Senin, 23 September 2013

Merubah Tulisan Orang Lain

Iseng,,, tiba - tiba anak SMA minta diketikkan dan di traslate ke bahasa Inggris (aduuuuuh, tanda - tanda apa ini, anak - anak sekarang malas sekali membuka kamus, malah memilih google yang bahasa inggrisnya acak-acakkan). Kok tulisannya kaya gitu yah, (pikir dalam hati, jaman dulu pas ada tugas seperti itu tugasku ngak seperti itu susunan kalimatnya)
Nah tulisannya seperti dibawah ini, yang menjadi pikiran saya adalah, kehidupannya seperti putaran jam, harus tepat jam sekian mengerjakan tugas ini,


Kadang kadang saya bangun pukul 04.30, lalu saya merapikan tempat tidur. Setelah itu aku mengambil air wudhu dan sholat Subuh. Pukul 05.00 saya menyapu halaman depan rumahku. Lalu saya mandi pukul 05.30. Setelah itu aku mempersiapkan buku – buku yang harus kubawa kesekolah. Aku sarapan pukul 06.15 bersama kakak perempuanku, adik – adikku dan orang tuaku.
Pukul 06.30 aku berangkat sekolah. Aku berangkat sekolah naik bus, perjalanan dari rumah ke sekolah hanya 10 menit. Terkadang aku bertemu sahabat baikku didalam bus.
Jam 07.00 bel berbunyi, aku dan teman – temanku membaca Al Quran bersama dalam waktu 10 menit. Pukul 07.10 kita mulai pelajaran seperti biasa. Istirahat jam pertama, saya dan teman – teman ke masjid untuk sholat dhuha, apabila waktu istirahat masih ada, aku dan teman – temanku pergi kekantin untuk membeli makanan, karena kita lapar setelah pelajaran / belajar.
Istirahat ke dua aku pergi ke masjid untuk sholat dhuhur bersama. Pukul 13.45 saya pulang, sesampai dirumah, saya meletakkan tasku dan mengganti bajuku, setelah itu saya makan sambil menonton televise. Setelah itu aku bekerja menanam bulu mata. PUkul 03.00 aku sholat ashar, lalu melanjutkan pekerjaanku. Setelah pekerjaanku selesai, aku menyapu rumah dan mencuci piring, selanjutnya mandi
Pukul 17.00 aku duduk – duduk bersama kakak perempuanku sambil menunggu adzan magrib. Saat magrib tiba, kami sholat bersama.
Pukul 18.30 aku belajar sampai pukul 21.00 sebelum tidur saya sholat isya. Setelah itu aku mendengarkan music dan sms sampai tertidur
 Nah kalau saya yang bikin tugas pasti bakal seperti ini,
Kehidupan ini sangat menjemukan, setiap hari melakukan hal yang sama. Tidur, berangkat sekolah, belajar, pulang, tidur dan seterusnya. Saya awali dengan bangun tidur sekitar pukul 05.30, dilanjutkan mandi,membantu membuat sarapan,dan memeriksa kembali buku untuk sekolah hari ini. Biasanya 06.15 saya sudah selesai makan pagi dan bersiap untuk pergi sekolah. Dari rumah kesekolah selalu saja menggunakan kendaraan umum, dari  sekolah menengah pertama sampai sekolah menengah atas selalu saja menggunakan mobil public ini. Meski begitu saya menikmatinya, terkadang sambil mengobrol ringan bersama teman, atau membaca ulang bahan untuk ulangan hari ini.
Sekolah dimulai pukul 07.00, guru datang, mengabsen siswa dan mulailah pelajaran. Hal yang membosankan selama 10 tahun belakangan. Pelajaran yang saya sukai adalah matematika ketika awal belajar, serasa otak kita masih lancar tuk menghapal rumus. Pukul 09.15, waktunya istirahat pertama, sering kali siswa menghabiskan waktunya di kelas saja, mereka hanya membahas tentang materi tadi atau materi yang lain. Barulah pada istirahat kedua hampir seluruh siswa meninggalkan kelas, pergi ke kantin, sholat, atau sekedar bergabung dengan teman beda kelas. Pukul 01.30 waktu yang paling ditunggu, waktunya untuk pulang. Namun bagi mereka yang mengikuti kegiatan tambahan atau ada rapat kelas akan tetap tinggal disekolah. Jam pulang setiap siswa terkadang berbeda dengan temannya, hampir seluruh siswa pulang jam 01.30, tapi tak sedikit yang pulang sore.
Dari waktu pulang sampai sore hanya kugunakan untuk makan, tidur, dan membaca buku. Ketika pukul 05.00 barulah saya mandi dan merawat bunga – bunga disamping rumah. Saya mulai membuka buku kembali pukul 19.00, belajar dengan serius dan mengerjakan tugas untuk esok hari. Terkadang hal ini sangat membosankan dan saya menonton televise untuk mengalihkannya. Tepat pukul 21.00, saya berangkat tidur. Jam sekian seluruh keluarga sudah masuk kamar, demikian didikan keluargaku.

  Entahlah mana yang lebih baik, terkadang tulisan orang lain ada yang lebih bagus dari kita, tapi terkadang ada pula tulisan orang lain terasa aneh bagi kita. Semua tergantung dari pemikiran masing - masing orang...
Selamat malam

Jumat, 13 September 2013

"Sudi Mampir", Mie Pangsit Purbalingga

Bagi yang cari makan di Purbalingga, bisa jadi salah satu rekomendasi nih...
"Sudi Mampir" kalo diartiin ke bahasa Indonesia bersedia berkunjung, gak sempet nanya kenapa namanya seperti itu, mungkin pemiliknya berharap orang - orang bersedia untuk datang ke kiosnya menikmati mie ayamnya. Maybe, just my opinion...

Apalagi untuk penggemar mie ayam, salah satu mie ayam ini harus dicoba, Tak seperti mie ayam di Purbalingga lainnya, disini kuah sama mienya dipisah, jadi bisa disesuain sama selera. Soal bumbu, pas deh, ngak terlalu berasa rasa mericanya, dan ngak terlalu minyaknya. Kalo mie ngak gampang putus, lembut, kemudian dikasih taburan ayam dan pangsit goreng. Didalamnya juga ada pangsit isi potongan daging ayam,,
Seporsi mie dihargai 7.500 rupiah, kalo es teh 2 ribu. Dijamin kenyang makan seporsi,,

Kalo bisa jangan datang pas jam makan siang, karena biasanya penuh dengan karyawan pabrik rambut disekitar kios ini. 
Lokasinya di depan Indorisky (bekas sepertinya secara sekarang udah bangkrut dan tutup),

Sebagai tulisanku tentang kuliner dan jelajah Purbalingga, semoga dilain waktu bisa nyari makanan lain khas Purbalingga dan bisa jadi tulisan yang berguna..

