Minggu, 29 Maret 2015

Pasukan Awan


Aku tengah menanti selesainya matahari,
Berakhir diufuk barat seperti biasanya,
Saat mega kembali terpancar dalam tubuh ini,
Dan bagi beberapa orang itu mempesona

Aku telah lelah, seharian memayungi dunia,
Menghalang panasnya matahari yang membara,
Untunglah hari ini aku tak menjadi mendung kelabu,
Turunkan hujan pembawa tawa dan pilu

Aku sedang merindu, rindu pada sang rembulan,
Meski hanya bayang matahari, tapi ia tak kalah menawan,
Kan semakin sempurna, bila bintang pun ikut datang,
Menjadikan malam semakin riang

Aku tak lelah, menggantung diatas bumi,
Aku tak bosan, melihat dunia yang warna warni,
Inilah tugasku, Inilah tempatku, Inilah hidupku,
Dan untuk inilah aku diciptakan Sang Maha Esa

Minggu, 22 Maret 2015

Mengejar Sang Mimpi

 
Cita-cita. Mimpi. Harapan. Tujuan. Adalah satu, terletak dimasa depan, yang harus kita gapai, berliku jalan dan tikungan yang ada, perubahan rencana, kegagalan mungkin akan kita hadapi. Dia adalah satu, tapi jalannya teramat panjang, hambatan datang silih berganti. dan semangat dalam hati terkadang hilang. 
Cita-cita itu terkadang berubah. Dimasa kecil sering terucap untuk menjadi guru, polisi, dokter hingga astronot. Beranjak remaja, terkadang mimpi itu mulai terbentur keadaan. Seorang anak petani dengan kemampuan belajar seadanya tentu akan berpikir ulang untuk menjadi dokter. Lain halnya bila sianak petani tersebut betul2 pintar, tentu dapat teratasi dengan bantuan beasiswa. Semakin dewasa, beberapa orang bahkan sudah melupakan cita-cita masa kecilnya. Terkadang orang dewasa hanyalah menjalani kehidupan bagai air. Belajar, Kuliah, Bekerja, Menikah, Punya Anak semuanya berjalan seiring waktu. 
Dan apa cita-citaku??? Dokter, guru, artis sudah menghilang seiring berjalannya waktu. Kini impian dan cita-cita yang terus bertahan adalah Pengelana. PENGELANA??? Ya, cita-cita yang aneh dan gila tersebut begitu menarik dan terus bertahan disudut hati. Meski terkadang sinarnya seperti lilin, tapi ia tetap bertahan. Dan dilain waktu sinarnya berubah seperti matahari, teramat kuat menarikku.
Sang Pengelana bukanlah cita-cita hebat seperti dokter, guru, pilot dan astronot. Pengelana hanyalah orang yang hidup terus berjalan. Dari satu titik ke titik yang lain, dari kota laut berjalan ke kota gunung. Pengelana meninggalkan rumahnya, menemukan rumah-rumah baru dengan berbagai penghuni yang tak sama. Pengelana berkawan dengan angin, matahari, jalanan, hujan dan debu. Pengelana tidaklah perlu bersekolah hingga S1 S2 S3 dan gelar lainnya, pengelana hanyalah mempelajari apa yang dilalui dan yang dirasakan.
Beratkah menjadi Pengelana? Entahlah aku sendiri tak tahu, cita-cita itu masih jauh didepan mata. Belenggu ketakutan  masih menyelimuti diri. Persiapan diri tuk menjalani perjalanan panjang masih dilakukan. Dan terpenting semangat itu belum lah padam..
 Sekian, terima kasih sudah membaca sedikit curahan hati :)

Kamis, 05 Maret 2015

Pepes Ikan Kranjangan Daun Singkong



Iseng nulis didunia boga lagi (dulu pernah, ada nih, http://lesta1690.blogspot.com/2013/05/pepes-tahu-tongkol.html) Sejauh ini tak ada larangan untuk menulis dibidang makanan ini. Bahkan makin banyak aja blog atau website yang bertutur tentang makanan, resep masakan, tempat kuliner, tips dan trik didunia boga ini.
Mari kita langsung pada resep kita ..
Bahan :
4 buah pindang kranjangan (pilih yg besar, biasanya isi 2)
Daun singkong secukupnya (kurang lebih 1/2iket), pilih yang masih muda
4 buah bawang merah
2 buah bawang putih
5 buah cabe merah
5 buah cabe rawit (disesuaikan dengan selera pedas masing-masing)
1/2 sdm garam
Daun pisang, buat pembungkus
Biting lidi buat penyematnya

Langkah-langkah
1. Cuci bersih ikan pindang, hilangkan kulit yang berwarna abu2 dengan sedikit digosok, tiriskan.
2. Haluskan bawang merah, putih, cabe, dan garam hingga halus. Lumuri ikan dengan bumbu hingga seluruh bagian tertutup bumbu.
3. Ambil selembar daun pisang, alasi dengan beberapa daun singkong, letakkan ikan yang sudah tertutup bumbu dan tutup lagi dengan daun singkong. Gulung daun pisang kemudian bagian atas bawahnya sematkan dengan lidi.
4. Sangrai dalam sangan. (Saya gak tau bila didaerah lain dinamakan apa). Bisa juga dibakar dengan api kecil diatas pembakaran. Kurang lebih selama 20 menit, jangan lupa dibalik biar dua sisinya matang.
5. Bila bau harum sudah merebak berarti sudah matang. Angkat dan sajikan dengan nasi.

