Kamis, 31 Desember 2015

Tahun Baru (Lagi)

 
Dan tahun baru kembali terulang, 
Bagaikan matahari yang fajar dan senjanya teramat cepat

Sebenarnya saya bukan termasuk orang yang menghitung hari, semua hari dijalani seperti itu adanya, dinikmati saja tanpa harus mengejar impian secara berlebihan. Memang terkadang ada pikiran untuk mengejar impian itu dengan cepat namun sering kali semangat itu kembali meredup dan kembali menjalani hari secara biasa lagi. 

Dan sepertinya di tahun 2016 ini saya harus merubah itu semua. Impian itu harus dikejar, apapun keadaannya, bukan sekedar angan-angan tetapi harus diwujudkan. Benturan dengan kenyataan memanglah pahit tuk dijalani, apalagi bila lingkungan sekitar pun tidak mendukung. Tapi bukankah hidup saya adalah milik saya, bukan milik mereka, dan sayalah yang berhak mengatur laju hidup saya ini.

Minggu, 27 Desember 2015

Purbasari (Wisata River World)

 
Dua pekan diakhir tahun adalah waktu yang pas untuk berlibur. Mulai dari 24-27 (Maulud Nabi, Natal, dan cuti bersama) dan 31-3 (libur tahun baru dan hari kejepit #maksa). Ada beberapa tempat liburan di Purbalingga yang layak direkomendasikan, dan beberapa yang masih sangat perawan belum terjamah oleh tangan pemerintah, ada juga yang harus diperbaiki disana sini biar tidak mengecewakan pengunjung yang datang. Salah satu perjalanan diwaktu lalu adalah gualawa-kebun strawbery (PBG) 
Kabar terakhir yang terdengar kawasan kebun strawbery dalam proses renovasi dan dibangun semacam patung (mungkin sebagai tanda atau ikon dari kawasan wisata tersebut). Kabupaten Purbalingga memang mulai melirik untuk mengembangkan potensi wisata. Semoga makin bagus dan makin banyak pengunjung yang datang ke Purbalingga.

Harapan (Teruntuk) Kota Purbalingga


Tulisan ini terlambat dipublish, meski sudah jadi dari minggu lalu tapi faktor ini-itu menjadi penyebab gagalnya tulisan ini keluar. Daripada dibuang begitu saja dan meski sudah terlambat, semoga masih diberi kesempatan untuk berbagi..

Minggu lalu, tepatnya 18 Desember 2015 kabupaten Purbalingga merayakan hari jadinya, 185 tahun yang lampau dibentuklah kabupaten  yang merupakan tetangga dari Banyumas, Banjarnegara dan Pemalang. Yang ingin tahu lebih lanjut tentang Purbalingga silahkan berkunjung ke (/http://www.purbalinggakab.go.id/) (https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Purbalingga).

Pertama, selamat ulang tahun tempat kelahiranku, diusiamu yang sudah tua ini semoga menjadi tempat yang bisa dibanggakan bagi masyarakatnya, yang nyaman untuk ditinggali, kabupaten yang bersih dan sehat, kabupten yang berkurang jumlah penganggurannya, kabupaten yang ramah bagi pelancong dan penikmat wisata, dan semua yang terbaik untuk kabupaten kecilku ini. 

Sedikit harapan dari seorang penduduk kota tercinta ini. Purbalingga memang sudah teramat berkembang bila dibandingkan dengan 185 silam. Dengan bertambahnya usia, kemajuan teknologi dan meningkatkan kualitas SDM tentu banyak hal yang kian meningkat.

 
Diusianya yang sudah satu abad lebih (lebih 85 tahun) semoga tingkat pelayanan kesehatannya makin dimudahkan dan memuaskan, makin banyak masyarakat Purbalingga yang sehat dan menjalani hidup sehat serta makin lengkap fasilitas kesehatan yang ada hingga kita tak perlu lagi ke RSUD Margono.
Kualitas sekolah juga semoga makin meningkat, makin banyak lulusan yang benar-benar siap kerja, yang bukan hanya menambah angka pengangguran. Semoga ditahun yang akan datang ada pihak yang mendirikan Universitas di Purbalingga, jadi bisa kuliah di kota sendiri.
Ekonomi pun makin membaik, semoga dimudahkan urusan birokrasi dan keuangan bagi mereka yang ingin berwirausaha. Ketersediaan bahan pokok yang cukup hingga tidak mengakibatkan harga barang-barang naik dan berakhir pada masyarakat yang resah

