadi tuan sering kali muncul dalam hati
Tatkala angin bertiup bertambah kencang
Aku pun semakin ingin berlari, menuju awan dan tinggi melayang,

Aku mulai jengah
Semakin aku mendekati awan
Semakin aku melihat tuanku menjadi seekor semut
Dan aku ingin memegang kendali,

Hei, aku juga ingin bebas
Seperti dirimu yang selalu mendamba kemerdekaan
Terlepas dari tali yang rentan
Keluar dari segala aturan yang kasat mata,
Bukankah aku juga punya hak akan diriku
Akan tubuh ringan ini dan segala warna yang melekat didiriku
Tali itu hanyalah alat bantu, dan kini kurasa aku tak butuh lagi
Demikian pikirku, hanya dalam hati,

Ingin kulihat bumi lebih luas
Awan seakan mengajakku, bersamanya mengelilingi dunia
Mengantar sang matahari keufuk barat
Atau sekedar mengunjungi gunung yang berdiri megah,

Dan aku pun sadar
Sesadar-sadarnya seorang manusia yang katanya sadar
Bahwa aku akan terjatuh, perlahan terperosok dalam kubangan air
Aku hanya akan terbang bila dibantu angin, bila ia pergi maka aku mati
 
Dan lihatlah kini, aku masihlah layang-layang bertali panjang
Mempunyai tuan, meski hanya seorang anak kecil 
Kan kupikirkan bagaimana caraku kelak minggat 
Karena sekarang tuanku mulai menggulung sang benang..

menjelang senja dikota tercinta, sekelompok anak tengah memainkan layang-layang

Minggu, 29 Maret 2015

Pasukan Awan


Aku tengah menanti selesainya matahari,
Berakhir diufuk barat seperti biasanya,
Saat mega kembali terpancar dalam tubuh ini,
Dan bagi beberapa orang itu mempesona

Aku telah lelah, seharian memayungi dunia,
Menghalang panasnya matahari yang membara,
Untunglah hari ini aku tak menjadi mendung kelabu,
Turunkan hujan pembawa tawa dan pilu

Aku sedang merindu, rindu pada sang rembulan,
Meski hanya bayang matahari, tapi ia tak kalah menawan,
Kan semakin sempurna, bila bintang pun ikut datang,
Menjadikan malam semakin riang

Aku tak lelah, menggantung diatas bumi,
Aku tak bosan, melihat dunia yang warna warni,
Inilah tugasku, Inilah tempatku, Inilah hidupku,
Dan untuk inilah aku diciptakan Sang Maha Esa

Rabu, 04 Maret 2015

Akhir dan Awal


Kumpulan puisi saat kita menyaksikan sebuah perpisahan abadi. Kematian memang bukanlah mainan, tetapi menjadi pelajaran bagi setiap insan yang bernyawa. Karena semua pasti akan berpulang pada Sang Kuasa..

Saat Beliau Pergi

Riuh tangis mengiringi
Deras air mata membanjiri
Sesak terasa dalam dada
Rasa bergemuruh dalam jiwa

Beliau telah pergi
Dijemput Sang Malaikat Maut
Beliau telah tiada
Dihadapkan pada keabadian

Hanya tinggalkan memori bersama
Hanya tinggalkan kenangan indah
Kita hanyalah bisa berdoa
Kita hanyalah bisa berduka

Suara adzan terdengar
Mengingatkan pada kefanaan dunia
Senja telah digelar
Mengingatkan pada Kuasa Sang Rabb Illahi
15 Oktober 2014
kematian pertama ditempat kerja


Kematian yang Fana

Apakah aku mati?
Tubuhku dapat bergerak
Bisa berjalan dan makan seperi orang
Nadi jantung masih berdetak
Dapat bernafas dan berak seperti orang

Tapi, suatu waktu
Sudah kulupa tanggal dan nama hari
Hanya kuingat sinar mentari
Mulai terhalang rintik hujan dini hari

Terbangun dari mimpi buruk
Dalam belenggu dunia tidur
Sesaat jiwa belum terkumpul
Dan pandangan menjadi jauh

Pertama kusadari rasaku telah hilang
Tak kurasakan indahnya pagi hari
Saat hari mulai berganti
Makin kuyakini aku tak bisa merasakan

Tak ada tawa bila ada canda
Tak ada tangis bila ada sedih
Tak patah hati saat kekasih pergi
Tak ada malu saat ada salah
6 Desember 2014
entah dimalam yang sepi