Purbalingga (kala) Pagi

Dari judulnya udah ketahuan kalau ini suasana Purbalingga saat pagi. Berawal dari bersepeda ngak jelas arahnya, rutenya seenaknya kaki mengayuh pedal sepeda. Sesekali mencoba untuk mencari sudut lain di kota kecilku ini, ternyata sangatlah indah, sepi suasana jalanan, udara yang belum begitu tercampur polusi motor, juga belum terasa sengatan matahari yang panas.


Dari jembatan klawing kearah Kaligondang, dari sini kelihatan pucuk Slamet yang membisu



Kalo yang ini, pabrik rambut, rajin banget mereka hari minggu masih berangkat kerja
,



Salah satu kenangan masa lalu, dulu sering banget lewat sini karena masuk jalur angkutan umum, tapi sekarang udah ditutup dan hanya dilalui warga sekitar. 



Salah satu sekolah TERFAVORIT dikota Purbalingga, sekarang udah pesat banget pembangunannya, 4 tahun lalu belum seperti ini.


Yang ini lagi kesasar di Keponggok, disamping SD sebelum turunan, dulu sering banget ke lapangan samping SD buat pelajaran olahraga.




Kalau yang ini semua dari sisi Toyareka,, hamparan sawah yang menghijau menyejukan mata, keheningannya membuat kita tenang berlama - lama bersepeda disini.


Kamis, 12 September 2013

Kembali


Setelah lama entah kemana, rasanya saya tidak kemana - mana tapi entah kemana saya pergi dari dunia kemayaan ini. (Haduh bahasanya jadi aneh...
Akhirnya saya punya kesempatan untuk kembali, kembali untuk bisa menulis lagi diblog ini. Semoga saya bisa lebih sering menulis disini,,


Kamis, 25 Juli 2013

Sekar Arum #1

Rintik hujan kian menderas, semakin banyak tetesan air langit yang menghujam bumi. Begitu menyentuh tanah, kan terasa bau tanah menyengat, bersama butiran debu yang menghilang. Dalam sekejap membuatnya menjadi genangan air disana sini. Sebelum menyentuh tanah hujan telah menyentuh daun terlebih dahulu, menghapus debu diatas hijaunya daun, kemudian tetesnya menimpa daun, sebagian jatuh ke tanah sebagian dapat bertahan diatasnya. Daun tak hanya basah, tapi juga tergoyangkan oleh angin. Angin pula yang dapat menerbangkannya daun kering entah kemana, bahkan bisa terbang sangat jauh dari asalnya Angin dan hujan memang sedang menimpa bumi, dengan angkuhnya tak ada yang menghentikan kecuali Sang Pemilik Waktu. Angin dan hujan adalah sama, kadang membawa berkah, disisi lain mendatangkan musibah.
Dalam kegauluan alam ini terdapat dua insan manusia yang sedang berdiri dalam diamnya dunianya masing - masing. Dalam pertempuran alam ini, terdapat pertempuran insan manusia pula. Bila disisi alam hujan yang lah menang, hujan mudah sekali menyentuh tanah, dan tanah tak akan pernah sanggup menepis rintik hujan. Berbeda dengan pertarungan ini, dua ksatria negri ini, sama sama berpihak pada negara, hanyalah sebuah selisih membuat mereka saling berhadapan ilmu dan pedangnya.
Seorang ksatria perempuan muda, Sekar Arum biasa ia dipanggil. Meski perempuan, tak menyurutkan niatnya tuk berkelana di dunianya para lelaki, dunia yang penuh dengan kekerasan. Sorot matanya yang tegas menandakan setiap langkah yang diambil tak akan pernah dibelokkan lagi. Kulitnya kuning langsat, meski ia sering kali berjemur dibawah terik matahari, tak seperti para perempuan pasar yang kulitnya menghitam karena terbakar oleh sang matahari. Tubuhnya hampir sempurna, tinggi, badannya terlihat ringan bila dibawa lari, tak ada tumpukan lemak disekujur tubuhnya. Tak hanya itu perangainya juga seperti seorang putri, tak pernah ia membedakan antara tani, teman sesama ksatria, bangsawan atau sekalipun kuli. Setiap yang memerlukan bantuannya pastilah dengan senang hati membantu. Tak peduli itu gerombolan pencuri kelas teri atau pejabat istana yang korup pasti sudah ia babat habis dengan ilmu dan pedangnya. Kecantikan tubuh, perangainya yang baik dan kepandaiannya mengolah ilmu dan pedang membuatnya digadang - gadang sebagai salah satu ksatria perempuan terhebat dinegri ini.
Dalam keadaan perang pun, perasaan dan mata batinnya Sekar Arum bisa merasakan selain ia dan sang lawan didepannya terdapat orang lain yang sedang mengintai mereka. Ia dapat meraba getaran hitam yang disalurkan lewat angin, getaran hitam yang semakin lama semakin menguat melingkupi areal pertempuran ini. Sementara hujan dan angin yang makin menjadi tak menyurutkan niatnya tuk mengakhiri pertempuran.
"apa yang kau tunggu, bukankah pedangmu sudah haus?" tanya sang lawan, seorang ksatria lelaki
Tak ada jawaban dari Sekar Arum, hanya segaris senyum datar yang mungkin tertutup oleh hujan yang lebat. Makin ditajamkannya pandangan mata dan mata batinnya, sementara tangannya makin memegang kuat pedangnya.Dengan mantap ia melangkah, tak ada lagi kata mundur dalam kamus Sekar Arum.
Sang lelaki tak bergeming, tak ada langkah maju apalagi mundur, hanya disambutnya langkah Sekar Arum dengan senyuman. Dengan pelan ditariknya pedang yang ringan dari punggungnya, sebuah mantra terucap dari mulutnya tanpa terdengar siapapun hanya pada sang angin ia mengutarakan niatnya. Dengan tangan kanannya, ia mantap memegang pedangnya, tersalurkan tenaga dari seluruh tubuhnya pada pedang tersebut. 
Sementara itu Sekar Arum makin mendekat, hanya tinggal 9 langkah dari sang lelaki. Pandangan mereka saling beradu...
'setttt' goresan pedang menyentuh daging manusia diiringi darah yang muncrat entah dari tubuh siapa.
Sang lelaki menundukkan wajahnya, tak kuasa ia menahan rasa dalam tubuhnya. Sementara Sekar Arum seakan berdiam sejenak, tapi ia langsung melangkah kembali. Tak mempedulikan musuhnya yang sedang menunduk.
Setengah berlari Sekar Arum menyongsong musuhnya, "jleebb" disusul sebilah pedang menembus perut manusia. Darah segar langsung keluar dari luka tersebut, mengalir ketanah bersama dengan air hujan.Sedetik kemudian, suara pedang jatuh ketanah, pedang yang masih bersih, tanpa darah setetes pun.
Dalam seketika Sekar Arum roboh, tak kuasa tubuhnya menerima dua luka sekaligus. Ya, ksatria perempuan telah kalah dalam pertempuran ini. Tubuhnya tak tahan lagi, luka sayatan pedang telah menyebarkan racun dalam tubuhnya, melalui media angin pedang ringan sang musuh mampu sampai pada musuh yang diucapkan sang empunya pedang. Belum lagi tusukan tepat dibagian perutnya, seluruh isi perutnya terasa ditarik keluar. Mau tak mau Sekar Arum harus mengakui ia telah kalah.
Tepat sebelum tubuh Sekar Arum menyentuh tanah, sang lelaki dengan cepat sudah menahan tubuhnya. Hendak dicabutnya pedangnya itu dari tubuh sang musuh yang juga kekasihnya. Tapi niatnya ditahan tangan Sekar Arum, ia sudah tak sanggup lagi tuk merasakan rasa sakit dari cabutan pedang dari perutnya.
Dalam keadaan genting seperti ni, nalurinya tetaplah berjalan, dirasaknnya getaran hitam yang makin mendekat. Ia yakin ada sesuatu yang sedang menuju kedirinya dan itu semakin mendekat. Dengan yakin pula ia merasakan getaran hitam dari arah belakang sang lelaki. Dengan tenaga terakhir di singkirkannya sang lelaki ke samping kanannya. Dengan cepat ia berdiri, menyongsong sebuah benda yang sedang melesat cepat dari arah rerimbungan pohon beringin. Terlihat rasa sakit dalam wajah cantiknya, dengan sangat berusaha menahan rasa didalam tubuhnya. Dalam sepersekian detik kemudian anak panah itu telah muncul, dengan cepat telah berhasil menyentuh kulitnya dan telah merasuk dalam dadanya. "jleb" untuk ketiga kalinya tubuhnya menerima benda tajam.
Sang lelaki segera menguasai dirinya lagi. Dilihatnya Sekar Arum yang menyambut anak panah racun dengan tubuhnya, dilihatnya lagi Sekar Arum terjatuh ketanah. Dengan bergetar ia berlari, menahan tubuh kekasihnya yang akan jatuh ketanah, Dipangkunya tubuh perempuan pemberani ini, matanya beralih pada rimbunan beringin tempat asal anak panah diluncurkan.
"bagaimana bisa aku bilang tidak mencintaimu.." kata sang lelaki sambil mengusap wajah Sekar Arum yang  basah karena hujan "bagaimana bisa aku membunuh orang kucintai,,, dan ternyata ia menyelamatkan diriku dan sebuah maut"" lanjutnya lagi..
#berlanjut.....