Semoga mereka yang duduk diatas kursi 'yang terhormat' pun bisa bekerja sesuai dengan apa yang diharapkan. Tidak hanya rapat-rapat tak jelas yang menghasilkan peraturan yang tak jelas juga manfaatnya untuk masyarakat Purbalingga. Semoga mereka yang salah bisa diperlakukan dengan semestinya, bukan malah diberi kesempatan untuk mengelak dan berkata kalau mereka benar. Salah = salah dan benar = benar, apapun itu, siapapun mereka.


 
Semoga kota Purbalingga merupakan kota yang ramah dan nyaman, bukan hanya untuk masyarakat tapi juga untuk alam sekitar. Berharap alam Purbalingga diperlakukan dengan baik, jangan ada eksploitasi yang berlebihan, baik itu disungai, hutan maupun gunungnya. Semoga wisata Purblingga pun dilirik oleh pemerintah dan mulai dibenahi sepenuh hati.

  
Tempat-tempat umum dapat dimanfaatkan dengan benar dan dijaga.  Digunakan untuk hal-hal yang semestinya, bukan untuk hal yang berada disisi negatif. Dan harapan besar bila di Purbalingga dibangun sebuah bioskop.

Dan harapan-harapan lain tentang kota ini. 
Semoga masyarakat dan pemerintah Purbalingga bisa bekerja sama untuk saling mengisi dan saling membangun kota ini. Terima kasih kota Purbalingga, telah menyediakan ruang bagi kehidupankui, telah memberikan kesempatan untuk bertempat tinggal dan  memberikan pengalaman yang tak akan pernah terlupakan.
 
Terimakasih sudah berkunjung
Salam hangat dari kota Purbalingga. 

Jumat, 25 Desember 2015

Cerita di Hari yang Libur (Nasional)

  
pencarian
Hari itu 
Saat mentari dengan malas keluar, awan pun menjadi kelabu
Meski malam tak lagi berjejak, dan ini bukanlah di ibukota yang penuh sesak
  
Sama seperti malam yang pergi, demikian dengan bunga
Bila kemarin telah mekar, tapi tidak pagi ini, dia kan layu, jatuh dalam peluk tanah
Berganti dengan yang lain, yang masih membara semangatnya
Untuk hari ini..

Jumat, 18 Desember 2015

Jawa (Pudar)

 
Berawal dari petikan pengajian di Masjid yang mengatakan, 'orang Jawa telah hilang Jawanya'. Kalimat ini tersimpan dalam memori untuk beberapa saat, selalu muncul saat sepi itu ada, saat sendiri kembali berada (bingung saya dengan ungkapan barusan.

Kembali ke 'orang Jawa telah hilang Jawanya', sepertinya kalimat ini benar adanya. Apalagi untuk keadaan sekarang, orang-orang yang hidup di era modern, berbaur dengan orang dari ribuan suku di dunia, dengan bahasa, kebiasaan, adat, dan pemikiran yang tentunya berbeda-beda juga.

Orang Jawa itu bukan hanya orang-orang yang mendiami pulau Jawa tetapi juga orang yang tinggal diluar pulau Jawa tetapi mereka berasal dari pulau Jawa. Di pulau Jawa sendiri terdiri dari 3 golongan besar suku, yaitu Sunda (Jawa Barat), Jawa (Jawa Tengah), Tengger, Osing (Jawa Timur), dan puluhan sub suku yang merupakan pecahan dari suku besar tersebut. Orang Jawa yang pergi ke suatu tempat diluar Pulau Jawa dan kemudian mempunyai keturunan pun masih disebut dengan Orang Jawa.

Sebagai orang Jawa (bertempat tinggal di Jawa Tengah dan mempunyai leluhur orang Jawa murni) saya sendiri mengakui telah mengurangi rasa ke-Jawa-an. Apa itu ke-Jawa-an? Apa tolak ukurnya? Siapa yang menilai? Entahlah?