*Rasa gurih, asin dan pedasnya bumbu bisa meresap kedaun singkong. Selain tanpa menggunakan minyak, olahan ini juga cukup dinikmati dengan nasi saja. Cukup ditambah kerupuk saja..
 


 Sekian dan terima kasih sudah membaca,, semoga menambah wawasan. :)

Rabu, 04 Maret 2015

(Dibalik) Batu Akik Klawing




Sejak tahun lalu, Kali (Sungai) Klawing makin ramai diperbincangkan. Dari yang awalnya hanya sebatas pasir, ikan, dan batu untuk bangunan kini merambah pada batu akik. Apa itu batu akik? Kini hampir seluruh warga dialiran sungai Klawing tahu apa dan bagaimana bentuk batu yang sedang terkenal di negeri ini.

Termasuk dalam jenis batu permata yang kini dipakai dari kalangan pejabat, artis, tukang becak hingga anak SD. Menurut rumor yang beredar batu akik termahal di Indonesia itu berasal dari Aceh. Motif dan langkanya jenis batu ini menjadi faktor penentu seberapa harga jual dipasaran. Tak peduli berapa harganya, bagi kaum yang tak ingin ketinggalan mode maka tak jadi masalah. 

Bagi Penaruban, desa yang dari ujung hingga ujung yang lain dialiri Sungai Klawing, tak mau ketinggalan. Tengoklah, disetiap pinggir sungai akan ditemukan kios - kios pengolah batu. Anak - anak SD yang tinggal disekitar aliran sungai, sibuk mencari batu sembari bermain ditepi sungai. Ibu - ibu yang setiap pagi belanja, kini juga bergosip tentang batu, 'berapa rupiah yang didapat suaminya dari hasil menjual batu'. Penaruban mulai berubah, hanya karena batu.

Sama seperti penambangan pasir, tentulah pencarian batu-batu akik di sungai Klawing menimbulkan dampak positif dan negatif. Disisi yang menggoda, nilai jual yang tinggi menjadikan siapapun untuk memanfaatkan barang gratis ini, Juga dampak gengsi, semakin mahal dan bagus batu yang berhasil dijual atau dipakai, semakin tinggi pula perasaan orang tersebut. Namun disisi lain, penambangan yang terus menerus tentu akan menyebabkan dampak buruk bagi lingkungan. Seperti dijelaskan dalam tulisan terdahulu (http://lesta1690.blogspot.com/2013/10/esai-klawing.html).





Sebagai manusia yang bergantung pada alam, tentulan kita harus menjaga alam. Jangan sampai apa yang kita lakukan berdampak berlebihan pada kondisi alam sekitar. Kita tentu tak ingin bencana datang lebih dahulu, barulan kita akan merasa tersadar akan tindakan kita. Jangan menunggu banjir Sungai Klawing barulah kita mengontrol penambangan batu dan pasir disungai ini. Mari kita bersahabat dengan alam, tanpa mengurangi kecintaan kita terhadap batu akik.

Beberapa sumber bacaan tentang batu akik, semoga menambah wawasan




Sekian, dan terima kasih telah membaca. .

Akhir dan Awal


Kumpulan puisi saat kita menyaksikan sebuah perpisahan abadi. Kematian memang bukanlah mainan, tetapi menjadi pelajaran bagi setiap insan yang bernyawa. Karena semua pasti akan berpulang pada Sang Kuasa..

Saat Beliau Pergi

Riuh tangis mengiringi
Deras air mata membanjiri
Sesak terasa dalam dada
Rasa bergemuruh dalam jiwa

Beliau telah pergi
Dijemput Sang Malaikat Maut
Beliau telah tiada
Dihadapkan pada keabadian

Hanya tinggalkan memori bersama
Hanya tinggalkan kenangan indah
Kita hanyalah bisa berdoa
Kita hanyalah bisa berduka

Suara adzan terdengar
Mengingatkan pada kefanaan dunia
Senja telah digelar
Mengingatkan pada Kuasa Sang Rabb Illahi
15 Oktober 2014
kematian pertama ditempat kerja


Kematian yang Fana

Apakah aku mati?
Tubuhku dapat bergerak
Bisa berjalan dan makan seperi orang
Nadi jantung masih berdetak
Dapat bernafas dan berak seperti orang

Tapi, suatu waktu
Sudah kulupa tanggal dan nama hari
Hanya kuingat sinar mentari
Mulai terhalang rintik hujan dini hari

Terbangun dari mimpi buruk
Dalam belenggu dunia tidur
Sesaat jiwa belum terkumpul
Dan pandangan menjadi jauh