Rabu, 24 Juli 2013

(Entah) Arti Sebuah Tiupan Lilin




Aku tak pernah meniup lilin
Mungkin itu jarang sekali terjadi
Aku tak pernah memotong kue
Mungkin itu hal yang mustahil dalam duniaku

Bagiku,,,
Semua hari dan tanggal sama
Semua bulan itu sama
Tak ada bedanya hari Senin dan Jumat
Tak ada bedanya 26 Februari atau 17 Juli

Yang aku tahu,
Ibu ayahku selalu berdoa khusus dihari itu
Mereka selalu berusaha tersenyum dihari itu
Matahari selalu menerangi dihari itu
Begitu juga hujan, tak pernah datang dihari itu

Yang aku tahu,
Hari itu memang selalu ada
Hari itu memang berarti bagiku
Hari itu menjadi pengingat bagiku
Hari itu menjadi semangat baru yang selalu ada

Yang selau kuyakini,,
Doa sykurku atas hari itu
Doa tuk bisa berjumpa lagi dengan hari itu
Doa tuk orang - orang yang ada dalam hari itu
Doa segala salah dalam hari itu

Kado, balon tak pernah menghampiri
Tapi irngan doa ku yakin selalu mengiringi
Kue, lilin tak pernah ada
Tak mengapa, hanyalah simbol belaka...


Disudut kota perwira, ketika hujan baru saja turun dan hari itu telah jauh berlalu...
Baru keinget mau nulis tentang ini, idenya juga baru muncul sepersekian menit yang lalu...

Susahnya (menjaga sebuah) Konsisten

Tidak mau membahas orang lain dan apa itu didunia lain. Tapi ini tentang saya sendiri,,, :( 
Diri sendiri aja belum bener mau ngebahas orang lain yang ngak tahu bener apa salahnya. Daripada ngobrolin orang lain mari berkaca pada diri sendiri, apakah sudah lebih baik dari orang yang diobrolin...

Bicara soal konsisten, soal keberlanjutan, (ini masalah yang dari dulu belum juga terpecahkan oleh saya) kenapa ya sangat susah tuk menjaganya. Dari awal sudah diyakinkan, sudah diingatkan, untuk melaukan hal dengan teratur, tapi ya susah sekali,, oke dua minggu awal bisa berjalan dengan mulus, tapi berikutnya berbagai rasa datang menggoda, yang malas lha, buat nanti saja lha, capek dengan kerjaan. 
Seperti nulis di blog ini nih, dulu sangat berhasrat tuk membuat sebuah blog, rencana akan diisi kegiatan sehari, traveling, hobi, masak memasak, eehhh.. baru nge post 15 aja udah jenuh dan entah jedanya berapa hari sekali dari satu tulisan ke tulisan berikutnya

Apa harus diterapkan sistem hukuman ya,,, kalau sehari ngak ngepost dihukum keliling desa dua kali.. Dua hari aja ngak nulis langsung turun drastis nih badan. Entahlah besok - besok mikir soal hukumannya, semoga saja besok sudah ngak ada penyakit kaya gini lagi. Sekian dulu tulisan yang tidak ada artinya... (kalo ada yang pernah atau punya masalah kaya gini mohon bimbingannya ya....

Sabtu, 22 Juni 2013

Pro VS Kontra Pernikahan Muda

Hanya untuk melampiaskan pendapat yang ada di hati, mungkin ada setuju atau tidak setuju. Itu merupakan hak kamu, sebagai pembaca....