Sabtu, 12 Desember 2015

Gerimis Disuatu Senja



Gerimis di suatu senja

Diluar gerimis belum reda
Sama seperti luka ini yang belum juga reda
Saat rintih hujan perlahan menetes
Ketika itu pula secuil kenangan kembali meretas
Dari balik kesepian.

Senja tetaplah diujung barat, selama dunia belum kiamat
Dan hujan masih menyisakan gerimis, 
Jingga berusaha menerobos awan kelabu, meski tak mampu
Menyisakan sinarnya diujung 
Senja dan gerimis mencoba tuk bersatu

Adakah luka akan memudar
Seperti senja yang semakin larut dalam gerimis, dan berakhir pada gelap malam
2 Desember 2015


Selepas turun hujan 

Buram, kaca berselimut tetes hujan
Dimana-mana ada air dalam kubangan
Bak dosa manusia,

Hujan lebat telah lewat
Meninggalkan tanah basah, menyisakan pesta halilintar, menghapus debu dan menyejukan para daun
Orang-orang lalu lalang, payung bagai lolipop pelangi
Dan mantel berkibar, diiringi bising motor
Sementara tukang becak masih setia dengan mantel plastik dan tudung bambu

Aku???
Hanya menikmati semua..
19 November 2015


 
Masih hujan

Diluar hujan deras
Ingin menari dibawahnya
Langit mendung
Matahari pulang dengan lekas

Langit penuh kelabu
Hujan tak juga menghilangkan warna abu-abu

Tanah basah
Perlahan menyerap karunia alam
Dedaunan bersih
Debu kotor telah terjatuh

Mungkinkah dosa manusia akan luruh
Layaknya hujan membersihkan sebuah pohon
17 November 2015






Hujan kembali

Hujan kembali mengalun
Berirama dengan jiwa yang dingin
Berhembuskan angin malam
Menembus celah sunyi kelam

Hujan kembali datang
Seribu cerita akan terbawa
Hujan kembali pulang
Menimpa bumi yang resah

Hujan kala malam
Bulan pun mengalah
Apalagi bintang kian pasrah

Hujan telah kembali
8 November 2015

Selasa, 01 Desember 2015

Aku, Cerita dan Seseorang

Jarang nulis tentang keluarga dan kehidupan pribadi, karena itu bukanlah hal yang tertalu menarik. Tapi belakangan rasanya ingin menulis tentang seorang yang teramat berarti dalam hidup. Tapi tak tahu harus dimulai darimana, entah dimana awal dan akhirnya.


Dari beliau mengalir cerita-cerita jaman dahulu. Mulai garis keturunan yang sampai sekarang saya gak hafal, beragam makanan yang gak akan pernah saya makan, kisah hidup masa lalu yang sangat berat tapi kadang dirindukannya lagi sampai tempat-tempat yang dulu ada tapi sekarang gak ada lagi.

Siapa dia??? Jawabannya nanti saja diakhir tulisan ini.
Otak ini langsung berjalan lambat kalau beliau sudah bicara mengenai silsilah keluarga. Kalau sebatas kakek-nenek saya masih bisa paham, tapi kalau sudah diatasnya saya menyerah. Begini kata beliau, ayahnya nenek saya menikah dengan si A lahirlah nenek saya dan saudaranya. Karena pekerjaannya seorang tukang slender (bahasa jawa untuk tukang aspal jalan) yang suka kemana-mana jadi punya istri dimana-mana. Nah disinilah letak rumitnya menghafal pohon keluarga tersebut, si istri B punya beberapa anak, istri C juga sama punya beberapa anak ditambah anak dari suami sebelumnya. Belum lagi si ayah nenek saya ini juga punya kakak dan adik, dan seterusnya. Nah, bingungkan ngapalin tingkatan sebutan yang benar.
 
Soal sebutan juga rumit (dalam tradisi kami sebutan untuk keluarga besar dinamakan juga "pernah"). Sebutan sebetulnya tidak memandang umur, pangkat, kekayaan atau pekerjaan, tapi dijaman sekarang dimana segala sesuatu diukur dari materi, panggilan pun berubah. Contoh, saya harus memanggil kakak dari ibu dengan sebutan pakde, dan bagi istrinya budhe. Tapi ada satu kasus, saya memanggil anak dari budhe saya dengan sebutan ibu (seharusnya kak atau mba) karena dia seorang guru, punya suami seorang lurah dan umur yang lebih tua. Meski sudah mulai termakan jaman, tapi masih ada segelintir orang yang menghargai "pernah" ini, dan tak memandang umur, pangkat, jabatan, dan harta ia masih menghargai orang yang lebih tua dalam susunan keluarga besarnya.