Tak ada Jalan Kembali
Senja baru pergi
Menjejakkan gelap dibumi
Semilir angin perlahan
Menggiring malam dengan pelan

Isak tangis menyeruak
Sesal datang menghampiri
Suara teriak hingga serak
Memanggil segala memori

Ia telah pergi
Memulai jalan tanpa nama
Ia telah tak ada
Memulai jalan yang abadi

Tak terlihat lagi senyumnya
Sekarang hanya tubuhnya yang kaku
Tak terpancar tajam pandang matanya
Menyisakan raga yang mulai beku

Waktunya telah berakhir
Ruangnya berhenti berputar
Tak ada jalan kembali
Gerbang kematian telah dibuka

Senja kian menjadi
Malam kian larut sepi
Sang Rabb Pemilik Masa dan Ruanglah tempat kembali
Sang Rabb Pemilik Manusia dan Alamlah yang abadi

17 Januari 2015
kematian kedua ditempat kerja

Saksi yang Tak Abadi

Hari itu aku menjadi saksi
Meninggalkan seorang nenek tua
Penyakit umur membuatnya lupa
Pada anak cucu dan duniawi

Saat napas yang terakhir
Jiwa nenek tua telah berangkat
Saat air mata kami mengalir
Senyum nenek tua seolah terangkat

Telah dinantinya dari seminggu yang lalu
Malaikat maut adalah tamu yang ditunggu
Tuk melepaskan sgala kesakitan
Membawanya dalam keabadian

Juga pada waktu itu
Kusadari akan sesuatu
Kematian adalah akhir masa duniawi
Namun kematian juga awal yang abadi

Tuhan, tempat kami bermula
DiciptakanNya kami dengan tujuan mulia
Tuhan, tempat kami berpulang jua
Dengan segala amal dan dosa 

7 Februari 2015
disaat hari orang berisitirahat sejenak


Minggu, 08 Februari 2015

GGS (Gampang Gampang Susah)

2014 sudah berlalu, Januari pun baru saja beranjak. Namun yang namanya konsisten belum bisa berjalan satu rel dengan waktu. Bila dibanding tahun 2013, tahun 2014 tulisan yang ada jauh lebih sedikit. Segala faktor bisa menjadi penyebab yang kasat mata. Malas, gak ada ide, jaringan yang putus-nyambung menjadi hal yang paling dominan. Waktu berjalan semakin cepat, namun konsisten menulis seperti siput berjalan lambat.
Sebenarnya gudang masalahnya adalah MALAS. Sungguh sulit tuk menghilangkan sifat buruk ini. Suatu kemalasan menyebabkan kita melakukan hal yang kurang bermanfaat. Rasa malas juga menjadikan kita berada dizona nyaman yang sulit ditinggalkan.
Tulisan dibawah semoga bisa menjadi kunci untuk menjaga sebuah KONSISTEN terutama dalam menulis. Kalau ada saran lain, juga boleh ditambahkan..
 
http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2012/06/17/cara-jitu-agar-tetap-konsisten-menulis-ala-gelas-kosong-465165.html