Beberapa melihat dan menyaksikan prosesi pernikahan saudara, kerabat dan teman. Muncullah berbagai opini tentang pernikahan. Menurutku, pernikahan itu sesuatu yang sakral, suci, kalau bisa hanya dilakukan satu kali dalam hidup (kecuali garis waktu yang memisahkannya). Pernikahan tak hanya dilakukan dua orang, tapi akan menggabungkan dua keluarga besar menjadi satu. Menggabungkan berbagai pikiran dalam satu tujuan yang mulia. Pernikahan nggak bisa dibuat main - main, perlu persiapan yang matang, meski setelah acara pernikahan lah yang merupakan kehidupan selanjutnnya, yang tidak boleh dibuat untuk main - main.


Nah, beberapa kali ada pernikahan di usia muda, inilah yang menjadi sedikit ganjalan dalam hati. Kalau jodoh memang tidak kemana dan harus diikat dalam pernikahan tapi kenapa hari diusia muda, diusia yang seharusnya masih bisa menggali potensi diri. Mungkin benar bila ada pendamping lebih menyangkan, tetapi itu juga memberikan efek yang lain.

Yang saya setujui dari pernikahan usia muda :
* Dalam agama islam, Allah menyukai pasangan muda yang menikah di usia muda
* Mungkin dari pada berzina atau semacamnya lebih baik menikah muda

Yang kurang saya setujui dari pernikahan usia muda :
* Seringkali pernikahan ini karena faktor X, yang udah bablas, menutup aib dan lain sebagainya
* Dunia ini masih luas untuk diarungi, meski katanya kiamat sudah dekat tapi masih banyak hal yang kita belum tahu
* Bukankah kita sudah belajar, kuliah, ilmunya buat apa kalau tidak digunakan. Bagi perempuan terkadang terkendala untuk bekerja bila sudah menikah
* Beberapa orang mengalami kegagalan dalam pernikahan ini, dari masalah keuangan, umur dan anak.

Ya ini sih hanya pendapat saya, terserah kamu mau setuju atau tidak. Bukan juga saya anti menikah muda atau iri pada pernikahan muda. Tapi ini hanyalah sekedar opini,,,


Bukankah menyenangkan bila pernikahan kita dilakukan sesuai keinginan kita, ketika kita sudah bekerja kita dapat mewujudkannya. Akan lebih indah bila pernikahan dihadiri dengan penuh senyuman orang karena acaranya sukses, bukan terlihat mengecewakan karena pengantinnya sudah terlampau keluar jalur.


Jumat, 14 Juni 2013

Serba Dadakan

"Wah mau pake baju apa nih" keluhku..
Kebiasaan ini bisa ilang ilang deh, padahal acaranya dua hari lagi dan aku masih tak tahu harus pakai kostum apa. Hal ini juga terbawa ke hal yang lain, seperti ngak pernah prepare tentang tugas, selalu saja dadakan. Dan yang paling menyebalkan dari kebiasaan ini adalah berlari - lari dengan waktu. Sering kali sesal menyelinap dalam hati, 'kenapa ngak disiapin dari minggu ato bulan lalu sih'. Tapi kalau kejadiannya sudah lewat ya sudah, bablas saja bagai angin.

Sepertinya aku terlalu terbebas dengan waktu, kubiarkan semuanya berjalan dengan seadanya. Berlalu dengan seenaknya nih si waktu. Sepertinya kurang waktu 24 jam sehari. Mulai harus kontrol nih, harus bisa dikontrol waktunya sebaik mungkin, seefisien mungkin. Biar nggak keulang lagi serba dadakan. Bagi yang punya managemen waktu, gimana ngatur waktu yang baik, bisa kasih tahu aku ngak :)

Tertipu cinta MONYET

Saduran dari karya ponakanku, cerpen anak SMA..