Perbedaan jaman membuatnya terkadang bingung dengan kecanggihan era sekarang. Seperti soal toko online, beliau bilang enak banget gak perlu kemana-mana barang udah nyampe dirumah. Padahal dulu katanya, dia harus jalan kaki hingga ke desa tetangga untuk beli kebutuhan rumah tangga seperti minyak tanah, garam, panci, dan lainnya. Sering kali beliau memandingkan fungsi dari benda jaman sekarang dan dahulu. Cerita beliau, dulu belum ada plastik, kalau beli minyak goreng harus pake botol beling yang berat, beli gula pasir juga dibungkus kertas, mau bikin nasi jagung harus rela berjam-jam menumbuknya gak kaya sekarang tinggal ke tempat penggilingan. 
Demikian perbedaan makanan, sekarang banyak pilihan makanan instan yang cepat dibuat. Dari mie, bubur, kopi, roti, nuget, sosis, hingga jus buah. Lah dulu, cuma ada jagung rebus, ketela goreng, sampe tempe bungkil. Kata beliau, dengan adanya makanan yang cepat saji dan beraneka macam ini maka makin banyak penyakit yang aneh-aneh pula. Bener juga sih pemikiran beliau.

Dulu beliau menghabiskan waktu bermainnya di sawah, sambil membantu memanen padi. Nah sekarang, anak-anaknya baru mau pergi ke sawah udah dilarang sama ibunya, yang katanya kotor, ada kumannya, takut tersesat, kalo ujan takut kena petir. Akhirnya sianak main dirumah, main diwarnet, cuma kenal sama dunia maya yang makin menyesatkan. Jaman sekarang pohon-pohon tak lagi ditanam, sekarang manusia menanam rumah dibumi ini. Gak ada lagi pohon jambu yang bisa dipanjat rame-rame, gak ada lagi rimbunan pohon bambu yang terkadang membuat anak-anak ngeri takut ada lampornya.

Dan yang paling dirindukan adalah orang-orang dari jaman beliau. Satu per satu mereka pergi untuk selamanya, tergantikan anak-cucu. Pelan tapi pasti semakin menyusut, teman hidup, orang tua, saudara, kerabat, teman bermain, kenalan berpindah pada dimensi yang abadi. Hanya lewat bunga tidur mereka bertemu, dan kenangan akan mereka kembali menggodanya.

Dari beliau saya ada, saya belajar, bukan tentang A,B atau perkalian saja tapi mengenai kehidupan sejati. Belajar menyikapi berbagai karakter orang, belajar menghargai tumbuhan dan hewan, belajar berlindung dari hujan dan angin, belajar menyelesaikan masalah hidup yang tak kunjung berhenti, dan terus belajar untuk hidup. 

Terkadang saya marah, kecewa, sedih akan sikap beliau yang sering kali tak terpikirkan oleh pemikiran saya, tapi saat melihat bayangnya kembali saya kembali belajar. Entah dengan apa saya membalas ilmu-ilmu yang sudah melekat dalam ingatan dan hidup, hanya berusaha menjadi apa yang terbaik baginya. 
Tulisan ini saya buat untuk mama saya. Beliau gak akan pernah membaca tulisan ini, dan saya pun tak akan pernah mengatakan pada beliau. Biarlah ada sedikit rahasia diantara kami. Maafkan anakmu ini yang sering ngeselin, suka tanya ini itu, terkadang melakukan sesuatu sesuka hati, masih sering berontak, dan segala kelakuan melenceng anakmu ini. Seberapapun keras saya mencoba untuk menjadi anak baik tetapi rasanya masih saja ada celahnya.

Terimakasih ma, for everything 

Dan terimakasih untuk pembaca sekalian yang sudah membaca tulisan lebay ini. Salam dari kota kecil Purbalingga, terkirim salam pula dari hujan yang tiap hari datang..