MENDOAN



 
“Mendoan maning, mendoan maning. Mamake apa ra bosen. Apa iya aku arep urip selawase karo mendoan?”
Aku masih teringat kapan kalimat itu kuucap. Bahkan bila kau tanyakan tanggal dan jam berapa aku pasti akan menjawabnya.
Saat itu, tepat seminggu setelah hari kelulusan SMAku. Saat kemarau mulai merajai wilayah Purbalingga. Dibulan Juli, dimana bulan itu juga bulan kelahiranku. Sama seperti matahari yang sedang bersemangat diatas langit, hatiku pun bersemangat karena aku berhasil masuk dalam Universitas incaranku.
“Mumpung esih nang kene, ngko nek wis nang kana langka sing dodol mendoan kaya kiye” sanggah emakku yang mulai tua
Bukannya aku tak bersyukur pada apa yang ada. Sebagai anak dari keluarga kurang beruntung aku selalu diajari untuk selalu bersyukur. Kata emakku masih banyak anak diluar sana yang jauh lebih kasihan dariku. Lihatlah korban tsunami, korban perang yang sudah tak punya rumah bahkan ayah dan ibu.
“Lan, ngesuk ko mangkat, ngati-ngati nang dalan, nang kana kudu priatin, aja gawe susah Lik Tarno, sholat aja kelalen”
Buyar gambaran mendoan dan nasi dipiring. Tempe berselimut tepung itu tertutup oleh air mataku. Aku semakin menduduk saat emak mengucapkan nasihatnya. Aku tak berani mengangkat muka, bersuara pun tidak. Aku menahan tangis dalam diam dan tundukan kepala.
***
Aku benci melihat mendoan. Sebagai anak penjual mendoan dan nasi rames aku harus melihatnya setiap hari. Mau tak mau aku pun harus bergulat dengan tempe, tepung, daun bawang dan bumbu lainnya. Saat  lulus SD aku sudah hapal diluar kepala berapa takaran yang pas untuk membuat mendoan. Saat  lulus SMP aku memasukan mendoan dalam daftar makanan yang tak kusuka. Saat lulus SMA aku makin berharap tak pernah lagi melihat mendoan.
Ada sebuah kalimat matematika yang dulu kupelajari di SMP. Awalnya dari dua kalimat. Pertama : aku membenci mendoan. Kedua : aku belajar dengan giat agar bisa kuliah. Kenapa seperti itu? Aku selalu berharap nantinya seorang sarjana akan mendapat pekerjaan yang baik. Tidak seperti emakku yang hanya lulusan SD dan mendapat pekerjaan sebagai penjual mendoan dan nasi rames. ‘Aku membenci mendoan maka aku belajar dengan giat agar bisa kuliah’ itulah kalimat favoritku.
“Mak, nang ngapa dodol mendoan, kan mbiyen bisa mlebu PT rambut kaya bu Irah” pernah kutanyakan disuatu pagi
“Lha aku ra senang nang PT, diomehi terus nang mistere. Dela dela salah, kaya kiye salah, digawe kaya kae esih diumpa-umpa” jawabnya sambil memasukkan irisan daun bawang dalam adonan mendoan.
“Mulane ko kudu sinau sing bener, aja mung hapean, apa maning pacaran. Lagi mangsane sinau ya sinau, sekolah sing duwur ben bisa olih gawean sing kepenak.”
Suara tempe berbalut adonan masuk dalam minyak yang panas kini membaur dalam ruangan tempat berjualan. Sebuah nasihat yang biasa kudengar terlontar bersama kegiatan yang biasa kujalani. Dalam hati pun semakin menguat, aku tidak mau hidup bersama mendoan-mendoan ini.
***
Karena itu aku memilih Jogja, kota dimana tak kutemui mendoan lagi. Meski ada gorengan tempe dikota ini. Namun makanan ini sangat berbeda dengan mendoan yang dijual emakku. Disini panganan itu digoreng lebih lama dan menyebabkan rasanya lebih garing.
Bila diselidiki dari arti katanya, mendoan itu berasal dari kata mendo yang berarti setengah matang. Memang sengaja digoreng setengah matang dimana tempe berbalut adonan itu belum memasuki tahap kering, crispy atau garing.
Tempe lentreng yang tipis dicelupkan dalam adonan tepung terigu, tepung beras, daun bawang dan bumbu halus (terdiri dari bawang putih, ketumbar, garam) serta air agar semua tercampur rata. Tempe akan digoreng saat minyak yang banyak dalam wajan benar-benar sudah panas. Biasanya tempe diletakkan dipinggir wajan persis diatas minyak, bukan langsung dimasukan kedalam minyak. Dengan perlahan tempe mulai dimasukkan dalam genangan minyak dan digoreng hingga setengah matang.
Hingga aku hampir lulus dari kuliah informatika ini aku belum pernah mendapatkan sebuah warung yang menjual mendoan di Jogja. Yang sering kutemui hanyalah gorengan tempe yang mirip dengan mendoan.
Aku menyadari karena lama tidak bertemu terkadang aku ingin memakan sepotong mendoan. Dan kian hari, rasa kebencianku mulai terkikis dan kini tergantikan rasa rindu. Mungkinkah rasa benci berubah menjadi rasa cinta? Tanyakan itu pada para pujangga saja.
***
Terlambat.
Kereta yang seharusnya sudah membawaku pulang ke Purbalingga terlambat dua jam. Penyebabnya adanya kecelakaan mobil yang nekad melintas direl kereta dan akhirnya tersambar kereta yang lewat.
Terlambat.