Pertama kusadari rasaku telah hilang
Tak kurasakan indahnya pagi hari
Saat hari mulai berganti
Makin kuyakini aku tak bisa merasakan

Tak ada tawa bila ada canda
Tak ada tangis bila ada sedih
Tak patah hati saat kekasih pergi
Tak ada malu saat ada salah
6 Desember 2014
entah dimalam yang sepi

Tak ada Jalan Kembali
Senja baru pergi
Menjejakkan gelap dibumi
Semilir angin perlahan
Menggiring malam dengan pelan

Isak tangis menyeruak
Sesal datang menghampiri
Suara teriak hingga serak
Memanggil segala memori

Ia telah pergi
Memulai jalan tanpa nama
Ia telah tak ada
Memulai jalan yang abadi

Tak terlihat lagi senyumnya
Sekarang hanya tubuhnya yang kaku
Tak terpancar tajam pandang matanya
Menyisakan raga yang mulai beku

Waktunya telah berakhir
Ruangnya berhenti berputar
Tak ada jalan kembali
Gerbang kematian telah dibuka

Senja kian menjadi
Malam kian larut sepi
Sang Rabb Pemilik Masa dan Ruanglah tempat kembali
Sang Rabb Pemilik Manusia dan Alamlah yang abadi

17 Januari 2015
kematian kedua ditempat kerja

Saksi yang Tak Abadi

Hari itu aku menjadi saksi
Meninggalkan seorang nenek tua
Penyakit umur membuatnya lupa
Pada anak cucu dan duniawi

Saat napas yang terakhir
Jiwa nenek tua telah berangkat
Saat air mata kami mengalir
Senyum nenek tua seolah terangkat

Telah dinantinya dari seminggu yang lalu
Malaikat maut adalah tamu yang ditunggu
Tuk melepaskan sgala kesakitan
Membawanya dalam keabadian

Juga pada waktu itu
Kusadari akan sesuatu
Kematian adalah akhir masa duniawi
Namun kematian juga awal yang abadi

Tuhan, tempat kami bermula
DiciptakanNya kami dengan tujuan mulia
Tuhan, tempat kami berpulang jua
Dengan segala amal dan dosa 

7 Februari 2015
disaat hari orang berisitirahat sejenak


Minggu, 08 Februari 2015

GGS (Gampang Gampang Susah)

2014 sudah berlalu, Januari pun baru saja beranjak. Namun yang namanya konsisten belum bisa berjalan satu rel dengan waktu. Bila dibanding tahun 2013, tahun 2014 tulisan yang ada jauh lebih sedikit. Segala faktor bisa menjadi penyebab yang kasat mata. Malas, gak ada ide, jaringan yang putus-nyambung menjadi hal yang paling dominan. Waktu berjalan semakin cepat, namun konsisten menulis seperti siput berjalan lambat.
Sebenarnya gudang masalahnya adalah MALAS. Sungguh sulit tuk menghilangkan sifat buruk ini. Suatu kemalasan menyebabkan kita melakukan hal yang kurang bermanfaat. Rasa malas juga menjadikan kita berada dizona nyaman yang sulit ditinggalkan.
Tulisan dibawah semoga bisa menjadi kunci untuk menjaga sebuah KONSISTEN terutama dalam menulis. Kalau ada saran lain, juga boleh ditambahkan..
 
http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2012/06/17/cara-jitu-agar-tetap-konsisten-menulis-ala-gelas-kosong-465165.html