Kisah ini awal ketika aku masih duduk di bangku kelas 2 SMP. Masa – masa remaja yang dilalui dengan kegembiraan dan kegalauan yang datangnya silih berganti.
Waktu itu, aku mempunyai teman sekelas bernama Sari. Lumayan cantik, berkulit putih, tubuh yang kurus dan tinggi membuatnya dia terkenal dikalangan angkatan kami. Aku dan dia sudah berteman sejak masuk SMP, sama – sama mengikuti kegiatan Pramuka menjadikan kami semakin akrab. Suatu hari, ketika waktunya untuk pulang, Sari meminjam hpku. Ia bilang untuk menghubungi temannya, karena hpnya mati.
Sesampainya dirumah kubuka kembali hpku itu, kubaca sejenak sms Sari pada temannya. Tak disangka pada malam harinya teman Sari tersebut mengirimkan pesan padaku. Awalnya hanya iseng, tapi lama kelamaan saling mengenalkan diri dan terjalinlah suatu pertemanan dari situ. Awalnya tak kenal, kemudian saling ber – sms – an, kemudian dia mengajakku untuk melakukan kopi darat, ketemuan disuatu tempat untuk lebih saling mengenal lagi.
Tian, itulah teman pria yang dulu disms Sari. Dari Sari pula aku mendapat rujukan kalau Tian itu adalah anak yang baik, seorang pelajar dari Sekolah Menengah Atas. Atas dasar itu pula lah, aku memberanikan diri untuk melakukan kopdar (kopi darat) dengan Tian, asal saling membawa teman, itu syarat dariku. Akhirnya aku membawa Sari dan Tian membawa seorang teman laki – lakinya, Wisnu namanya. Kami hanya mengobrol kala itu, saling menanyakan kesukaan masing – masing.  ****
1 bulan telah berlalu…
Wisnu kini sering menghubungiku walau lewat sms, dan itupun hanya menanyakan kabar belaka. Ternyata dia lumayan asyik sebagai teman curhat, dari yang selalu mendengarkan keluhanku tentang susahnya pelajaran atau kegiatan Pramukaku yang membuatku bosan. Meski jarang, tapi dua atau satu minggu sekali Wisnu selalu mengajakku untuk bertemu, sekarang makan bersama atau ke perpustakaan bersama.
“Nis, kamu mau ga jadi pacarku?” tanya Wisnu ketika kami menyusuri taman kota bersama.
“Bukannya kamu sudah punya pacar?” tanyaku “Ntar aku malah jadi orang ketiga lagi” lanjutku
“Kata siapa aku punya pacar, belum lha” jawabnya santai
Berlangitkan malam yang tak penuh bintang, aku terdiam sejenak, memikirkan apa yang harus kuucapkan pada Wisnu. Salah ucap sekata pun bisa menjadi penghancur pertemanan kami. Aku tak mau hubungan teman yang sudah baik ini menjadi retak gara – gara aku menolak cintanya.
“Aku tak bisa menjawabnya sekarang, aku perlu waktu” jawabku
Wisnu tersenyum, “iya tak papa” jawabnya singkat. “Kita makan yuk” katanya sambil menunjuk warung bakso kesukaan kami di taman kota ini. ****
Entah kenapa ayam berkokok dengan cepatnya, tak terasa aku sudah harus bangun dari tidurku yang nyaman ini. Sinar matahari belum berhasil menembus kaca jendelaku, berarti ini masih jam lima pagi, pikirku dalam hati. Ada rasa malas untuk bangun, ada rasa tuk melanjutkan tidurku saja, biar melanjutkan mimpi yang tadi belum selesai.
“Bangun nis, sholat subuh dulu” kata ibuku sambil mengetuk pintu kamarku.
“Ya bu, “ aku langsung bangun, duduk ditepi tempat tidurku tuk mengumpulkan semangat baru menyambut hari ini.
Rutinitas masih saja seperti kemarin, hampir bosan rasanya melakukan hal ini. Bangun, mandi, sarapan, pergi, belajar, terus berulang setiap harinya selama bertahun – tahun. Ingin rasanya cepat – cepat menyelesaikan sekolah ini, biar bisa kuliah yang waktu belajarnya tak terlalu mendominan seperti saat SMP atau SMA.
Hampir sama seperti hari – hari kemarin, aku tak begitu menikmati pelajaran hari Sabtu ini. Rasanya barusan aku masuk kelas, eh malah sekarang udah waktunya pulang. Bel tanda pelajaran terakhir telah berbunyi disambut sorak – sorak dalam hati teman – temanku yang sudah jenuh dengan pelajaran Kesenian ini. Tak ada yang berlama – lama dikelas, semua anak segera menghambur berlari keluar kelas dan berbaur dengan anak – anak yang lain. Hampir semuanya bercerita tentang kegiatan nanti malam minggu yang sudah direncanakanya.
“Nis ntar malam ke taman lagi yuk” sms dari Wisnu
Sambil melepas sepatu dan meletakkanya dilemari sepatu aku tersenyum membacanya. Dalam hati mulai terasa getaran aneh yang muncul setiap kali aku membayangkan Wisnu.
“Ok,” balasku singkat.
Nanti malam adalah malam minggu, malam yang panjang buat anak – anak muda. Malam bagi para pasangan kekasih untuk saling bertemu, saling mengungkapkan cintanya pada pasangannya. Tapi malam yang kelabu bagi yang sendiri, tanpa teman pendamping hanya bisa menikmati pemandangan sepasang kekasih yang saling bergandengan tangan.
Malam ini juga sudah kubulatkan hati tuk menjawab pertanyaan dari Wisnu. Sudah kupikir dalam otakku yang pas – pasan ini, kan kujawab segala rasa aneh yang selalu muncul ketika bersama Wisnu.
“Kamu masih nunggu jawaban aku ngak Nu” tanyaku
“Jawaban pertanyaan yang mana” tanya Wisnu sambil menikmati es krimnya
“Masih muda kok udah pikun” candaku
“Masih dong, sampai kapanpun aku nggak bakal lupa pertanyaanku itu” jawabnya mulai serius “Emang udah ada jawabannya?” tanyanya lagi
“Ehm……” aku menggantung jawaban
“Jangan gitu dong, bilang iya atau tidak aja kok susah”
“Iya aja deh, daripada ntar ngak dianter pulang” jawabku mengalihkan pandanganku dari Wisnu
“Makasih yah” jawab Wisnu tersenyum.”Aku janji cuma kamu seorang yang ada dihatiku”  ****
1 tahun berlalu ….
Dalam menjalin suatu hubungan biak pertemanan atau percintaan aku berprinsip untuk selalu jujur. Membuka segala masalah yang ada itu jauh lebih baik daripada mengetahuinya dari belakang. Demikian pula dengan hubunganku dengan Wisnu, kami sepakat untuk saling terbuka satu sama lain. Apapun masalahnya, kami harus hadapi dengan kejujuran sehingga bisa menjadikan kami lebih bersatu.
Sejak 1 tahun yang lalu ketika aku memberikan jawabanku pada Wisnu, kami sepakat untuk saling memberikan panggilan sayang, layaknya pasangan kekasih yang lain. Seperti beb, darling, say, bahkan ada juga yang sudah memanggil papi mamih (tapi aku kurang terlalu suka dengan panggilan terakhir, kan belum apa apa kok memanggilnya sudah seperti itu, kurang berkenan saja dalam hatiku). Aku lebih sering memanggilnya Mas, dan dia memanggilku dengan Dik.
Tak terasa sebentar lagi aku harus melewati ujian, tak terasa pula kalau aku sudah kelas 3. Masa – masa yang paling sulit, harus pandai – pandai membagi waktu antara pelajaran dan kegiatan diluar sekolah.
Entah karena akunya yang terlalu sibuk dengan persiapan ujianku atau ada alasan yang lain hubunganku dengan Wisnu mulai merenggang. Sempat terasa kalau Wisnu mulai berubah, tak seperti pada awal – awal kami pacaran dulu.
“Mas, mulai berubah deh” tanyaku sambil mengambil buku dirak perpustakaan kota.
“Berubah apaan” tanyanya
“Contohnya nih ya, kadang sms ku ngak dibalas, kemarin marah – marah nggak jelas” kataku sambil membaca buku referensi yang kuambil tadi
“Kan mas juga sibuk, memangnya hanya kamu yang sibuk ujian” katanya sambil berjalan menjauh.
Berawal dari kejadian diperpustakaan kota itulah mulai sering muncul pertengkaran – pertengakaran dalam hubungan ini. Sambil mengikuti persiapan ujian aku terus saja memikirkan masalah ini, setengah otakku kupaksa untuk berpikir materi ujian sementara setengahnya lagi kupaksa untuk memikirkan hubunganku dengan Mas Wisnu. Aku juga tak mau aku gagal pada ujian sementara aku juga gagal dalam mempertahankan hubunganku dengan Mas Wisnu.
Seiring berjalannya waktu, ketika ujian makin dekat aku mendengar kabar tentang Wisnu. Pernah temanku berkata ia melihat Wisnu dengan seorang pelajar dari sekolah tetangga. Walau hatiku hampir hancur, tapi kucoba tuk mempertahankan. Toh kata Mas Wisnu, yang pernah jalan dengannya hanya saudaranya saja, kucoba tuk percaya padanya.
Namun, aku sendiri pernah memergoki dia sedang jalan dengan wanita lain. Dan yang lebih menyakitkan hati, mereka bergandengan tangan dengan mesra layaknya sepasang kekasih. Kali ini, kucoba tuk berpikir lebih rasional, hampir dua hari aku melupakan materi ujian hanya untuk memikirkan kejadian kemarin.
“Aku udah capek Mas,” kataku saat berjumpa dengannya
Wisnu hanya terdiam melihat tatapan mataku yang semakin menajam.
“Aku sudah bosan dengan segala yang kamu tutupi dari aku, sepertinya prinsip kejujuranku sudah tak lagi ada dalam hubungan ini “ ujarku
“Lalu kamu maunya seperti apa Dik, kamu tak percaya sama aku” tantangnya
“Aku mau putus, kita sudahi semua sampai disini” ujarku lagi, air mataku hampir saja membanjiri pipiku kalau tak dicegah dengan logikaku.
“Ok, kita selesai” ucap Wisnu dengan singkatnya dan terasa tanpa ada beban
Cinta memang tak seperti yang kita bayangkan. Cinta juga tidak selamanya menyenangkan begitu pun sebaliknya cinta tak selamanya menyedihkan. Hubunganku dengan Mas Wisnu tak selamanya berjalan dengan mulus seperti pikiranku dulu. Ternyata banyak tikungan dan pertigaan yang harus kita hadapi, dan tak selamanya itu sejalan.****