Waktu dua jam yang tersia-sia menyebabkan aku terlambat pulang. Sungguh keterlambatan yang tak pernah kuinginkan.
***
“Lan, posisi lagi nang ngendi. Jere arep bali siki?” pertanyaan dari Mas Rio langsung terdengar begitu hpku kunyalakan.
“Iya mas, ini masih dijalan, setengah jam lagi nyampe stasiun. Tumben telpon, mau dijemput ya?” jawabku sambil tersenyum senang.
“Oke tak jemput distasiun.” Klik. Telepon disebrang sana ditutup. Tanpa penjelasan lebih lanjut. Tanpa firasat apapun. Hanya ada kerinduan terhadap mendoan emak yang dulu kubenci.
Aku memang tak begitu merindukan emak. Karena seminggu yang lalu, beliau telah datang ke Jogja untuk menghadiri wisudaku. Aku tak bisa pulang bersama emak, karena harus mengurus ini itu dulu. Nah baru hari ini aku pulang setelah 4 tahun menempuh kuliah di kota Budaya tersebut.
Dalam acara wisuda Emak makin terlihat berumur. Garis-garis tipis semakin jelas terlihat diwajahnya, belum lagi rambutnya yang beruban. Badannya mulai menyusut, terlihat semakin kurus saja emakku itu. Meski ia masih bertenaga sama seperti dulu. Sungguh waktu 4 tahun telah menjauhkanku dari proses kehidupan emak.
***
Kartini. 54tahun. Kaligondang, RT08/II. Serangan Jantung.
Kata-kata itulah kini masih saja kubaca. Formulir resmi dari rumah sakit masih tergenggam erat ditanganku yang mulai gemetar. Seakan ada gempa hebat dalam duniaku, kurasakan goncangan yang luar biasa. Seakan langit runtuh, kurasakan duniaku mulai porak poranda. Tak kutemukan lagi alasan untuk tak mengeluarkan air mata. Semakin lama semakin deras tak terkendali.
Entah butuh berapa menit aku bisa merasakan sekelilingku. Perlahan kurasakan Mas Rio mengelus rambutku. Perlahan pula kutemukan diriku yang kini masih dalam mobil Mas Rio. Entah apa yang dikatakannya, aku tak mampu mendengarnya dengan jelas. Yang jelas ia menjemputku di stasiun dan memberikan kejutan yang tak pernah kubayangkan.
Serangan jantung. Dari pernyataan Mas Rio yang kebetulan perawat, dapat disimpulkan bahwa emak sudah menderita sakit jantung. Namun dia tak menyadari dan menganggapnya sekedar masuk angin biasa. Hanya itu yang bisa kuterima. Sementara Mas Rio menjelaskan apa itu angin duduk dan tetek bengeknya aku sibuk menjelaskan pada hatiku kejadian macam apa ini.
“Emak sangat bangga padamu Lan. Kemarin saat aku bertemu dengan emakmu dia terlihat sangat senang. Sebentar lagi anak semata wayangnya yang sudah lulus kuliah akan pulang” cerita Mas Rio “Ia juga berkata kalau kau sudah merindukan mendoan buatannya” Kulihat Mas Rio mencoba untuk tersenyum, namun yang ada hanya sebuah lengkungan bibir yang dipaksakan.
‘Lupakan soal mendoan mas, emakku lebih kurindukan saat ini’ teriak hatiku. Namun sayang teriakan itu hanya menggema dalam pikiranku.
***
“Sengaja dilewihi ngo ko Lan” kata Ni Kani menyorongkan sepiring mendoan.
Pemakaman sudah selesai dua jam lalu. Para pelayat perlahan berkurang. Kalau pun ada hanya sanak saudara atau teman dekat emak. Mungkin juga karena gerimis, menjadikan para tetangga yang jauh menunda takziahnya. Gerimis hari ini, tepat diawal bulan Oktober sepertinya menyiratkan suasana hari ini.
Ni Kani, nenek berumur 80 tahun yang masih setia membantu Emak. Rumahnya persis didepan rumahku, selain itu dia juga tinggal sebatang kara. Ni Kani menceritakan kejadiannya secara lengkap. Dari mulai pagi tadi, saat emakku seperti biasanya menggoreng dan melayani para pembeli. Hingga celoteh emakku tentang aku, Wulan anak semata wayangnya akan pulang hari ini. Hingga kemudian ia merasakan sakit didadanya.
“Kabeh wis ana sing ngatur Lan. Pati urip rahasiane Gusti Allah. Manungsa mung bisa nglakoni apa sing wis digarisna” suara Ni Kani terdengar lirih namun teramat menggetarkan hatiku.
Tak kudengar lagi kelanjutan ucapan Ni Kani. Meski aku hanya sedang menatap sepiring mendoan itu. Namun telinga dan pikiranku tak berada disamping Ni Kani. Aku terlalu sibuk dengan kenangan yang semakin bermunculan. Kenangan tentang aku, emak dan mendoan. Dan air mata yang mulai mengaburkan sepiring mendoan itu.
Kulihat ada 5 mendoan yang tertumpuk dalam piring didepanku. Tempe lentreng berbalut tepung dan daun bawang. Lengkap dengan cabai rawit yang hijau sebagai pendampingnya. Mendoan khas emakku yang selama ini kurindukan.
“Mendoan maning, mendoan maning” terdengar olehku suaraku sendiri. Sementara masih kulihat diatas piring, mendoan-mendoan itu perlahan bangkit, melambai-lambai padaku seakan memanggil. Mendoan yang dulu kubenci namun kini kurindukan. Mendoan yang telah menghidupiku hingga bisa kuliah. Mendoan itu semakin mengejekku yang semakin tenggelam dalam isak tangis.