MENDOAN



 
“Mendoan maning, mendoan maning. Mamake apa ra bosen. Apa iya aku arep urip selawase karo mendoan?”
Aku masih teringat kapan kalimat itu kuucap. Bahkan bila kau tanyakan tanggal dan jam berapa aku pasti akan menjawabnya.
Saat itu, tepat seminggu setelah hari kelulusan SMAku. Saat kemarau mulai merajai wilayah Purbalingga. Dibulan Juli, dimana bulan itu juga bulan kelahiranku. Sama seperti matahari yang sedang bersemangat diatas langit, hatiku pun bersemangat karena aku berhasil masuk dalam Universitas incaranku.
“Mumpung esih nang kene, ngko nek wis nang kana langka sing dodol mendoan kaya kiye” sanggah emakku yang mulai tua
Bukannya aku tak bersyukur pada apa yang ada. Sebagai anak dari keluarga kurang beruntung aku selalu diajari untuk selalu bersyukur. Kata emakku masih banyak anak diluar sana yang jauh lebih kasihan dariku. Lihatlah korban tsunami, korban perang yang sudah tak punya rumah bahkan ayah dan ibu.
“Lan, ngesuk ko mangkat, ngati-ngati nang dalan, nang kana kudu priatin, aja gawe susah Lik Tarno, sholat aja kelalen”
Buyar gambaran mendoan dan nasi dipiring. Tempe berselimut tepung itu tertutup oleh air mataku. Aku semakin menduduk saat emak mengucapkan nasihatnya. Aku tak berani mengangkat muka, bersuara pun tidak. Aku menahan tangis dalam diam dan tundukan kepala.
***
Aku benci melihat mendoan. Sebagai anak penjual mendoan dan nasi rames aku harus melihatnya setiap hari. Mau tak mau aku pun harus bergulat dengan tempe, tepung, daun bawang dan bumbu lainnya. Saat  lulus SD aku sudah hapal diluar kepala berapa takaran yang pas untuk membuat mendoan. Saat  lulus SMP aku memasukan mendoan dalam daftar makanan yang tak kusuka. Saat lulus SMA aku makin berharap tak pernah lagi melihat mendoan.
Ada sebuah kalimat matematika yang dulu kupelajari di SMP. Awalnya dari dua kalimat. Pertama : aku membenci mendoan. Kedua : aku belajar dengan giat agar bisa kuliah. Kenapa seperti itu? Aku selalu berharap nantinya seorang sarjana akan mendapat pekerjaan yang baik. Tidak seperti emakku yang hanya lulusan SD dan mendapat pekerjaan sebagai penjual mendoan dan nasi rames. ‘Aku membenci mendoan maka aku belajar dengan giat agar bisa kuliah’ itulah kalimat favoritku.
“Mak, nang ngapa dodol mendoan, kan mbiyen bisa mlebu PT rambut kaya bu Irah” pernah kutanyakan disuatu pagi
“Lha aku ra senang nang PT, diomehi terus nang mistere. Dela dela salah, kaya kiye salah, digawe kaya kae esih diumpa-umpa” jawabnya sambil memasukkan irisan daun bawang dalam adonan mendoan.
“Mulane ko kudu sinau sing bener, aja mung hapean, apa maning pacaran. Lagi mangsane sinau ya sinau, sekolah sing duwur ben bisa olih gawean sing kepenak.”
Suara tempe berbalut adonan masuk dalam minyak yang panas kini membaur dalam ruangan tempat berjualan. Sebuah nasihat yang biasa kudengar terlontar bersama kegiatan yang biasa kujalani. Dalam hati pun semakin menguat, aku tidak mau hidup bersama mendoan-mendoan ini.
***
Karena itu aku memilih Jogja, kota dimana tak kutemui mendoan lagi. Meski ada gorengan tempe dikota ini. Namun makanan ini sangat berbeda dengan mendoan yang dijual emakku. Disini panganan itu digoreng lebih lama dan menyebabkan rasanya lebih garing.
Bila diselidiki dari arti katanya, mendoan itu berasal dari kata mendo yang berarti setengah matang. Memang sengaja digoreng setengah matang dimana tempe berbalut adonan itu belum memasuki tahap kering, crispy atau garing.
Tempe lentreng yang tipis dicelupkan dalam adonan tepung terigu, tepung beras, daun bawang dan bumbu halus (terdiri dari bawang putih, ketumbar, garam) serta air agar semua tercampur rata. Tempe akan digoreng saat minyak yang banyak dalam wajan benar-benar sudah panas. Biasanya tempe diletakkan dipinggir wajan persis diatas minyak, bukan langsung dimasukan kedalam minyak. Dengan perlahan tempe mulai dimasukkan dalam genangan minyak dan digoreng hingga setengah matang.
Hingga aku hampir lulus dari kuliah informatika ini aku belum pernah mendapatkan sebuah warung yang menjual mendoan di Jogja. Yang sering kutemui hanyalah gorengan tempe yang mirip dengan mendoan.
Aku menyadari karena lama tidak bertemu terkadang aku ingin memakan sepotong mendoan. Dan kian hari, rasa kebencianku mulai terkikis dan kini tergantikan rasa rindu. Mungkinkah rasa benci berubah menjadi rasa cinta? Tanyakan itu pada para pujangga saja.
***
Terlambat.
Kereta yang seharusnya sudah membawaku pulang ke Purbalingga terlambat dua jam. Penyebabnya adanya kecelakaan mobil yang nekad melintas direl kereta dan akhirnya tersambar kereta yang lewat.
Terlambat.