1 bulan telah berlalu, kesibukanku dengan ujian bisa menjadi pelampiasanku untuk mengalihkan dari segala yang behubungan dengan Wisnu. Meski sebenarnya masih ada rindu dalam hatiku untuk Wisnu, masih ada rasa ingin melihatnya senyumnya lagi, masih ada rasa tuk mendengar candaannya lagi.
Ujian telah berlalu, aku mencoba tuk semakin meninggalkan bayangan tentang Wisnu. Beruntung ada teman laki – laki yang ternyata sudah suka padaku dari kelas 1, tapi ia tak pernah berani tuk mengatakan padaku. Aku tak pernah berpikir untuk menjadikan Angga sebagai pelarianku saja dari Wisnu, mulai kucoba tuk membuka hatiku pada Angga.
Ketika aku mulai nyaman dengan hubunganku dengan Angga, aku mendapat kabar dari Sari kalau sebenarnya Mega, teman beda kelasku menyukai Angga. Aku dan Mega adalah teman dekat, kami selalu menghabirkan jadwal istirahat bersama di kantin, mengerjakan tugas bersama di perpustakaan, aku bahkan menganggap Mega salah satu sahabat terbaikku. Soal Angga, Mega tak pernah memberitahukan padaku tentang perasaannya.
Dalam kebimbangan, satu sisi aku nyaman dengan Angga, disisi lain Mega adalah sahabatku sendiri. Lebih baik aku mengorbankan perasaanku, aku lebih memilih Mega. Kuputuskan hubunganku dengan Angga dengan baik – baik, ia pun berusaha tuk memahami keadaanku ini.
Untungya keputusanku diperkuat dengan kelulusan dan aku tak satu sekolah lagi dengan Angga maupun Mega. Jadi tak ada beban dalam hatiku, tak harus memilih antara Angga atau Mega lagi. ****
‘Wisnu datang lagi’ hati kecilku bersorak gembira. Entah darimana ia tahu aku bersekolah dimana, tapi tadi siang dia ada didepan gerbang. Ia mengajakku makan siang, hanya sebagai ucapaan permintaan maaf atas salahnya waktu dulu. Selain itu juga ia mengungkapkan kalau ia benar – benar menyesal, dan masih menyimpan perasaan untukku.
Aku tak bisa menolak Wisnu, hati benar – benar berseri, segala keindahan dibumi ini muncul dalam hari hariku bersama Wisnu. Dalam hati kucoba tuk mulai menghapus kesalahan Wisnu.
“Aku janji takkan mengulang kesalahan yang lalu, aku janji hanya seorang Nisa yang sekarang ada dihari – hariku” ucapnya makin membuat hatiku luluh. ***
Hari – hari berlalu, dengan cepatnya ia berganti menjadi bulan. Tak terasa hubunganku dengan Wisnu telah satu tahun lamanya. Awalnya memang menyenangkan, rasa indah memenuhi ruang dalam hati. Tapi entah mengapa, beberapa minggu belakangan terasa berbeda, ada sesuatu yang mengganjal dalam hubungan ini. Terasa Mas Wisnu semakin sering tak menjawab telfon ku, ia berkilah kalau sedang sibuk kuliah, terkadang pula ia lupa dengan janji yang ia buat sendiri. Namun masih saja kucoba untuk berpikir positiv mungkin, benar Mas Wisnu sedang sibuk atau sedang ada masalah dengan kuliahnya.
Lusa adalah ulang tahun Mas Wisnu, aku sengaja tak mengatakan apapun, sikapku padanya juga seperti biasa. Aku ingin memberikan sebuah kejutan, mungkin dengan ini dia bisa memberikan perhatiannya sepenuhnya pada hubungan kami.
Hari ini adalah jadwalku mengikuti les tambahan. Beruntung ada Maya, ia mengajakku untuk kabur dari jadwal les, katanya ia bosan dengan materi yang diajarkan. Maya mengajakku kepertokoan didekat taman kota, pucuk dicinta ulam pun tiba, aku rasa ini saat yang tepat untuk mencari kado untuk Mas Wisnu. Lupakan les, toh hanya sekali aku tak berangkat les.
“May, aku ke toko itu sebentar ya, siapa tahu ada yang bagus” kataku pada Maya
“Ok, ketemuan di warung mie Udin ya” jawabnya
Beberapa toko telah kulalui tapi belum ada yang menarik perhatianku, baru kutemukan sebuah jam tangan laki – laki yang rasanya pas ditangan Mas Wisnu. Sebetulnya aku ingin mencari sebuah kemeja untuknya, katanya dia akan mengikuti KKN, dan aku ingin kemeja itu mengingatkannya padaku saat KKN nanti.
Baru satu langkah melewati resto, langkahku terhenti, pandanganku tertuju pada satu orang yang selalu mengisi relung hatiku. Mas Wisnu, ia sedang duduk disalah satu kursi resto tersebut, yang membuatku lebih kaget, didepannya ada seorang wanita muda, terlihat seumuran denganku. Tangan mereka saling menggenggam, dari cara bicara keduanya terlihat mereka sedang membicarakan hal yang menarik, dan yang paling menyakitkan terlihat dari pandangan Mas Wisnu yang memandang wanita itu, seperti saat dia memandang mataku.
Langkahku semakin kupercepat, rasanya ingin berlari bila tak terhalang beberapa orang yang lalu lalang diresto. Hampir saja emosi memenuhi tubuhku, rasanya ingin sekali memukul batang pohon pisang tuk melampiaskan amarah ini.
“Byurr” kulempar isi gelas lemon tea pada wajah Mas Wisnu, lalu kubanting gelas itu dan terjatuh kelantai berkeping – keping.
Lantai langsung basah, pecahan kaca gelas terlihat hancur berkeping – keping. Orang – orang dalam resto langsung tertuju pada kami, beragam tatapan mereka, penuh tanya, penuh amarah dan penuh penasaran.
“Nis” tanya Wisnu pelan sambil mengusap wajahnya
“Ssstt jangan bicara” kataku tegas “Kamu pacaranya?” tanyaku pada gadis didepan Wisnu
Ia terdiam, mungkin bingung dengan keadaan ini. Ia menengok kesegala arah, melihat seluruh penjuru resto sedang menatap kami.
“Jawab saja, nggak usah takut” tanyaku lagi
“Bukan, dia cuma teman” jawab Wisnu
“Siapa yang tanya sama kamu” kataku sinis, “sekali lagi kutanya, kamu pacarnya” kataku lagi pada gadis ini
“Kami satu kampus,,” jawabnya pelan “Wisnu pacarku sejak tiga bulan yang lalu.”
“Ok, makasih jawabannya” kataku  sekarang pandanganku tertuju pada Wisnu, dari tatapannya ia terlihat memelas sangat berbeda dengan sorot mataku yang penuh amarah.
“Kita selesai Mas, dulu kucoba tuk menyatukan hatiku yang retak, tapi kali ini sudah hancur berkeping – keping” jawabku sambil menahan emosi “Rasanya ingin aku tampar pipi kamu, tapi aku tak mau tanganku kotor menyentuh manusia yang tak bisa memengan ucapannya sendiri”
“Nis… “ katanya pelan
“Tak ada lagi Wisnu dalam hidupku, tak satu tahun kedepan atau bahkan ratusan tahun kedepan, hatiku sudah remuk melihat kebohonganmu”
Kutinggalkan mereka berdua, tak tahu apa yang terjadi dengan Wisnu dan pacar barunya itu. Aku tak lupa mengucapkan maaf pada kasir resto dan memberikan uang ganti atas gelas yang pecah. Rasa maluku ketika seluruh orang menatapku dengan kasihan sudah hilang, tertutup dengan sakit hatiku yang mulai membayangiku, hampir air mataku tak bisa terbendung lagi.****
Diteras belakangan masjid aku duduk, menikmati sakit hati yang sedang melandaku. Air mataku tak habis – habisnya turun, entah kenapa semakin lama semakin deras saja. Untung saja, tak ramai orang ditempat ini, sehingga membuatku semakin nyaman untuk menangis. Hatiku sungguh menyesal, mengapa dulu aku begitu percaya pada Wisnu, pada perkataannya bahwa hanya aku seorang dihari – hari.
“Sapu tangan” tanpa kusadari ada suara disampingku
Lama tak jumpa membuatku agak terpaku, Angga, masih sama seperti dulu hanya terlihat makin kurus saja mantanku ini. Kuseka air mata yang masih dipipi, kucoba tuk tersenyum melihatnya.
Ia kembali menyodorkan sapu tangannya. “Masih bersih kok” katanya
“Makasih, “ jawabku sambil menerimanya dan menghapus sisa air mataku.
“Kalau mau nangis lagi, ngak papa kok” katanya “sebenarnya sih lebih cantik kalo tersenyum” candanya
“Halah.. emang kapan lihat aku” selidiku
“Ya deh, yang habis mergokin pacarnya selingkuh sampai nggak liat cowok yang duduk disamping pacarnya” katanya “eh mantan pacar” ralatnya
“Masa sih?” tanyaku tak percaya “Berarti dengar semua kata – kataku”
“Kayaknya aku ngak mau ikut campur urusan itu” katanya
Aku tersenyum, ia masih sama seperti Angga yang dulu, rasa nyaman dengan dekatnya masih terasa. Dalam hati terasa sesal juga kenapa Wisnu tak bisa seperti Wisnu.
“Mega ke Australia” ujarnya “Ikut tantenya untuk sekolah disana”
“Berarti betul kabar itu, nggak nyangka dulu waktu SMP dia ngak bisa bahasa Inggris” kataku setengah tak percaya “Lalu?”
“Apa sih yang nggak mungkin, Einstein saja saat SD bodoh tapi malah jadi penemu hebat”
“Hubunganmu” tanyaku
“Yah, mau gimana lagi, daripada jarak jauh ngak bisa dipertahankan, kita sepakat untuk putus” katanya “tapi baik – baik lho, sama – sama menyadari saja”
“Ini baru keren” kataku takjub, tak seperti aku yang putus gara – gara selingkuh “Kalo jodoh tak kemana kok” kataku
“Kayaknya kata – kata terakhir juga cocok buat yang baru putus” katanya
“Apa sih,,”kataku sambil tersenyum “Mulai detik ini aku berhenti mikirin pacar” tekadku
“Kalau sahabat” katanya menatap tajam, masih ada setitik rasa dalam pandangan Angga
“Sahabat” ujarku sambil menyodorkan tangan pada Angga
Angga ikut tersenyum dan menjabat tanganku mantap. “Sahabat” ujarnya “tapi kalau jodoh tak kan kemana kan” katanya berlanjut****


