Selasa, 01 Oktober 2013

Undangan Tanpa Nama #1


"Maak,, ini undangannya siapa?" setengah kuberteriak pada emakku yang ada didalam rumah.
Hanya sepi yang kudengar, tak ada suara balasan dari pertanyaanku. Mungkin emakku terlalu sibuk dengan belanjaannya. Belum sempat kubuka, langsung kumasukkan saja dalam tasku, dan segera berangkat. Hari makin siang, matahari sudah keluar dari tempatnya yang dingin, mulai meninggi menghangatkan dunia ini.
Kupacu motor yang belum lunas ini, sesekali kutambah kecepatan, berbelok menghindar beberapa motor dan mobil. 'undangan ungu' sesaat pikirku berjalan saat berhenti di lampu perempatan. 'kenapa gak ada nama yang ditujunya' pikirku masih berlanjut. 
"Tiiiiiiiiin", suara klakson panjang dari belakang membuyarkan pikiranku. Segera saja kuhilangkan pikiran undangan ungu itu, fokus kembali pada perjalananku.
Hampir sampai tengah hari aku sibuk dengan komputer, print, kertas, bagian gudang, sales, dan telpon yang berbunyi.Dari hari senin hingga sabtu selalu saja seperti ini, kegiatan yang rutin harus dilakukan kecuali aku tak masuk kerja atau tak ada kiriman dari pabrik (tapi itu hal yang mustahil sepertinya)
'jika aku bukan jalanmu ku berhenti mengharapakanmu, jika aku memang tercipta untuk kukan memilikimu ... jodoh pasti bertemu' suara lagu dari komputer mba Intan mengalun pelan. 
Entah mengapa lagu itu tiba - tiba sangat terdengar merdu, penuh penghayatan hatiku mendengarkannya. Padahal lagu ini sering kali diputar diruangaku,mba Intan yang mengaku sebagai afganisme adalah rekan kerjaku dan meja kerjanya tepat didepan meja kerjaku. 
"oiii" seru Afit yang sudah berada didepanku. "nglamun bae" lanjutnya
Aku hanya tersenyum, tak dapat kupungkiri aku memang sedang melamun, aku tak lagi konsen menulis data order barang, memang mataku menatap komputer tapi pandanganku kosong.
"makanya cari pacar gih, " katanya lagi sambil membuka tasnya "nih, orderan dari Toko Jaya kalo bisa dikirim nanti sore" katanya sambil menyerahkan beberapa lembar kertas
"ntar tak tanyai pak Ian dulu, bisa kirim cepat ngak?" jawabku singkat, daripada digoda terus oleh Afit "jalan sana, udah siang kan" lanjutku
"pasti mau ngelamun lagi ya???? bagi bagi dong???" godanya lagi sambil tersenyum lebar
"mba Intan, ntar kalo Lintang ngelamun disiram air ya?" katanya sambil berjalan
"aaaa" teriak Afit tepat dipintu keluar sambil mengelus kepalanya yang baru saja kulempari buku stok barang. ****
"kok ngak dimakan nasi pecelnya, tumben kamu ngak nafsu sama makanan favoritmu?" tanya mba Intan menatapku curiga
Hanya kuaduk nasi pecelku saja, sudah sangat bercampur antara sayur dan bumbunya. Tapi entah mengapa belum kusendoknya, perasaanku tiba - tiba saja tidak ingin memakan apapun. Rasanya aku hanya ingin tidur, bermimpi tuk menghilangkan rasa sesak dalam hatiku
Pikirku masih tertuju pada undangan ungu yang kutemukan tadi, tak sengaja kubuka ketika akan mengambil dompet waktu makan siang. Mataku segera menatap pada dua nama yang tercetak dengan ukuran besar dan berwarna cerah itu. Nama itu, nama kedua orang yang tertulis di undangan itu, rasanya sangatlah menyakitkan mata. Segera memori ingatan dalam pikiranku bermunculan, seperti film yang menampilkan beragam adegan dengan berbagai peran dan nama.
 'aaaahhhh' runtukku dalam hati 'andai saja aku bisa melompati putaran waktu, aku kan memilih tuk tak menjalani hari ini, dan melompat ke hari esok'.

ANJAR PRAYOGA, SH - dr. SYAFIRA WIJAYA




Tidak ada komentar:

Posting Komentar