Waktu dua jam yang tersia-sia menyebabkan aku terlambat pulang. Sungguh keterlambatan yang tak pernah kuinginkan.
***
“Lan, posisi lagi nang ngendi. Jere arep bali siki?” pertanyaan dari Mas Rio langsung terdengar begitu hpku kunyalakan.
“Iya mas, ini masih dijalan, setengah jam lagi nyampe stasiun. Tumben telpon, mau dijemput ya?” jawabku sambil tersenyum senang.
“Oke tak jemput distasiun.” Klik. Telepon disebrang sana ditutup. Tanpa penjelasan lebih lanjut. Tanpa firasat apapun. Hanya ada kerinduan terhadap mendoan emak yang dulu kubenci.
Aku memang tak begitu merindukan emak. Karena seminggu yang lalu, beliau telah datang ke Jogja untuk menghadiri wisudaku. Aku tak bisa pulang bersama emak, karena harus mengurus ini itu dulu. Nah baru hari ini aku pulang setelah 4 tahun menempuh kuliah di kota Budaya tersebut.
Dalam acara wisuda Emak makin terlihat berumur. Garis-garis tipis semakin jelas terlihat diwajahnya, belum lagi rambutnya yang beruban. Badannya mulai menyusut, terlihat semakin kurus saja emakku itu. Meski ia masih bertenaga sama seperti dulu. Sungguh waktu 4 tahun telah menjauhkanku dari proses kehidupan emak.
***
Kartini. 54tahun. Kaligondang, RT08/II. Serangan Jantung.
Kata-kata itulah kini masih saja kubaca. Formulir resmi dari rumah sakit masih tergenggam erat ditanganku yang mulai gemetar. Seakan ada gempa hebat dalam duniaku, kurasakan goncangan yang luar biasa. Seakan langit runtuh, kurasakan duniaku mulai porak poranda. Tak kutemukan lagi alasan untuk tak mengeluarkan air mata. Semakin lama semakin deras tak terkendali.
Entah butuh berapa menit aku bisa merasakan sekelilingku. Perlahan kurasakan Mas Rio mengelus rambutku. Perlahan pula kutemukan diriku yang kini masih dalam mobil Mas Rio. Entah apa yang dikatakannya, aku tak mampu mendengarnya dengan jelas. Yang jelas ia menjemputku di stasiun dan memberikan kejutan yang tak pernah kubayangkan.
Serangan jantung. Dari pernyataan Mas Rio yang kebetulan perawat, dapat disimpulkan bahwa emak sudah menderita sakit jantung. Namun dia tak menyadari dan menganggapnya sekedar masuk angin biasa. Hanya itu yang bisa kuterima. Sementara Mas Rio menjelaskan apa itu angin duduk dan tetek bengeknya aku sibuk menjelaskan pada hatiku kejadian macam apa ini.
“Emak sangat bangga padamu Lan. Kemarin saat aku bertemu dengan emakmu dia terlihat sangat senang. Sebentar lagi anak semata wayangnya yang sudah lulus kuliah akan pulang” cerita Mas Rio “Ia juga berkata kalau kau sudah merindukan mendoan buatannya” Kulihat Mas Rio mencoba untuk tersenyum, namun yang ada hanya sebuah lengkungan bibir yang dipaksakan.
‘Lupakan soal mendoan mas, emakku lebih kurindukan saat ini’ teriak hatiku. Namun sayang teriakan itu hanya menggema dalam pikiranku.
***
“Sengaja dilewihi ngo ko Lan” kata Ni Kani menyorongkan sepiring mendoan.
Pemakaman sudah selesai dua jam lalu. Para pelayat perlahan berkurang. Kalau pun ada hanya sanak saudara atau teman dekat emak. Mungkin juga karena gerimis, menjadikan para tetangga yang jauh menunda takziahnya. Gerimis hari ini, tepat diawal bulan Oktober sepertinya menyiratkan suasana hari ini.
Ni Kani, nenek berumur 80 tahun yang masih setia membantu Emak. Rumahnya persis didepan rumahku, selain itu dia juga tinggal sebatang kara. Ni Kani menceritakan kejadiannya secara lengkap. Dari mulai pagi tadi, saat emakku seperti biasanya menggoreng dan melayani para pembeli. Hingga celoteh emakku tentang aku, Wulan anak semata wayangnya akan pulang hari ini. Hingga kemudian ia merasakan sakit didadanya.
“Kabeh wis ana sing ngatur Lan. Pati urip rahasiane Gusti Allah. Manungsa mung bisa nglakoni apa sing wis digarisna” suara Ni Kani terdengar lirih namun teramat menggetarkan hatiku.
Tak kudengar lagi kelanjutan ucapan Ni Kani. Meski aku hanya sedang menatap sepiring mendoan itu. Namun telinga dan pikiranku tak berada disamping Ni Kani. Aku terlalu sibuk dengan kenangan yang semakin bermunculan. Kenangan tentang aku, emak dan mendoan. Dan air mata yang mulai mengaburkan sepiring mendoan itu.
Kulihat ada 5 mendoan yang tertumpuk dalam piring didepanku. Tempe lentreng berbalut tepung dan daun bawang. Lengkap dengan cabai rawit yang hijau sebagai pendampingnya. Mendoan khas emakku yang selama ini kurindukan.
“Mendoan maning, mendoan maning” terdengar olehku suaraku sendiri. Sementara masih kulihat diatas piring, mendoan-mendoan itu perlahan bangkit, melambai-lambai padaku seakan memanggil. Mendoan yang dulu kubenci namun kini kurindukan. Mendoan yang telah menghidupiku hingga bisa kuliah. Mendoan itu semakin mengejekku yang semakin tenggelam dalam isak tangis.