**TAMAT**

Cerpen ini juga dikirimkan untuk mendaftar Kelas Menulis Purbalingga Angkatan V.  Yang gak paham bahasa ngapak Purbalingga silahkan ditanyakan pada Mbah Google..


Minggu, 14 Desember 2014

Dalam Mangkok Bakso


Bakso ...
Siapa yang tak mengenalnya
Dari ujung barat hingga timur
Dari Malang hingga Jerman
Meski dalam nama, bentuk, dan rasa yang lain

Sebagai dasar, terisi sepotong mie yang panjang
Orang Cina berkata, mie adalah harapan untuk berumur panjang
Kemudian beradu dengan hijaunya daun cesim
Perlu ditambah irisan kecil daun seledri atau ketimun
Jangan lupakan garam, bila perlu penyedap makanan
Bawang goreng pun menjadi pelengkap yang khas
Dan sang inti adalah beberapa bulatan daging giling dan bumbu rahasia
Saat itulah kuah kaldu kan disiramkan

Yang ditunggu telah datang
Seporsi bakso, lengkap dengan kecap, saos dan sambal
Ada pula kerupuk, kacang, tahu hingga ketupat
Tak ketinggalan segelas es teh, es jeruk pun tak masalah

Terserah pada anda segala takaran itu
Berapa banyak sambalnya
Berapa sedikit kecapnya
Bahkan bisa tanpa mereka semua

Sejatinya peracik bakso adalah penjualnya
Tapi soal rasa, tetap kita penguasanya
Tak peduli pada hari yang panas, atau hujan yang lebat
Seporsi bakso tetaplah menjadi teman yang setia...

Selamat makan siang (walau sudah terlambat..)

Rabu, 10 Desember 2014

Senja


Putaran hari belumlah diujung
Ketika matahari kian condong dalam langit barat
Saat para pekerja telah lelah dengan kebosanan yang berat
Dan burung pun ikut pulang ke pohon yang rindang

Untunglah hujan tak lagi mengguyur
Seperti hari kemarin, dimana hujan membasahi aspal
Dan mereka sibuk dengan mantel dan payung
Sementara kini, sore yang cerah, angin berhembus pelan
 
Senja belumlah dimulai sepenuhnya
Mungkin masih dua jam lagi ketika jingga merajai langit barat
Sementara dibagian timur hanya tersisa langit biru dengan awan putih
Kemudian berpadu dengan alunan doa suci
 
Senja kali ini tak seindah lukisan
Bukan pula seperti dalam foto seorang penjelajah
Senja ini hanyalah senja biasa,
Seperti hari yang berlalu dengan biasa saja

Selasa, 09 Desember 2014

Hujan


Waktu telah menunjuk pada angka 4
Dan hari telah beranjak pada sore
Saat matahari harusnya bersinar dari barat
Dan para manusia berpulang dari pekerjaannya

Kucium aroma tanah satu jam yang lalu
Saat rintik hujan pertama menyentuhnya
Debu dan pasir segera menguap
Menghilang bersama datangnya hujan

Lalu lalang jalanan masih terasa sama
Seperti hujan ini yang masih turun
Kulihat mahluk besi berebut tempat diatas aspal
Beradu cepat dan menghindar dari kubangan air

Seekor cicak mendekati lampu, berharap ada sedikit kehangatan
Sementara diluar, daun pohon bergoyang tertiup angin, dingin

Hujan seakan berhenti, rintik tak lagi turun
Tergantikan angin yang makin meniupkan dedaunan
Sementara penjual es buah sibuk menutup lapaknya
Begitu pula hujan, akankah dia sibuk mengakhiri perjalanannya?
Hanya hujanlah yang dapat menjawabnya..