Rabu, 12 Juni 2013

Doa Sang Candra

Aku mulai gelisah
Saat matahari kembali pada peranduannya
Aku mulai resah
Saat langit mulai berlatarkan jingga
Angin Juli mulai bertiup
Membawa segenap kerinduan
Angin Juli mulai berhembus
Membawa segenap kenangan

Aku mulai menampakkan diri
Ketika langit telah menghitam
Aku mulai bersuara lirih
Ketika langit telah sendirian

Tuhan,
Bolehkah aku meminta satu hal
Bolehkah aku melawan garisku
Bolehkan sesaat saja aku melakukan hal semu
Bolehkah sedetik saja aku melakukan hal yang khayal

Tuhan,
Aku tak pernah melanggar perintahmu
Aku selalu taat padamu
Aku berbuat kehendakmu
Aku selalu patuh pada ajaranmu

Tuhan,
Aku hanya ingin ...
Sekejap saja melihat sang Mentari
Sedetik saja melihatnya sang Matahari
Itulah satu harapan...

disepertiga awal malam yang tenang kota kecilku

Senin, 10 Juni 2013

Bendera Setengah Tiang (Atas Meninggalnya Pejuang Bangsa)

Matahari bersiap masuk ke ufuk barat
Awan awan berhampar bergelayut langit
Udara Juni panas bercampur hujan
Bertabur debu yang nanti tersiram air hujan

Tadi pagi,
Entah mengapa langit murung
Terlihat matahari enggan bersinar
Terlihat burung - burung malas terbang
Tadi pagi,
Entah mengapa pembawa acara berita tampak lesu
Terlihat tak bersemangat membacakan warta
Terlihat ada yang mengganjal dalam pilu