**TAMAT**

Cerpen ini juga dikirimkan untuk mendaftar Kelas Menulis Purbalingga Angkatan V.  Yang gak paham bahasa ngapak Purbalingga silahkan ditanyakan pada Mbah Google..


Minggu, 14 Desember 2014

Dalam Mangkok Bakso


Bakso ...
Siapa yang tak mengenalnya
Dari ujung barat hingga timur
Dari Malang hingga Jerman
Meski dalam nama, bentuk, dan rasa yang lain

Sebagai dasar, terisi sepotong mie yang panjang
Orang Cina berkata, mie adalah harapan untuk berumur panjang
Kemudian beradu dengan hijaunya daun cesim
Perlu ditambah irisan kecil daun seledri atau ketimun
Jangan lupakan garam, bila perlu penyedap makanan
Bawang goreng pun menjadi pelengkap yang khas
Dan sang inti adalah beberapa bulatan daging giling dan bumbu rahasia
Saat itulah kuah kaldu kan disiramkan

Yang ditunggu telah datang
Seporsi bakso, lengkap dengan kecap, saos dan sambal
Ada pula kerupuk, kacang, tahu hingga ketupat
Tak ketinggalan segelas es teh, es jeruk pun tak masalah

Terserah pada anda segala takaran itu
Berapa banyak sambalnya
Berapa sedikit kecapnya
Bahkan bisa tanpa mereka semua

Sejatinya peracik bakso adalah penjualnya
Tapi soal rasa, tetap kita penguasanya
Tak peduli pada hari yang panas, atau hujan yang lebat
Seporsi bakso tetaplah menjadi teman yang setia...

Selamat makan siang (walau sudah terlambat..)

Rabu, 10 Desember 2014

Senja


Putaran hari belumlah diujung
Ketika matahari kian condong dalam langit barat
Saat para pekerja telah lelah dengan kebosanan yang berat
Dan burung pun ikut pulang ke pohon yang rindang

Untunglah hujan tak lagi mengguyur
Seperti hari kemarin, dimana hujan membasahi aspal
Dan mereka sibuk dengan mantel dan payung
Sementara kini, sore yang cerah, angin berhembus pelan
 
Senja belumlah dimulai sepenuhnya
Mungkin masih dua jam lagi ketika jingga merajai langit barat
Sementara dibagian timur hanya tersisa langit biru dengan awan putih
Kemudian berpadu dengan alunan doa suci
 
Senja kali ini tak seindah lukisan
Bukan pula seperti dalam foto seorang penjelajah
Senja ini hanyalah senja biasa,
Seperti hari yang berlalu dengan biasa saja

Selasa, 09 Desember 2014

Hujan


Waktu telah menunjuk pada angka 4
Dan hari telah beranjak pada sore
Saat matahari harusnya bersinar dari barat
Dan para manusia berpulang dari pekerjaannya

Kucium aroma tanah satu jam yang lalu
Saat rintik hujan pertama menyentuhnya
Debu dan pasir segera menguap
Menghilang bersama datangnya hujan

Lalu lalang jalanan masih terasa sama
Seperti hujan ini yang masih turun
Kulihat mahluk besi berebut tempat diatas aspal
Beradu cepat dan menghindar dari kubangan air

Seekor cicak mendekati lampu, berharap ada sedikit kehangatan
Sementara diluar, daun pohon bergoyang tertiup angin, dingin

Hujan seakan berhenti, rintik tak lagi turun
Tergantikan angin yang makin meniupkan dedaunan
Sementara penjual es buah sibuk menutup lapaknya
Begitu pula hujan, akankah dia sibuk mengakhiri perjalanannya?
Hanya hujanlah yang dapat menjawabnya..

Sabtu, 27 September 2014

(BUKAN) Resensi Ronggeng Dukuh Paruk

Penulis           : Ahmad Tohari
Kota Terbit    : Jakarta
Tahun Terbit : 2011 (cetakan kedelapan)
Penerbit        : PT Gramedia Pustaka Utama
Halaman       : 408 halaman
Siapa yang tak mengenal Ahmad Tohari, seorang penulis dengan puluhan judul yang telah dikenal di negeri ini. Salah satu yang paling dikenal adalah Ronggeng Dukuh Paruk. Tak hanya bertutur tentang romantisme percintaan manusia, tetapi juga tentang budaya Ronggeng,  tentang Dukuh Paruk mulai dari pendirinya, orang-orangnya, suasana dan kondisi pedukuhan, bahkan bercerita tentang kelamnya pengkhianatan yang mengatasnamakan komunisme.
Buku yang merupakan cetakan kedalapan ini merupakan penyatuan trilogy dari Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari, Jentera Bianglala yang dulu terbit terpisah. Juga terdapat bagian yang 22 tahun disensor karena tidak adanya kebebasan dalam menyuarakan suara terhadap politik dan pemerintah.

Ronggeng Dukuh Paruk
Bercerita dari sudut pemikiran Rasus, perjaka Dukuh Paruk yang yatim piatu karena malapetaka brongkek. Ia berteman dengan Srintil, yang suatu ketika memintanya menirukan suara gamelan dan Srintil dengan luwesnya menari dan menyanyi seperti Ronggeng yang tengah pentas. Adalah Santayib dan istrinya, yang merupakan orang tua Srintil, merupakan pembuat tempe brongkek di Dukuh Paruk. Dan suatu masa terjadilah geger racun bongkrek karena tercampurnya racun asam tembaga dari peralatan yang digunakan hingga tumbuh bersama bongkrek tersebut. Tak hanya orang tua Rasus yang meninggal, tetapi juga orang tua Srintil dan puluhan orang Dukuh Paruk lainnya. Tahun telah berlalu dan berganti, Srintil yang merupakan anak Santayib, merasa harus menjadi Ronggeng, karena Dukuh Paruk tanpa Ronggeng merasa hampa dan tak hidup.
Sebagai teman sepermainan Rasus kini menyadari akan kehilangan Srintil yang bermimpi menjadi Ronggeng. Ia tersadar akan kehilangan Srintil karena Ronggeng adalah milik Dukuh Paruk. Namun ia tetap membantu Srintil menjadi Ronggeng, dari pemandian di makan Ki Secamenggala, memberikan keris pusaka Kyai Jaran Guyang, hingga menemaninya dalam bukak klambu. Srintil sah menjadi Ronggeng (meski keperawanannya diberikan pada Rasus) dan Rasus pergi karena tak bisa melihat Srintil dimiliki oleh Dukuh Paruk dan lelaki yang datang padanya.
Ronggeng tak hanya menari, ia harus menerima dan melayani setiap lelaki yang datang padanya. Dan Rasus tak bisa membayangkan Srintil diperlakukan oleh ribuan lelaki, oleh karena itu ia pergi melarikan diri. Meski hanya sejauh Pasar Dawuhan, yang terpisahkan oleh bulak sawah yang panjang. Rasus tetap tak bisa menerima Srintil sebagai Ronggeng, meski Rasus dan Srintil bertemu di Pasar Dawuhan. Sebuah takdir menemukan Rasus pada Sersan Slamet. Dan karenanya, ia kini menjadi tobang yang melayani para tentara di Dawuhan. Menulis, membaca dan merakit senjata adalah salah satu pelajaran dari Sersan Slamet.
Suatu hari perampok datang ke Dukuh Paruk, harta Srintil adalah satu-satunya perampok itu nekat pergi ke pedukuhan yang sepi. Dan Rasus bersama tentara pimpinan Sersan Slamet berhasil mengepung para perampok. Sebuah kematian pertama dan kebanggaan yang dirasakan Rasus, Dukuh Paruk telah melihat anaknya berubah menjadi seorang tentara yang membanggakan. Dan Srintil menyadari kini Rasus telah berubah, dan hatinya sangat mengharapkan ia bisa menjadi pendamping bagi Rasus. Tetap dengan pendiriannya Rasus melangkah pergi, meninggalkan Srintil yang dicintai, meninggalkan Srintil yang masing Ronggeng, meninggalkan Dukuh Paruk, tanah lahirnya.

Lintang Kemukus Dini Hari
Kisah bergulir dari sudut pandang Srintil. Menyadari Rasus pergi meninggalkannya, hati Srintil tidak bisa menerima. Ia mulai menyadari bahwa Ronggeng dan dunia lelakilah yang membuatnya terpisah dari Rasus. Semangat hidupnya meredup, menolak Marsusi pengawas hutan WanaKeling, pergi menyusul ke Pasar Dawuhan, berhari-hari mengurung diri didalam kamarnya. Hanya Goder yang mampu membuat ia tersenyum, dari mata Goder lah Srintil menemukan dunia yang masih jernih, tanpa masalah kehidupan yang sukar diurai seperti dirinya. Dan sejak Goder dalam pangkuannya, Srintil mulai menampik lelaki yang datang, ia bertekad akan berubah menjadi perempuan sejati. Namun, indang (jiwa) Ronggeng masih berada dalam tubuh Srintil, dan itu tidak bisa ditepisnya. Dan Srintil memutuskan hanya untuk menjadi Ronggeng yang menari, hanya menari diatas pentas. Dan Marsusi yang sakit hati atas penolakan Srintil mencoba membalas dendam. Membawa jimat dari dukun Segara Anakan, ia mengacaukan pementasan Srintil pada acara 17 Agustus di Dawuhan. Namun berkat Kartareja, Marsusi sadar dan mengakhiri perbuatannya, mereka sama-sama tertawa melihat Srintil yang mulai kembali menari.
Menjadi gowok adalah pengalaman yang baru bagi Srintil, Nyai Kartareja mengatakan inilah pembalasan Srintil saat dulu menjalani bukak klambu. Gowok adalah tradisi AlasWangkal, dimana seorang perjaka dilatih untuk siap dalam menjalani sebuah kehidupan suami-istri. Meski sudah berjanji akan tidak melayani lelaki lain, namun Srintil bertekad membantu Waras, perjaka yang masih anak-anak. Upaya Srintil tak berhasil, ia hanya menyadari bahwa Waras tidaklah seperti lelaki yang sering dijumpainya, Waras tidak dapat mengikuti kodratnya sebagai seorang lelaki.
Ketika komunis mulai ramai di Indonesia, komunis bahkan bisa menyusup ke Dukuh Paruk yang terpencil. Melalui Pak Bakar, antek komunis yang membawa Srintil dan grup Ronggeng Dukuh Paruk dalam pementasan seni yang mengatas namakan kesenian rakyat. Kericuhan mulai terjadi, makam Ki Secamenggala dibakar, orang-orang yang ikut dalam Ronggeng dicari oleh polisi, dan berakhir pada penahanan Srintil, Ronggeng Dukuh Paruk yang akhirnya dipenjara. Dan Dukuh Paruk kembali berduka, dari segala kedunguan mereka, Dukuh Paruk dipersalahkan karena mengikuti komunis yang bahkan tak mereka tahu apa arti dari komunis. Dukuh Paruk yang malang.