Angin membawa kabar
Membawanya dari atas gunung yang tinggi
Membawanya pada lembah yang dalam sunyi
Tersiar pada seluruh rakyat dan mahluk yang bersinar

Pejuang kita telah gugur
Pejuang yang membela rakyat 
Menghabiskan hidupnya dalam kubungan lumpur
Tak bermandikan kemilau harta apalagi jasa dan pangkat
Pejuang kita telah kembali pada keabadian
Bersama pengorbanannya yang semoga tak sia sia
Pejuang kita telah kembali pada ketidak adaan
Bersama angin dan tangis manusisa

Tak ada lagi pejuang lagi
Pada siapa nasib ini kita serahkan
Pada siapa kita berkeluh kesah
Pada siapa kita meminta bantuan

Hanya ada satu kata dari Pejuang
"Berjuanglah" katanya selalu
Pejuang telah tiada
Kini kita harus meneruskan wasiatnya
Mari kita berjuang
Berjuang untuk kita sendiri
Berjuang tuk nasib kita yang terombang ambing
Kita harus berjuang dan menjadi Pejuang selanjutnya

disudut kota kecil yang nyaman....

Rabu, 05 Juni 2013

Bagian dari Mimpi

Tulisan ini entah mau dimasukkan dalam kategori apa, cerpen tak mengisahkan dan tak ada pokok permasalah, puisi tak mengandung kata - kata yang puitis apa lagi romantis, buku harian aku tak suka menulis buku harian. Kadang ada tidaknya ide tulisan seperti hujan, yang terkadang sudah mendung tapi tak hujan, malah terang benderang, kadang ada ide yang oke, tapi tak ada waktu tuk menyalurkannya hingga ide itu menguap, pergi entah kemana.

Terkadang aku bingung sendiri dengan hidupku ini. Terkadang muncul semangat 45 tuk mengejar mimpi A, tapi lain hari mimpi itu memudar dan berubah menjadi mimpi yang lain. Bagaimana harus menjaga mimpi itu agar tak hilang dari benak sangat lah susah. Mungkin rumus 5cm ala dony dhirgantoro itu menjadi contoh yang harus dipegang terus, tapi lama kelamaan pegangan itu merenggang sendiri. Apa mungkin karena mimpi itu tak kuat, mimpi itu terlalu tinggi. Aku tak bisa menggantung mimpi itu tinggi tinggi, aku takut terjatuh dan tak ada yang menangkapku, hanya menyisakkan rasa sakit dalam hari. Mungkin hanya perlu menggantungnya 5 cm di bayangan kepala ku ini saja, mengikatnya erat erat agar tak hilang dari pandangan mata, dan tetap terlihat dengan jelas. 



Mimpi, aku masih heran dengan mimpi itu, dulu ketika kecil banyak terdengar ocehan "bermimpilah setinggi langit", tapi lama kelamaan seiring masa berjalan, orang berkata "jangan bermimpi tinggi, bila jatuh akan terasa sakit, sesuaikan dengan kenyataan yang ada". Aku masih saja terjebak dalam perkataan orang orang ini, aku masih belum bisa bermimpi dengan bebas. Padahal bermimpi itu tak membayar, hanya doa yang selalu terucap dalam hati dan lisan, tangan dan kaki untuk melakukan mimpi itu, otak yang selalu berkerja untuk mewujudkan mimpi itu (salah satu kata - kata Dony Dhirgantoro).
Mulai sekarang semoga berani bermimpi, wujudkan mimpi itu secepat mungkin, berlombalah dengan waktu yang dapat berhenti sewaktu - waktu, tak menghiraukan apakah mimpi sudah tergapai atau belum. Siapkan tangan, kaki dan doa tuk bermimpi. Jangan hanya bermimpi tapi lakukanlah. ACT NOW !!!

Sabtu, 01 Juni 2013

Kuliner Purbalingga, BBC

Bancar Badhog Centre, merupakan salah satu tempat kuliner di Purbalingga. Badhog dalam bahasa jawa berarti makan, jadi arti dari Bancar Badhog Centre adalah pusat makanan di Bancar (kalo warga setempat sih biasa menyebut Pasar Badhog, pasar yang banyak menyajikan makanan. Terletak 1 km ke arah timur dari alun - alun Purbalingga, masuk dalam kelurahan Bancar, Kecamatan Purbalingga Wetan. Meski termasuk pasar kecamatan tapi ramainya tak kalah dengan Pasar Segamas, pasar pusat kota satria, apalagi dihari minggu. Para pembeli berjubel untuk mencari makanan asli Purbalingga setelah mereka berolah raga. Jam paling ramai dari jam 6 sampai 9 pagi. 



gerbangnya baru dibuat beberapa bulan kemarin

Layaknya pasar yang lain, disini menjual beragam barang dari sayur mayur, barang kebutuhan sehari hari, makanan siap saji, pakaian dan barang kelontong lainnya. Tapi setiap hari minggu dapat dijumpai makanan khas Purbalingga. Hal yang masih harus dilestarikan ditengah pasar global yang menyajikan makanan ala luar negeri. Dari gethuk, krekel (singkong dijemur lalu diolah), jiwel putih / hitam( singkong diparud lalu diolah mirip gethuk), kepok (nasi beras ketan berbentuk kepalan bulat), pipis(singkong diparut dicampur gula merah dan dikukus), kue serabi, cenil, lopis, dan masih banyak jajajnan tradisional. Tak hanya itu bisa dijumpai juga pecel (sayur bumbu kacang), kluban (sayur bumbu  empas kelapa muda), buntil pepaya, buntil lumbu, mendoan, brontak, dan lauk pauk lainnya.




Yang ingin ketempat ini dengan bersepeda bisa memutar lewat jalan S.Parman belok kanan diperempatan Kedungmenjangan terus mengikuti jalan, disepanjang jalan akan menghampar pesawahan dan tanaman kangkung yang menghijau. Jalan pedesaan yang sepi dan jarang dilewati mobil membuat jalan ini bisa dilalui dengan santai dan menikmati udara yang sejuk. Lelah bersepeda tingal belanja , cari makanan ala Purbalingga di Bancar Badhog Centre.



Yang mau menulusur kota kecil ini, atau berkunjung ketempat saudara, atau yang mau mendaki gunung Slamet bisa mencoba nikmatnya panganan ala  kota Perwira di sini. Dengan segenap hati saya siap untuk menunjukkan jalan dikota kaki gunung Slamet ini,,, mari kita jelajah Purbalingga yang masih belum terjamah ini..