Jantera Bianglala
Musim telah berganti, tahun terus berputar. Dan Srintil masih mendekam dipenjara. Rasus yang merupakan tentara kebanggaan Dukuh Paruk tak sanggup tuk membebaskannya, ia bahkan tak bisa mengucap satu kata pun saat menjenguk Srintil. Nasib Srintil kian merana, ia menjadi wanita bagi para petinggi dipenjara yang menginginkannya. Meski akhirnya Srintil dibebaskan, tapi ada sebagian jiwa Srintil yang tetaplah terpenjara. Ia menangis ketika pertama kali menginjakkan kakinya di Dukuh Paruk, tak kuasa air matanya mengalir melihat tanah kelahirannya kini hancur akibat malapetaka komunisme.
Srintil telah kembali, Sakaraya kakeknya bisa bernafas lega karena bila ia meninggal cucunya bisa melihatnya pergi. namun Srintil bukanlah Srintil yang dulu, hidupnya penuh dengan ketakutan, ia membungkam saat ditanya pengalaman dipenjara, ia harus lapor rutin pada penjara, dan harus menundukan kepala sekaan melihat dunia akan membunuhnya.  Ditengah perjuangannya masih saja Srintil dicoba dengan ulah Marsusi yang mengajaknya ke WanaKeling, namun sang Kuasa masih memberikan pertolongan padanya.
Seiring waktu yang berjalan, kemajuan pun mulai menghampiri Dukuh Paruk. Sejumlah pembangunan irigasi sawah Dukuh Paruk membawa sejumlah orang dari Jakarta. Termasuk Bajus, yang bersikap sopan, baik dan menarik perhatian Srintil. Disaat hati Srintil mulai berkembang akan Bajus, Rasus kembali pulang ke Dukuh Paruk. Meski Srintil masih mengharap Rasus, tetapi ia menyadari ia adalah bekas tahanan yang mungkin tak akan pantas dengan seorang tentara seperti Rasus. Dan Rasus memberi pesan yang indah, ia akan merelakan Srintil hanya untuk lelaki yang baik, lelaki yang mengharapkan Srintil menjadi istrinya. Dan bila Srintil tidak menemukan lelaki tersebut, maka Rasus akan kembali kepadanya.
Dengan segala pesona dari Bajus, membantu Srintil membangun rumah, mengajaknya liburan kepantai, dan segala sikap yang sopan membuat Srintil menaruh harap padanya. Srintil berharap ia bisa menjadi istri bagi Bajus, bahkan tak  mengapa bila hanya menjadi istri kedua. Namun ternyata Bajus adalah lelaki peluh, lelaki pengecut yang memperdaya Srintil. Ia bahkan menjual Srintil pada Blengur, bosnya yang merupakan lelaki petualang. Untunglah Blengur mampu melihat keinginan Srintil yang berharap menjadi wanita baik-baik. Namun semua terlambat, ulah Bajus tersebut membuat Srintil merasakan kematian jiwanya. Jiwanya telah pergi, meninggalkan raganya yang tak perdaya. Akal sehatnya entah kemana meninggalkan badannya yang semakin kurus.
Rasus pulang dari pengabdiannya di Kalimantan, ia berpikir ia bukanlah prajurit  yang sesungguhnya. Ia berpikir ia tak kan sanggup melihat sebuah kematian karena senjatanya. Rasus pun berharap akan Srintil, tak mengapa bila ia sudah menjadi istri orang, asalkan bukan lagi seorang Ronggeng. Namun semuanya sudah terlambat.
Rasus melihat Srintil telah tak berjiwa, ia melihat Dukuh Paruk yang dungu dan terbelakang. Dan Rasus pun menyadari bahwa ialah yang sanggup mengubah semuanya. Mengubah Dukuh Paruk.
 
Penilaian pribadi
Saat membaca novel ini, seakan kita berada di Dukuh Paruk. Ahmad Tohari benar-benar mampu menuliskan pedukuhan Dukuh Paruk dengan kemaraunya, keterbelakangan mereka, bahkan hingga tingkah bunglon pun terasa nyata. Novel yang mengajarkan kita pada budaya, adat, lingkungan dan perasaan dari kehidupan manusia.